Salam Tribun

Elegi Elpiji

SEJAK hadir di Indonesia pada 2010, elpiji ukuran 3 kg atau biasa disebut gas melon memang tak pernah sepi dari ‘peristiwa’.

TRIBUN KALTIM/NEVRIANTO HARDI PRASETYO
Dua orang petugas sedang menurunkan tabung elpiji dari truk di Kota Samarinda, Kalimantan Timur. 

Trinilo Umardini
treumardini@gmail.com

SEJAK hadir di Indonesia pada 2010, elpiji ukuran 3 kg atau biasa disebut gas melon memang tak pernah sepi dari ‘peristiwa’.

Kebijakan Pemerintah untuk program konversi menggantikan minyak tanah dengan Liquefied Petroleum Gas (LPG) --yang selanjutnya lebih enak disebut elpiji --sebagai bahan bakar rumah tangga mulai diterapkan berdasarkan Perpres No. 104 Tahun 2007.

Kebijakan tersebut bertujuan mengurangi subsidi energi, yaitu konversi minyak tanah bersubsidi ke elpiji 3 kg. Butuh sosialisasi panjang agar masyarakat kelas menengah ke bawah yang terbiasa memasak dengan kompor minyak tanah atau kayu bakar pindah ke elpiji 3 kg.

Perlahan, masyarakat mulai tune in menggunakan epliji melon lantaran harganya relatif murah ketimbang minyak tanah. Daya panasnya lebih tinggi sehingga memasak lebih cepat matang dan hemat waktu; juga ramah lingkungan yang membuat dapur tetap bersih tak berjelaga atau berminyak.


TRIBUN KALTIM/DOK -- Trinilo Umardini

Masa peralihan itu tak berjalan mulus dengan beberapa insiden tabung meledak hingga mengakibatkan korban jiwa. Masyarakat pun bertanya, mengapa sangat berbahaya sekali menggunakan elpiji 3 kg? Apa karena tabungnya gratis dan isi ulangnya murah untuk masyarakat menengah ke bawah makanya faktor keamanan diabaikan?

Jalan menggunakan elpiji belum juga lancar. Di tengah kenikmatan mengonsumsi ‘si melon’, tiba-tiba saja elpiji 3 kg susah dicari di pasaran. Warga harus antre berjam-jam bahkan sampai mengular untuk mendapatkan elpiji.

Ibu-ibu rumah tangga harus menggotong-gotong tabung gas kosong seberat lima kg! Kalaupun dapat, harganya melangit, seperti tidak disubsidi pemerintah saja. Jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan.


TRIBUN KALTIM/FACHMI RACHMAN -- Antrean warga untuk membeli isi tabung gas melon.

Dan kini, sebenarnya bukan berita baru tapi happening kembali di Provinsi Kalimantan Timur. Masyarakat mengeluh isi tabung gas baik yang ukuran 12 kg maupun tabung melon berkurang.

Konsumen pernah meminta Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) ataupun pihak terkait agar dapat memeriksa isi tabung elpiji 12 kg yang dijual di salah satu SPBU lantaran isinya berkurang. Polisi juga diharapkan bisa membongkar ‘mafia’ pengoplos elpiji.

Baca: Disperindagkop Ajak Pertamina Sidak Gas Melon Bareng

Sebenarnya kasus pengurangan atau pengoplosan isi tabung gas melon tak hanya terjadi di provinsi ini. Hampir di sebagian wilayah Indonesia konsumen pernah mengeluhkan hal yang sama.

Dari sisi Pertamina sendiri mengungkapkan, setiap agen atau SPBU resmi harus menyediakan timbangan, yang fungsinya bagi konsumen ketika membeli bisa terlebih dahulu periksa berat tabung.

Masyarakat juga diminta untuk tidak membeli gas di pengecer atau tempat penjualan tak resmi. Konsumen diminta lebih cermat dan teliti sebelum membeli, periksa juga segelnya. Bahkan Pertamina memberikan nomor call centre yang dapat dihubungi sewaktu-waktu dan ditindaklanjuti.

Baca: Bagaimana Mau Milih, Baru Antre Saja, Gas Sudah Ludes

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved