SALAM TRIBUN
Kereta Api
Kita berharap Pemprov tidak menjadi silau dengan investasi besar yang masuk. Jalur kereta api berikut coal stockpile di pelabuhan-pelabuhan besar...
SALAM TRIBUN
Kereta Api
Oleh ACHMAD BINTORO
//Naik kereta api/Tut... tut... tut.../Siapa hendak turut/Ke Bandung...Surabaya/Bolehlah naik kereta dengan percuma/Ayo temanku lekas naik/Keretaku tak berhenti lama//
Siapa yang tak hapal dengan lagu anak-anak ciptaan Ibu Sud ini? Tapi, berapa anak-anak kita di Kaltim yang pernah melihatnya langsung, pastilah hanya sebagian kecil. Sabar, empat-lima tahun lagi, kita pun akan dapat melihatnya tidak sebatas hanya di layar kaca. Kita akan menyaksikan sosok angkutan massal itu dari dekat, bahkan menaikinya, seperti saudara-saudara kita yang tinggal di pulau Jawa dan Sumatra.
Hari ini, Kamis (19/11/2015) Presiden Jokowi akan melakukan groundbreaking pembangunan rel kereta api yang didanai investor Rusia, Russian Railways. Jalurnya dari Kutai Barat ke Kawasan Industri Kariangu (KIK) Balikpapan dan Buluminung di Penajam Paser Utara sepanjang 203 kilometer dengan investasi USD 2,2 miliar atau Rp 30,8 triliun. Jalur kedua dari Tabang di Kukar menju Lubuk Tutung di Kawasan Ekonomi Khusus Maloy (Kutim) sepanjang 195 kilometer dengan investasi USD 1,5 miliar atau sekitar Rp 21 triliun. Ini adalah bagian dari total investasi besar yang digelontorkan Rusian Railways ke Kaltim sebesar USD 5,628 atau sekitar Rp 72 triliun.
Baca: Suara dari Talisayan
Ya, Gubernur Awang Faroek Ishak barangkali orang yang paling berbahagia hari ini. Kali pertama dalam sejarah Kalimantan, dan itu di era kepemimpinannya, akan ada kereta api. Patutlah kita mengapresiasi langkah besar ini. Seperti beberapa kali ia nyatakan kepada media, usaha keras dan lobinya selama ini, termasuk dengan berkunjung ke Rusia, akhirnya membuahkan hasil. Ia berhasil bernegosiasi dengan Russian Railways, agar rel itu nanti tak hanya mengangkut batubara dan sawit, tapi juga untuk penumpang. Ia sekalian menepis tudingan mengenai keberangkatannya ke negeri Beruang Merah pada 12-22 September 2015 lalu itu sebagai plesiran.
Tapi kita tahu proyek ini tidaklah serta merta hadir. Bukan berawal dari kunjungan Gubernur Awang Faroek bersama 12 kepala SKPD-nya lalu tiba-tiba Rusia menggelontorkan dananya. Bukan. Proyek ini dirintis saat Presiden SBY berkunjung ke Moscow, 1 Desember 2006, yang menghasilkan joint agreement antardua negara. Berlanjut saat Presiden Rusia Vladimir Putin mengunjungi Jakarta, 6 September 2007, kemudian diikuti dengan penekenan nota kerjasama oleh Pemprov Kaltim dan Russian Railways pada 2012.
Baca: Sangkulirang
Pemprov tentu berharap masuknya investasi besar ini sekaligus akan mampu menyelamatkan pertumbuhan ekonomi Kaltim yang beberapa tahun ini tertatih-tatih. Kita tahu hanya di awal pemerintahannya saja Gubernur Awang Faroek Ishak pernah mencatatkan pertumbuhan di atas empat persen. Setelah itu terus merosot di kisaran 1,5 persen. Jauh di bawah pertumbuhan nasional. Bahkan terendah di seluruh Kalimantan.
Data Bank Indonesia menyebut, pada triwulan pertama 2015, ekonomi Kaltim menukik dari 3,8 persen menjadi -1,3 persen. Pertumbuhan demikian jauh lebih rendah dibandingkan angka nasional yang sebesar 4,7 persen. Banyak yang terhenyak, provinsi kaya sumberdaya alam ini ternyata begitu mudah jeblok pertumbuhannya. Kekuatan ekonomi yang dulu perkasa itu seperti tersapu oleh angin. Hingga satu dekade lalu, Kaltim selalu bertengger di papan atas, di atas rerata nasional. Mencapai pertumbuhan enam-tujuh bahkan delapan persen bisa dilakukan dengan tutup mata. Tapi kini di posisi buncit.
Jauh sebelum ini terjadi sebenarnya sudah banyak yang mengingatkan. Hati-hati lho, jangan mabuk dengan kekayaan sumberdaya alam. Yang namanya pesta, pasti akan ada akhirnya. Jangan kuras habis apa yang tersimpan di dalam perut bumi maupun di atas permukaan tanah. Jangan ekspor mentah-mentah semua yang kita punya.
Baca: Kaltim Wow
Sisakan untuk anak cucu. Manfaatkan untuk membangun industri manufactur. Manfaatkan untuk melakukan transformasi ekonomi. Manfaatkan untuk memenuhi kebutuhan dasar berupa listrik dan membenahi infrastruktur kita. Kini investasi dari Rusia sudah masuk. Rel kereta api akan segera dibangun. Tiga tahun lalu, Pemprov Kaltim juga sudah meneken MoU dengan investor asal Uni Emirat Arab, ras Al Khaimah untuk membangun rel kereta api sepanjang 135 kilometer dari Muara Wahau ke Bengalon di Kutai Timur. Itukah jawaban atas semua pertanyaan dan saran publik selama ini?
Toh masih muncul nada skeptis. Untuk siapa sebenarnya rel kereta api ini dibangun? Untuk rakyat atau pengusaha (asing)? Jangan-jangan adanya rel kereta api ini hanya akan memuluskan ekspor besar-besaran batubara dari seluruh wilayah Kaltim (dan Kalimantan? Harap dicatat, Gubernur Kalteng Teras Narang sejauh ini masih menolak) ke negara-negara lain. Mungkinkah sebuah kebetulan bahwa saat ini juga sudah masuk sebuah perusahaan tambang raksasa asal Inggris? Luasan konsesinya disebut-sebut tiga kali lipat dari yang dimiliki PT Kaltim Prima Coal (KPC), dan kini sedang eksplorasi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/achmad-bintoro_terbaru2_20150811_183947.jpg)