SALAM TRIBUN

Kota Jahat

NUR Kholis, Ketua Komisi Nasional HAM, mungkin sudah tak mampu lagi bermanis-manis kata. Bahasa hukum, formal dan resmi sudah ia lontarkan.

DOK TRIBUNKALTIM

SALAM TRIBUN

Kota Jahat

Oleh ACHMAD BINTORO

NUR Kholis, Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (HAM), mungkin sudah tak mampu lagi bermanis-manis kata. Bahasa hukum, formal dan resmi sudah ia lontarkan. Rekomendasi penutupan lubang-lubang bekas galian tambang di Samarinda yang merenggut 12 anak pun sudah ia keluarkan. Sedikit pun tak digubris.

Kematian demi kematian anak-anak itu agaknya masih belum mampu menggugah hati para penguasa dan pejabat terkait di kota ini. Harus dengan cara apa lagi? Tidak terbilang kecaman disampaikan. Sindiran melalui berbagai aksi teatrikal oleh sejumlah mahasiswa dan aktivis lingkungan jamak pula kita lihat.

Maka, bisalah dipahami kalau label "kota paling jahat HAM" itu yang kemudian keluar dari bibirnya.
"Ya, bisa saja, karena bisa kena dua perkara langsung. Menyebabkan 12 orang meninggal, dan semua korbannya anak-anak."

Baca: Suara dari Talisayan

Seorang Nur Kholis, Merah Johansyah, Carolus Tuah, Herdiansyah Hamzah, dan belasan aktivis lain ternyata bisa lebih mudah merasakan duka yang dialami keluarga korban. Pilu hati Kholis mendengar testimoni beberapa keluarga korban tambang dalam acara konsultasi publik "Rencana Aksi Nasional Bisnis dan HAM 2016" yang digelar Komnas HAM di Kantor Gubernur Kaltim, pekan lalu.

Ia mendengar suara Rahmawati yang bergetar. Rahmawati adalah ibu almarhum Muhammad Raihan Saputra, bocah 10 tahun yang kelelep di lubang bekas tambang batubara milik PT Graha Benua Etam di Sempaja Utara, Samarinda. Raihan korban kesembilan di kolam tambang. Kendati kejadian itu sudah setahun lalu, masih sulit baginya untuk menghilangkan duka itu.

Berbeda dengan keluarga korban yang lain, Ibunda Raihan sangat gigih memperjuangkan kasus yang menimpa anak keduanya itu untuk dibawa ke pengadilan. Ia mengadu ke Menteri Kehiutanan dan Lingkungan Hidup di Jakarta. Ia membuat petisi di Change.org.

Baca: Sangkulirang

"Agar tak ada lagi anak yang menjadi korban. Namun, ternyata berulang dan terus memakan korban." Beberapa kali, ibunda Raihan terdiam, ditengah kesaksiannya. Ia berusaha untuk tidak larut dalam kesedihan.

Lain lagi Mulyadi dan Muliana. Sopir taksi bersama istrinya ini tidak mampu berkata apa-apa. Baru tujuh hari anaknya, Aprilia Wulandari (13), dikubur. Wulan tenggelam di lubang tambang milik PT Transisi Energi Satunama (TES) di Lok Bahu, Sungai Kunjang. Ia korban tambang ke-12.

"Saya tidak kuat. Ini baru tujuh hari dimakamkan," kata Muliana sambil memeluk putra kecilnya, adik Wulan. Saat ditemukan, Wulan masih dengan baju seragam sekolahnya. "Dia itu anak rajin. Pulang sekolah biasa bantu jaga warung," kenang Muliana. Sejatinya, ia tak bisa berenang. Siang itu ia diajak kawan-kawannya berenang.

Baca: Mencintai Samarinda

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved