SALAM TRIBUN

Kota Jahat

NUR Kholis, Ketua Komisi Nasional HAM, mungkin sudah tak mampu lagi bermanis-manis kata. Bahasa hukum, formal dan resmi sudah ia lontarkan.

DOK TRIBUNKALTIM

Respon positip baru muncul setelah kota ini dipegang Meiliana, Pj Walikota Samarinda yang belum sepekan dilantik Gubernur Awang Faroek. Mei langsung bergerak ke lubang tambang di Lok Bahu, tempat Wulan meninggal. Berbeda dengan sidak pejabat-pejabat sebelumnya, Mei langsung memberi solusi konkret. Tanpa ragu, ia perintahkan PT TES menutup lubang-lubang tersebut.

Keberanian Mei patut kita apresiasi. Jika ketegasannya itu diteruskan pula terhadap puluhan lubang lain yang masih menganga di sekitar pemukiman, tentu duka para keluarga 12 korban akan sedikit terobati. Mereka akan tahu bahwa akhirnya ada penguasa kota ini yang mau mendengar jeritan hati rakyatnya. Mereka akhirnya tahu tidak semua aparat pemda itu "jahat" dengan membiarkan lubang- lubang tambang menjadi monster bagi anak-anak mereka.

Sebaliknya, terhadap sikap pimpinan DPRD Samarinda yang meragukan Pj Walikota, justru menjadi aneh. Apa yang sudah dilakukan mereka untuk membantu para korban dan mencegah agar tidak ada lagi korban lain berikutnya? Nyaris tidak pernah terlihat dan terdengar! Mereka diam dan diam saat warganya menangis, menjerit dan berteriak meminta keadilan.

Masalah ini memang tak cukup dicerna hanya dengan kemampuan pikir saja. Diperlukan kearifan untuk menggunakan rasa, hati, agar dapat menangkap kepiluan para keluarga korban. Olah pikir saja cenderung melihatnya hanya sebagai angka statistik. Alat untuk berkelit. Tameng pembenaran untuk melakukan pembiaran.

Baca: Kaltim Wow

Dalam statistik, jumlah 12 korban menjadi angka kecil karena mata pengambil kebijakan silau oleh angka-angka lain yang lebih besar. Yakni ratusan-ribuan tenaga kerja yang terserap, hingga besaran uang berputar dalam (rente) ekonomi tambang. Statistik tak pernah mampu menangkap kepedihan keluarga korban. Juga kegalauan para keluarga lainnya akan nasib anak-anak mereka yang bermukim tidak jauh dari lubang-lubang bekas galian tambang.

Jangan-jangan kita bahkan tak mampu menangkap makna "jahat" yang kini disematkan ke kota kita.(*)

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved