SALAM TRIBUN

Wajah Wakil Rakyat Kita

Sulitkah hidup sederhana di negeri ini? Ditengah suburnya hedonisme, kesederhanaan kini menjadi sesuatu yang langka.

DOK TRIBUNKALTIM

Wajah (Wakil) Rakyat Kita 
Oleh ACHMAD BINTORO

Sulitkah hidup sederhana di negeri ini? Ditengah suburnya hedonisme, kesederhanaan kini menjadi sesuatu yang langka.

Ia makin tergerus dalam keseharian kita oleh gaya hidup jor-joran rumah megah hingga mobil mewah yang jamak dipertontonkan sejumlah pejabat publik.

Rekaman percakapan Ketua DPR RI Setya Novanto bersama pengusaha Muhammad Riza Chalid dan Presdir Freeport Indonesia, Maroef Sjamsoeddin mempertegas betapa kesederhanaan itu telah lama musnah di tataran elite. Jabatan wakil rakyat lebih hanya menjadi alat untuk memperkaya diri.

Lihatlah, sudah mendapat kehormatan, tak terbilang pula harta kekayaan, masih saja ingin memiliki private jet, dengan jalan memburu rente. Maka obrolan semacam ini pun dianggap sebagai kelaziman oleh mereka: "Freeport jalan, Bapak itu happy, kita ikut happy, kumpul-kumpul, kita golf, kita beli private jet yang bagus dan representatif."

Sudah bergaji besar, fasilitas berjibun, dan hampir semua kebutuhannya dibayar dengan uang rakyat, tetap merengek-rengek minta uang harian diperbesar. Ini terjadi merata di pusat hingga daerah. Dari Senayan hingga Karang Paci.

Sementara rakyat dibiarkan berjuang sendiri mencari keadilan. Sudah 13 bocah yang tewas di kolam bekas galian tambang di Samarinda, dan tak sedikit pun mengusik hati para wakil kita. Mereka tetap hening.

Lain cerita ketika uang perjalanan dinas mereka terus dipangkas tinggal Rp 470 ribu per hari. Mereka pun lekas gaduh. Berteriak ke sana kemari. Tekor besar, kata mereka. Maklum, sebelumnya terbiasa dengan uang saku hingga Rp 2 juta per hari.

"Coba dihitung saja makan dua kali sehari berapa? Kan enggak mungkin kami makan di warung tegal," dalih Wakil Ketua DPRD DKI Mohammad Taufik. Astaga! Risihkah mereka berdesak dalam satu bangku dengan para pekerja dan kuli, rakyat kebanyakan, yang biasa bersantap di sana?

Rakyat hanya bisa mengelus dada. Sebab tangis dan teriakan pun acapkali tak terdengar oleh wakil-wakil mereka. Jarak di antara mereka terasa jauh, meski para wakil rakyat itu secara fisik berada di antara mereka.

Maka, maaf kalau hanya meme yang bisa diungkapkan. Salah satunya adalah meme bergambar lima pimpinan DPR RI, berjudul "Terimakasih rakyat telah mensejahterakan kami."

"DPR telah melaksanakan tugas-tugasnya sebagai wakil rakyat: Rakyat ingin hidup mewah, sudah diwakili mereka. Rakyat ingin dihormati, sudah diwakili mereka. Rakyat ingin tidur nyenyak dan makan enak, sudah diwakili mereka. Rakyat ingin jalan-jalanke luar negeri, sudah diwakili mereka."

Melihat semua kegaduhan ini, sungguh tiba-tiba kita rindu pada Bung Hatta. Rindu pada stelan jas putih dan pantalon putihnya, yang oleh penyair Taufuq Ismail disebutnya sebagai simbol perlawanan pada disain hedonisme dunia.

Kita menjadi ingat dengan kisahnya yang ingin memiliki sepatu Bally. Pada masa itu, tahun 1950-an, Bally adalah merek sepatu berkualitas tinggi. Karena itu harganya tentu tidak murah. Bertahun-tahun ia menabung tetap tak mampu terbeli. Tabungannya selalu terpakai untuk membantu keluarga atau orang lain yang lebih membutuhkan.

Yang mengharukan, guntingan iklan sepatu Bally itu masih tersimpan hingga ia wafat dan menjadi saksi bisu keinginan sederhana seorang Bung Hatta. Padahal, jika ingin memanfaatkan posisinya sebagai Wakil Presiden, sebenarnya sangatlah mudah baginya. Cukup ia menelpon para duta besar atau kawannya yang pengusaha.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved