Kamis, 9 April 2026

Krisis Air

Tidak Pernah Beli Air PDAM karena Terlalu Mahal

Sayangnya curah hujan berintensitas ringan dan sedang itu tidak berpengaruh banyak pada peningkatan cadangan air baku PDAM di Waduk Manggar.

TRIBUN KALTIM/MUHAMMAD AFRIDHO SEPTIAN
Sebuah mobil pikap pengangkut air bersih terparkir di depan sebuah rumah makan di Jalan Indrakilla Kampung Timur, Balikpapan, Jumat (22/1/2016). 

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Hujan masih mengguyur Kota Balikpapan.

Sayangnya curah hujan berintensitas ringan dan sedang itu tidak berpengaruh banyak pada peningkatan cadangan air baku PDAM di Waduk Manggar.

Hingga pekan ini ketinggian air turun ke posisi enam meter. Bagaimana respon masyarakat terutama kalangan pebisnis yang jenis usahanya sangat mengandalkan ketersediaan air bersih?

Risti masih terkenang kondisi suram usahanya ketika stok air bersih di rumahnya habis.

"Beberapa bulan lalu itu kami sempat tutup selama beberapa hari karena tidak memiliki stok air. Orang-orang yang kehabisan air untuk mencuci larinya kemari. Padahal kami juga tidak punya air. Makanya kami terpaksa tutup beberapa hari," ungkapnya kepada Tribunkaltim.co saat ditemui, Jumat (22/1/2016).

Risti, pebisnis laundry yang berlokasi di Jalan Indrakila Strat III ini mengakui di kawasannya memang sering mengalami kesulitan air. Untuk menyiasatinya ia telah membeli tandon berkapasitas 1200 liter.

Selain itu, ia juga sedang membangun bak-bak penampungan dalam tanah sebagai persiapan jika air di tandon habis.

Baca: Selain Waduk Manggar, PDAM Andalkan 22 Sumur Dalam

"Tempat kami kan banyak pakai air. Jadi memang harus siap-siap. Selain itu kami juga ada air dari sumur kalau memang terpaksa," ujarnya. Selain membuat sumur ia pun biasanya menampung air hujan jika sewaktu-waktu diperlukan tambahan air lagi.

Mengenai air baku PDAM di Waduk Manggar menyusut hingga 6 meter, ia mengaku sudah mengetahuinya. Namun ia berharap suplai air akan tetap lancar ke tempatnya.

Ia berharap PDAM memperbaiki kualitas layanannya dengan secara stabil mengalirkan air ke rumahnya. "Kalau bisa mengalir terus 24 jam. Kami kan tidak bisa beli air karena terlalu mahal kalau buat usaha," katanya.

Ia juga menginginkan agar air PDAM jangan sampai keruh. Jika dibandingkan dengan air sumur di sekitar rumahnya, air sumur masih memiliki kejernihan yang lebih baik daripada air PDAM.

Lain Risti, lain lagi Fatimah. Fatimah, pemilik Rumah Gudeg Jogja di Kampung Timur No 26, Balikpapan ini ketika diwawancarai mengatakan tidak mengetahui ketinggian air di Waduk Manggar hanya tinggal 6 meter.

Ia pun tidak begitu memperhatikan air di rumahnya. Sebab keran yang digunakan olehnya dan keluarganya sehari-hari tersambung ke tandon berkapasitas 1.200 liter di belakang rumahnya.

"Keran dari PDAM itu masuknya ke tandon. Jadi kita pakainya keran yang dari tandon itu. Bukan yang langsung dari PDAM," jelasnya.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved