Krisis Air
Tidak Pernah Beli Air PDAM karena Terlalu Mahal
Sayangnya curah hujan berintensitas ringan dan sedang itu tidak berpengaruh banyak pada peningkatan cadangan air baku PDAM di Waduk Manggar.
Fatimah juga tidak terlalu khawatir dengan ketinggian air di Waduk Manggar sebab warungnya sendiri tidak menggunakan banyak air untuk penggunaan sehari-harinya.
Baca: Musim Hujan tapi Waduk Tak Terisi, Warga pun Bangun Bak dalam Tanah
Ia hanya sempat mengeluhkan mahalnya tagihan air bulanan yang mencapai Rp 300 ribu per bulan.
"Tidak ganggu jualan kok. Soalnya tidak ada piring yang harus dicuci. Kami pakainya piring rotan yang dilapisi kertas pembungkus nasi. Jadi lebih hemat," ujarnya lagi.
Anaknya yang duduk di meja sebelah menimpali, kalaupun nanti terjadi krisis air di Balikpapan, ia berharap diberitahu terlebih dahulu agar dapat bersiap-siap.
"Kalau bisa diberitahu dulu sebelumnya. Jadi bisa siap-siap. Terus sebaiknya kalau ada krisis seperti itu pemerintah bisa beri subsidi air ke masyarakat. Biar kami tetap ada air," timpalnya.
Lalu untuk usaha rekreasi air seperti kolam renang, Adit, seorang pengawas di Griya Permata Asri Waterpark & Swimming Pool, mengatakan ketinggian waduk tidak akan berpengaruh terhadap usahanya.
"Kami pakai WTP (instalasi pengolahan air) milik perumahan. Jadi tinggal buka valve airnya langsung jalan," jelasnya.
Ia mengatakan, jika kolam menggunakan air dari PDAM maka biayanya akan terlalu mahal. Mungkin bisa sampai Rp 30 juta untuk mengisi semua kolam.
Biasanya, lanjut Adit, ketika hujan, mereka akan menampung air hujan tersebut untuk kemudian diproses secara kimiawi agar bersih dan jernih serta dapat digunakan sebagai stok tambahan air kolam. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/beli-air-tandon_20160123_143113.jpg)
