Layanan Dalam dan Luar Negeri
VIDEO - CBSC dan 221 Assist Siapkan Pesawat, Helikopter dan Ambulans Air
Comprehensive Brain and Spine Center (CBSC) Surabaya bekerja sama dengan 221 Assist menyiapkan pesawat, helikopter, boat untuk ambulans bagi pasien.
SAAT ini jarak bukan menjadi masalah bagi seorang pasien yang ingin mendapatkan perlayanan kesehatan yang lebih baik di luar daerah, dimanapun pasien tinggal. 221Assist sebuah lembaga jasa penyedia layanan ambulans udara yang siap menjemput dan mengantar pasien untuk berobat di rumah sakit dalam dan luar negeri.
Saat ini salah satu lembaga kesehatan yang melakukan kerja sama dengan penyedia jasa berkelas VVIP itu adalah Comprehensive Brain and Spine Centre (CBSC) Surabaya. Kerja sama antara CBSC dan 221 Assist, beberapa waktu lalu ketika menangan seorang pasien bernama Budi Harjo Daniel, 48, pasien dari Lombok.
gogle.com plus
221Assist memberikan jasa layanan anguta pasien mulai dari pesawat udara, helikopter, ambulans air ke semua wilayah di dalam maupun luar negeri.
Budi dari Lombok diangkut menggunakan pesawat jenis Fokker 50 sebagai ambulans udara dari 221Assist, pesawat langsung menuju Bandara Juanda Surabaya. Begitu roda pesawat menyentuh landasan, petugas handling malam itu, sudah siap langsung mendekat ke apron tempat pesawat akan berhenti.
Bersamaan dengan itu ambulans dari Rumah Sakit Bedah Surabaya (RSBS) stand by langsung merapat. Ketika pesawat berhenti sempurna dan pintu dibuka, tampak seorang pasien di atas tandu diturunkan secara perlahan.
Hanya dalam hitungan menit, pasien yang masih lengkap memakai bantuan pernapasan yang didampingi oleh tenaga medis serta keluarga itu dimasukkan ke dalam ambulance RSBS. Dengan cepat ambulans yang memiliki fasilitas VIP itu melaju kencang membelah kemacaten kota Surabaya.
CBSC
Pasien dari Lombok diangkut menggunakan pesawat Fokker-50 sebagai pesawat ambulans menuju ke Bandara Surabaya.
Setiba di RSBS, pasien langsung diterima oleh dr. Gigih Pramono, SpBS yang sejak awal sudah melakukan komunikasi dengan 221Assist yang mengangkut pasien dari Lombok. Setelah dilakukan pemeriksaan medis serta serah terima pasien yang dilakukan dalam waktu cepat, pasien langsung dimasukkan ke ruang ICU untuk dilakukan tindakan.
Pasien Budi Harjo Daniel (48), penderita stroke dari Lombok yang dirujuk ke RSBS menggunakan jasa air ambulance service 221Assist yang bekerja sama dengan Comprehensive Brain and Spine Centre Surabaya.
Berkat kecepatan penanganan tersebut, kini kondisi kesehatan Budi mengalami kemajuan luar biasa. “Saya bersyukur, dengan penangan yang begitu cepat dan bagus kesehatan saya mengalami perkembangan yang luar biasa,” kata Budi Harjo Daniel dengan wajah bahagia ketika ditemui di kamar VIP RSBS.
foto CBSC
Budi Harjo Daniel langsung dibawa ke UGD Rumah Sakit Bedah Surabaya (RSBS), mendapat penanganan doker ahli bedah saraf dan stroke dr Gigih Pramono, Sp.BS.
Menurut pengusaha otomotif tersebut, stroke yang menyerang dirinya terjadi saat dini hari. Begitu merasakan ada sesuatu yang tidak beres, seketika itu juga dia dibawa ke sebuah rumah sakit swasta di Lombok untuk mendapatkan perawatan.
Melihat kondisi fisiknya yang kurang baik, istrinya Ani Lindawati, mencari second opinion untuk mendapat perawatan yang lebih baik.
“Atas saran kenalan seorang dokter yang ada di Semarang saya diminta untuk membawa ke dr. M. Sofyanto, SpBS, yang ada di Surabaya,” tambah Budi yang sebenarnya berencana untuk dirujuk ke Singapura, namun diurungkan.
Dr M. Sofyanto, Sp.BS dan dr. Gigih Pramono, Sp.BS merupakan tim ahli yang mengelola lembaga pusat pelayanan kesehatan otak dan saraf surabaya atau disebut dengan Comprehensive Brain and Spine Center (CBSC) Surabaya.
FOTO CBSC
Inilah tim dokter ahli di Pusat Pelayanan Otak dan Saraf Lengkap Surabaya atau Comprehensive Brain and Spine Center (CBSC) Surabaya. (Kiri ke kanan) dr M Sofyanto, Sp.BS; dr. Gigih Pramono, Sp.BS; dr Bambang Kusnadi Sp.S; dr Agus Anab, Sp.BS; dr. dr Nadjiullah Budi Setiawan, Sp.BS.
Menurut Ani Lindawati, jelas tidak memungkinkan jika suaminya dibawa dengan pesawat komersial ke Surabaya, mengingat tensi Budi mencapai lebih dari 230.
“Dari sini (Lombok-red), suami saya diangkut menggunakan jasa ambulans udara dari 221Assist. Saya merasa puas dengan dokter RSBS yang menangani dengan cepat dan tepat, sehingga kondisi suami saya cepat stabil,” kata Ani yang juga merasa puas dengan layanan 221Assist.
Tanpa Operasi
Doker Gigih Pramono, SpBS, menjelaskan selama proses evaluasi 2 x 24 tersebut memang diketahui bahwa salah satu pembuluh darah pasien di otak pecah. Namun ia tidak melakukan operasi sebab masih bisa ditangani tanpa proses pembedahan. Karena selain tingkat kesadarannya masih tinggi, gumpalan darahnya juga masih dalam batas toleransi.
“Jadi selama observasi tersebut dilakukan evaluasi ketat dan dibantu obat-obatan,” lanjut dr. Gigih yang memperdalam ilmu stroke di Yokaichi Jepang.
Sementara dr. M. Sofyanto menjelaskan bahwa Comprehensive Brain and Spine Centre sudah sejak setahun lebih menggandeng 21Assist. Hal ini karena ia ingin tidak hanya penanganan medis saja yang prima, tetapi pelayanan jasa transportasi pasien juga menjadi bagian penting.
“Apalagi dalam kasus-kasus sakit tertentu seperti yang dialami Pak Budi ini kan memerlukan penanganan yang harus cepat,” kata dr. Sofyan.
Layanan kesehatan seperti ini dilakukan selain untuk kenyamanan pasien sekaligus menunjukkan bahwa Indonesia juga tidak kalah dengan fasilitas rumah sakit yang ada di luar negeri.
“Setelah dibukanya pasar bebas Masyarakat Ekonomi Asean kami tak ragu lagi untuk bersaing mengingat kami sudah punya layanan VIP,” jelas Sofyan tidak datang dari Indonesia saja, juga dari Asia dan Eropa tersebut.
Berbagai Pelosok
Kasus yang menimpa Budi diatas memberi gambaran bahwa saat ini lokasi atau jarak tidak menjadi penghalang apabila ingin mendapat pelayanan kesehatan yang lebih bagus. Meski posisi pasien berada di lokasi yang sulit ditembus jalan darat sekalipun, namun dengan jasa ambulance udara, hal itu tidak menjadi masalah.
“Pak Budi ini kan masih enak, posisinya di Lombak, yang masih terhitung kota besar. Kami sering mengevakuasi pasien serangan jantung yang sedang berada di atas kapal pesiar di tengah laut. Kami evakuasi menggunakan helicopter kemudian kami bawa ke rumah sakit di Indonesia maupun ke Singapura sesuai dengan permintaan pasien,” kata Dhana, General Manager 221Assist.
Menurut Dhana, 221Assist yang berdiri sejak tahun 2010 sangat cocok sebagai jasa ambulance udara di wilayah Indonesia. Wilayah Indonesia yang sangat luas dimana antara satu pulau dengan lainnya dipisahkan oleh laut, maka ambulance udara adalah salah satu solusi yang tepat.
“Saat ini kami memiliki tiga jenis pesawat, mulai jet, baling-baling, serta helicopter. Dan dalam waktu dekat, kami akan menyediakan ambulance water atau ambulance motor boat. Saat ini pesawat 221Assist kesehariannya stand by di Bali, Jakarta, dan Singapura.,” jelasnya.
Karena 221Assist adalah jasa layanan ambulance udara yang masuk dalam klasifikasi serta VVIP, maka layanan yang diberikan kepada pasien juga sangat prima. Misalnya ketika mendapat pesananan dari pasien di suatu tempat, maka timnya hanya membutuhkan waktu dua jam untuk domestik serta tiga jam untuk tujuan internasional. Pesawat akan langsung terbang menjemput sang pasien.
“Kami hanya membutuhkan waktu untuk persiapan pilot, kru pesawat, dokter anestesi, perawat ICU, operation coordinator, dan lainnya, sedang peralatan semua sudah siap karena pekerjaan kami selalu dadakan,” jelas Dhana.
Videonya Disini:
Ketika menerima pesanan, ia langsung bekerjasama dengan rumah sakit tempat pasien berada, serta dokter rumah sakit yang akan dituju termasuk bandara yang akan di darati. Untuk menjaga keselamatan pasien selama penerbangan ke tempat tujuan, tidak hanya soal kondisi pasien saja yang diperhatikan, tetapi juga obat-obat apa saja yang sudah diberikan.
Bahkan untuk pasien dengan jenis sakit tertentu yang mengharuskan tidak boleh mendapat tekanan udara yang tinggi, maka pilot juga diberitahu bahwa sebaiknya ketinggian pesawat direndahkan. “Jadi selama dalam penerbangan itu, dokter anestesi terus berkoordinasi dengan operation coordinator untuk menyampaikan kepada pilot,” imbuhnya.
Demikian pula ketika turun dari pesawat, tim dokter dari 221Assist akan ikut mengantar sampai ke rumah sakit tujuan. Tujuannya selain akan ada serah terima pasien sekaligus pemberian laporan kesehatan selama perjalanan kepada dokter yang menerima pasien.
“Pokoknya kita akan membantu bagaimana pasien bisa sampai tujuan dengan aman dan nyaman,” ujar Dhana sambil jelaskan bahwa ambulance udara sangat penting terutama pasien yang memerlukan pelayanan cepat.
Di dalam pesawat itu sendiri terdapat peralatan yang sama seperti di ruang ICU rumah sakit. Bedanya, jika di rumah sakit ukurannya besar, sedangkan di ambulance udara ukurannya kecil berbentuk portable.
Selama ini lanjut Dhana, yang paling sering dilakukan adalah mengangkut pasien dari Indonesia dan dibawa ke Singapura atau Penang. Tetapi ada juga yang sampai ke Hongkong, bahkan ke Eropa. “Tetapi sekarang permintaan untuk ke rumah sakit di tanah air cenderung ada peningkatan,” imbuhnya. (priyo suwarno)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/pasien-dari-lonbok-gunakan-ambulans-udara-221assist_20160214_163300.jpg)



