Pelecehan Seksual
Korban Kekerasan Seksual Sudah Sekolah tapi Takut Ketemu Orang Asing
Sebut saja SN (16), korban pemerkosaan ayahnya atas nama Sad alias Upik yang saat ini telah menjalani masa hukuman di Rutan Sempaja, Samarinda.
Penulis: Christoper Desmawangga |
TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Sudah bisa move on (melupakan) masa lalu yang kelam, kendati masih terbayang masa-masa sulit yang dialami anak-anak korban pelecehan seksual di Panti Penampungan Dinas Sosial Kaltim, di Jalan HAM M Rifaddin, Samarinda Seberang.
Terdapat sekitar 130 anak korban kekerasan seksual yang telah tertampung di panti penampungan sejak 2015 silam. Dari sekian banyak korban terdapat beberapa korban yang kasusnya sempat membuat media massa selalu memberitakan.
Sebut saja SN (16), korban pemerkosaan ayahnya atas nama Sad alias Upik yang saat ini telah menjalani masa hukuman di Rutan Sempaja, Samarinda.
SN saat ini sudah mampu keluar dari panti penampungan, dan menjalani aktivitas sehari-hari dengan bersekolah di salah satu MTS di kawasan Samarinda Seberang. Kendati masih tinggal di panti penumpangan, tekad mengejar masa depan SN patut diacungi jempol.
Hampir teman-teman di sekolahnya tahu kasus yang menimpanya selama tinggal bersama orangtuanya. Kendati demikian, tidak ada satu pun teman-temannya yang membuli maupun mengolok. Teman-temannya justru selalu mendukung SN untuk terus sekolah.
Baca: Polresta Dukung Pemkot soal Pemberlakuan Jam Malam
"Kami selalu melakukan pantauan ke sekolah SN. Tidak ada satupun temannya yang mem-bully, ini yang kami salut dengan pelajar saat ini. Mereka mengerti dan paham tentang hal-hal yang tidak baik mereka lakukan," ujar Ketua Harian Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Kota Samarinda, Adji Suwignyo, Rabu (24/2/2016).
Kondisi SN saat ini sudah lebih baik dan stabil dibandingkan dengan pertama kali masuk panti penampungan pada pertengahan tahun lalu. Saat ini SN sudah bisa sosialisasi dengan orang lain, dan semangat mengejar cita-citanya sangat besar.
"Sehabis sekolah, di panti SN selalu mengikuti pengajian dan mengikuti keterampilan yang diajarkan panti. Ini suatu kemajuan yang luar biasa dari anak yang menjadi korban pemerkosaan oleh ayahnya sendiri," tuturnya.
Kendati demikian, Adji mengungkapkan bahwa SN masih takut-takut terhadap orang asing yang baru ditemui, dan kerap menghindari orang tersebut.
"Trauma tentu masih ada, kalau ada orang baru pasti akan dihindari, makanya agak sulit jika ada wartawan yang ingin temui dia," tambahnya.
"Tapi saat konseling, kami selalu menyinggung tentang Bapaknya. Ini harus dilakukan untuk mengecek kondisinya mendengar maupun diajak membahas tentang ayahnya, dia tidak mau lagi bertemu Bapaknya," kata Adji.
Berbeda halnya dengan SN yang telah berani keluar bersekolah, Tk (14), korban perdagangan manusia yang dilakukan Ibunya, hingga saat ini masih trauma dan belum mampu sekolah. Untuk diketahui, sejak 2014 silam, Tk dijadikan pekerja seks komersial (PSK) oleh ibunya kepada lelaki hidung belang.
"Kalau Tk ini belum stabil dan belum berani sekolah. Dia masih melakukan kegiatan di panti penampungan. Kami juga belum perbolehan dia keluar dari panti, tunggu stabil baru kami perbolehkan," ucap Adji.
Baca: Apa saja Aktivitas Korban Kekerasan Seksual di Panti Penampungan?
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/tersangka-pemerkosa-anak_3_20160225_120035.jpg)