SALAM TRIBUN
Menulis
Seharian ini saya merasa telah menjadi orang yang sangat bodoh. Saya kehabisan ide untuk menulis Salam. Duduk. Berdiri. Duduk lagi berjam-jam...
SALAM TRIBUN
Menulis
Oleh ACHMAD BINTORO
Seharian ini saya merasa telah menjadi orang yang sangat bodoh. Saya kehabisan ide untuk menulis Salam. Duduk. Berdiri. Duduk lagi berjam-jam di depan komputer, tetap tidak menghasilkan sebuah pun kata.
Beberapa kawan yang pernah mengalami hal yang sama, menganjurkan sebuah tip. "Rehat sejenak, dan isaplah sebatang rokok," sarannya.
Saya pun mencoba menurutinya. Karena tak merokok, saya pilih menikmati sebuah kopi tubruk di kafe yang terketak tak jauh dari kantor. Ya, sepertinya ini akan jadi umpan yang memikat: secangkir espresso, lengkap dengan alunan jazzy dan lampu-lampu yang berpendar di sepanjang jalan depan kafe.
Satu jam berlalu. Dua jam lewat. Masih tak ada hasil. Ah, omong kosong kalau ada buku yang bilang menulis itu gampang! Setidaknya untuk saya saat ini. Momen yang berkelindan indah itu tetap saja tak membantu menggerakkan jari-jari tangan saya menari seperti biasa.
Sebenarnya ada banyak informasi yang menumpuk di kepala. Namun entah kenapa sulit sekali untuk keluar. Saya ingin menulis ini, tapi bagian dari otak saya ingin menulis yang lain. Begitu seterusnya. Saling sikut sendiri. Hingga akhirnya kepala saya alami hang.
Sehari sebelumnya saya mampir ke kantor seorang kawan, HR Daeng Naja. Kantornya mencolok. Bukan semata karena letaknya yang strategus di kawasan bisnis. Persis di depan gedung Bankaltim. Juga karena bentuknya yang elegan. Bergaya Eropa klasik dengan warna putih susu. Berbeda dengan kantor-kantor notaris umumnya di Samarinda.
Tiba di ruang kerjanya, saya dibuat lebih terkagum lagi. Ruang kerjanya meliputi satu ruang besar di lantai dua. Lantai ini dibagi tiga untuk ruang kerja pribadi, ruang penerima tamu dan ruang rapat. Ruang rapat berukuran sekitar 4x7 meter, lengkap dengan meja lonjong dan beberapa kursi kerja. Sebuah lemari besar yang penuh dengan buku dan banyak ensiklopedia. Umumnya mengenai kajian Islam hingga tafsir dan kumpulan hadist.
Di dinding ruang terpampang belasan cover buku, diperbesar dan dibingkai dalam pigura. Penulisnya tak lain adalah si empunya kantor. Seingat saya ada 19 cover buku menghiasi sekeliling dinding di ruang rapat. Sambil menunggu Daeng Naja berbincang dengan klien atau relasinya di kursi tamu, saya berkesempatan untuk membaca judul demi judul cover buku-buku tersebut. Buku-buku tersebut berbicara mengenai perbankan, hukum bisnis, kenotariatan, dan syariah.
Jumlah itu belum seberapa. Sesungguhnya ada sekitar 36 buku yang sudah ia tulis. "Tak cukup ruang kalau dipajang semua," jelasnya. Sebagian buku lainnya tersimpan di perpustakaan pribadi di rumah, dan banyak pula yang sudah habis terjual.
Itu juga masih belum seberapa. Karena sesungguhnya, saat ini dia sedang menulis dan menyelesaikan sekitar 30 judul buku lagi. Wow! Ada banyak penulis hebat. Mereka mampu menulis cepat beberapa buku sekaligus. Dua tiga buku misalnya. Paling banyak lima. Tapi baru kali ini saya melihat orang menulis sekaligus 30 judul buku.
Daeng Naja sepertinya mengetahui rasa penasaran saya. Ia lalu tunjukkan sebuah draft buku ukuran A4 dengan ketebalan lebih dari 400 halaman. Juga sebuah dummy buku mengenai syariah. Sedang buku mengenai tuntunan haji yang dipesan khusus oleh sebuah perusahaan besar biro perjalanan haji & umrah di Jakarta, sedang proses cetak.
Ia juga membuka sebuah laptop berlogo "apel kroak". Ia jelaskan satu demi satu judul yang sedang ia tulis. Sebuah draft buku mengenai perbankan syariah misalnya, ia mengkritisi praktek perbankan syariah yang menurutnya sudah melenceng. Meski pertumbuhannya pesat, dianggapnya tidak syar'i lagi, yang menjadikan label "syariah" sebagai alat untuk meraup untung semata.
Menurut Daeng, dengan banyak buku yang ia tulis, sebenarnya ia ingin sekaligus mengompori para koleganya di Unmul Samarinda. Di sana ada banyak dosen, ahli bergelar doktor hingga profesor. Tapi berapa banyak yang sudah menghasilkan buku? Jangankan buku, sekedar menulis artikel saja di media massa bisa dihitung dengan jari.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/achmad-bintoro_terbaru2_20150811_183947.jpg)