Wah. . . Ada Indikasi PHK Berkorelasi dengan Angka Kriminalitas dan Perceraian
Meningkatnya angka perceraian dan kriminalitas beberapa tahun terakhir diindikasikan berkaitan dengan angka PHK buruh yang terus meningkat.
Penulis: Rafan Dwinanto | Editor: Amalia Husnul A
TRIBUNKALTIM.CO - Meningkatnya angka perceraian dan kriminalitas beberapa tahun terakhir diindikasikan berkaitan dengan angka PHK buruh yang terus meningkat.
Demikian pengamatan Ekonom Kaltim, Rian Hilmawan. Dikemukakan, dampak PHK akibat lesunya bisnis batu bara memiliki dampak sosial.
"Ini menarik untuk dikaji lebih dalam. Karena, dari data yang ada, angka kriminalitas dan perceraian meningkat beriringan dengan angka PHK," tutur pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mulawarman ini.
Rian mencatat, di Samarinda, 2008 lalu angka perceraian 881, naik menjadi 1.892 kasus pada 2014. Begitu pula di Kukar, tahun 2008 angka perceraiannya hanya 423 kasus, naik menjadi 1.158 kasus.
Hal sama juga terjadi di Balikpapan. "Sepertinya ada korelasi yang erat antara sektor ekonomi dan sosial," katanya lagi.
BACA JUGA: Digugat Cerai Istri, Pria Ini Pakai Sabu Untuk Hilangkan Stres
Langkah Pemprov Kaltim mengandalkan sawit dan melakukan hilirisasi industri sudah tepat. Hanya, menurut Rian, kebijakan tersebut bersifat jangka panjang.
"Terlalu lama menunggu hal itu. Sementara, di Kaltim nyaris tidak ada pabrik pengolahan sawit skala menengah apalagi besar yang mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar," ungkapnya.
Tidak ada kata lain, kata Rian, Pemprov harus putar otak bagaimana caranya menggairahkan perekonomian masyarakat melalui Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Karena bisnis ini (UMKM) sedikit unik.
Kebal terhadap krisis ekonomi.
BACA JUGA: Disdukcapil: Banyak Perceraian Berawal dari Perselingkuhan
"Perlu dicatat pula, korban PHK sebagian besar sudah berusia 35 tahun ke atas. Jadi cukup sulit untuk dapat kerjaan baru, karena mungkin perusahaan menetapkan standar usia. Apalagi mau jadi PNS, rasanya usia segitu sudah tidak bisa," katanya.
Imbas menurunnya harga batu bara sudah terjadi sekitar 2013 lalu. Jumlah PHK sebenarnya juga sudah tinggi.
Dari catatan Rian, 2013 lalu di Bontang ada 1.360 pekerja yang di PHK, kemudian di Kukar ada 1.574.
"Untuk di Balikpapan, tren PHK juga terus meningkat sampai saat ini, sedangkan di Samarinda juga meningkat tapi fluktuatif," kata Rian.
Penurunan harga batu bara, kata Rian, berpengaruh besar di semua sektor ekonomi Kaltim. Kendati, warga Kaltim sendiri tidak menggunakan batu bara.
BACA JUGA: Banyak Istri Minta Cerai, 2015 Nyaris Tembus 2.000 Gugatan
"Contohnya seperti ini, gaji karyawan batu bara ini kan tinggi. Sehingga gaya hidup dan belanjanya pun konsumtif. Nah, saat sektor batu bara terpukul, karyawannya di PHK, otomatis pusat perbelanjaan terkena dampak, pembelian kendaraan bermotor. Kafe yang semua menjamur, sekarang pun tutup akibat konsumen yang hilang," bebernya.
Walhasil, terjadi perubahan prilaku konsumsi masyarakat, terutama karyawan pertambangan.
"Belum lagi dampak yang ditimbulkan terhadap industri penunjang batu bara. Kan perusahaan batu bara itu banyak sekali subkontranktornya," ujarnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/demo-buruh-tolak-phk_20160428_131044.jpg)