Kolom Rehat
Mengapa Westerling Tersenyum?
kalau hanya senyum, orang kejam seperti Westerling pun bisa saja tersenyum
Pada 20 Juli 1946, Westerling diangkat menjadi komandan pasukan khusus, Depot Speciale Troepen (DST/Depot Pasukan Khusus) dan kemudian ditempatkan di Makassar untuk menumpas perlawanan rakyat pendukung Republik di Sulawesi Selatan. Sejak itu, pembantaian demi pembantaian terjadi di desa-desa dari Makassar, Parepare, hingga Mandar.
Berapa ribu rakyat Sulawesi Selatan yang menjadi korban keganasan tentara Belanda hingga kini tidak jelas benar. Pada 1947, delegasi Republik Indonesia menyampaikan kepada Dewan Keamanan PBB, korban pembantaian terhadap penduduk yang dilakukan oleh Kapten Raymond Westerling sejak bulan Desember 1946 di Sulawesi Selatan mencapai 40.000 jiwa. Angka 40.000 ini pertama kali diutarakan oleh Kahar Muzakkar, pejuang kemerdekaan yang kemudian menentang pemerintahan Soekarno.
baca juga : Bernard Shaw dan Komunisme
Berdasarkan pemeriksaan Pemerintah Belanda pada 1969, sekitar 3.000 rakyat Sulawesi tewas dibantai oleh Pasukan Khusus pimpinan Westerling, sedangkan Westerling sendiri lewat otobiografinya menyebut korban akibat aksi yang dilakukan pasukannya tidak lebih 600 orang.
Perbuatan Westerling beserta pasukan khususnya dapat lolos dari tuntutan pelanggaran HAM
Pengadilan Belanda karena sebenarnya aksi terornya yang dinamakan contra-guerilla, memperoleh izin dari Letnan Jenderal Spoor dan Wakil Gubernur Jenderal Dr. Hubertus Johannes van Mook. Jadi yang sebenarnya bertanggungjawab atas pembantaian rakyat Sulawesi Selatan adalah Pemerintah dan Angkatan Perang Belanda.
Sebenarnya, Westerling sudah nyaris diadili dan bahkan sempat ditangkap oleh Polisi Inggris di Singapura. Pemerintah RI mengajukan ekstradisi terhadap Westerling namun ditolak Pengadilan Tinggi Singapura dengan alasan Westerling adalah warga negara Belanda.
Lewat konspirasi para petinggi Belanda, Westerling akhirnya bisa kembali ke Belanda. Pada 17 Desember 1954, pejabat kehakiman di Amsterdam resmi mengakhiri pemeriksaan karena tidak terdapat alasan untuk pengusutan lebih lanjut. Pada 4 Januari 1955 Westerling menerima pernyataan tersebut secara tertulis.
Pada pada 26 November 1987, dalam usia 68 tahun, Westerling meninggal dengan tenang, dan mungkin dengan tersenyum.
Begitu. (*)
***
Perbarui informasi terkini, unik, dan menarik melalui medsos.
Join BBM Channel, invite PIN BBM C003408F9, Like fan page Facebook TribunKaltim.co, follow Twitter @tribunkaltim serta tonton video streaming Youtube TribunKaltim
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/rehat_20160313_191547.jpg)