Perbatasan
Beginilah Penampakan Gadis Dayak: Kulit Mulus, Wajah Menawan, Pakai Lipstik dan Hak Tinggi
Warna kulit kuning langsat, mulus. Mengenakan pemoles bibir alis lipstik memancarkan senyuman simpul nan jelita.
TRIBUNKALTIM.CO - Pernahkah anda membayangkan bagaimana paras wajah, warna kulit, bentuk tubuh dan keseharaian warga pedalaman Kalimantan yang masih terisolasi, terpencil dan terbelakang?
Sebaiknya jangan terburu-buru berpikiran buruk, atau stigma negatif. Bila anda berpikir tubuh mereka gelap, dan tidak rupawan, itulah adalah keliru.
Sebab berdasarkan pantauan TribunKaltim.co, pekan lalu, kehidupan warga; dari anak-anak hingga dewasa, tidak kalah beda dengan warga sebagian perkotaan.
Beberapa remaja putri yang mengenakan pakaian adat Dayak Kenyah Lepok Ke, tampak justru anggun-menawan. Mereka bagian dari penari maupun penyambut tamu.
Warna kulit kuning langsat, mulus. Mengenakan pemoles bibir alis lipstik memancarkan senyuman simpul nan jelita.
Beberapa di antaranya mengenakan sepatu hak tinggi, perhiasan anting, kalung dan gelang semakin menambah anggun perempuan desa.

Perempuan Dayak Kenyah warga Kampung/Desa Apauping, Kecamatan Bahau Hulu, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, saat menyambut Pangdam VI/Mulawarman Mayjen TNI Johny L Tobing di daerah perbatasan Indonesia - Malaysia, Selasa (23/8/2016) siang.
BACA JUGA: Suka-duka TNI Perbatasan; Seminggu Menikah Langsung Tinggalkan Istri, Tak Lihat Anak Lahir
Perawakan penduduk rata-rata relatif langsing, perempuan maupun laki-laki. Jarang terlihat orang gemuk, obesitas di kalangan anak-anak hingga orang tua.
Kaum ibu pun tampak bersih, jauh dari kesan jorok, menjijikkan. Sebaliknya elok dipandang.
Sekilas, wajah dan kulit orang Dayak Kenyah ini mirip dengan orang Nias, atau Manado atau Tionghoa.



Perempuan Dayak Kenyah warga Kampung/Desa Apauping, Kecamatan Bahau Hulu, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, duduk di lantai rumah adat saat perjamuan siang dengan Pangdam VI/Mulawarman Mayjen TNI Johny L Tobing di daerah perbatasan Indonesia - Malaysia, Selasa (23/8/2016) siang.
BACA JUGA: Jurus Survival ala Prajurit Perbatasan, Makan Batang Pisang dan Minum Air Rotan
Makan Nasi Dibungkus Daun
Pekan lalu, tepatnya Selasa (23/8/2016), satu bagian dari rangkaian perjalanan empat hari ke perbatasan Indonesia dan Malaysia, Pangdam VI/Mulawarman Mayjen TNI Johny L Tobing bertemu sempat masyarakat adat di Kampung/Apauping, Kecamatan Bahau Hulu, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara.
Masyarakat setempat menyuguhkan tarian penyambut tamu agung yang dipimpi Camat Bahalau Hulu Lupizs dan Kepala Desa Yusuf.
Usai meninjau prajurit di pos perbatasan, Pangdam dan rombongan bersantap siang di rumah atau balai adat. Bangunan terbuat dari bahan kayu, dan atap seng.



BACA JUGA: Kisah Unik dari Perbatasan Indonesia, Ayam pun Naik Helikopter
Menu makan siang warga setempat adalah nasi dan bubur ketan putih. Nasi yang dibungkus daun deloe, semacam daun talas.
“Daun deloe memang spesial ditanam untuk bungkus nasi,” kata Belo Hugae, seorang pemuka masyarakat adat Apauping.
Nasi-nasi itu dibungkus daun, seprti halnya nasi timbel khas Jawa Barat.
Kemudian saat makan, warga setempat menggunakan daun pisang pengganti piring. Memang ada beberapa piring yang digunakan tamu dan pejabat setempat.



BACA JUGA: Jenderal Ini Makan Singkong Bersama Prajurit dan Menginap di Pos Perbatasan
Desa Wisata yang Dikunjungi Wisatawan Manca Negara
Desa Apauping memang masih terpencil. Letaknya di tengah hutan. Sulit dijangkau. Tapi pemandangan sekilas, ratusan orang yang berasal dari 63 rumah tangga penduduk desa ini sungguh 'hidup'.
Sika ditemui Surat Kabar Tribun Kaltim/TribunKaltim.co di depan rumahnya saat menjemur sejumput lada, kurang lebih stu kilogram di halaman rumahnya di Apauping.
Sika mengaku pernah bekerja di perusahaan pengelola hutan Malaysia tahun 1990-an. Dia sendiri mengaku, bepergian ke Ibu Kota Kabupaten Malinau saja baru sekali seumur hidupnya.
“Kami di desa ini hanya mengandalkan ladang padi, dan kebun. Kalaupun ada lada, sedikit saja. Kami sulit mencari uang. Mau pergi, jalan darat masih terisolasi. Mau naik pesawat terbang, mahal,” kata Sika.
BACA JUGA: Sulitnya Transportasi di Perbatasan, Sampai Tua Warga tak Pernah ke Kota
Penurutan senada diucapkan Irang Lawai, yang saat ditemui mengenakan seragam pejuang Legiun Veteran Republik Indonesia. “Kami memang masih terpencil,” katanya.
Ditemui terpisah, Son Lenggang, seorang guru pada Sekolah Dasar Negeri 002 Bahau Hulu yang terletak di kampung Apau Ping, mengakui desanya sungguh jauh dari akses transportasi. “Desa kami masih terisolasi,” kata Son, lulusan Universitas Borneo Tarakan.
Kampung Apau Ping dihuni ratusan orang warga yang terdiri atas 63 kepala keluarga. Penduduknya umumnya etnis Dayak Kenyah Lepok Ke. Satu-satunya akses transportasi umum adalah sungai.
Ketika air sungai dalam, ketinting dari kampung Apauping ke ibu kota Desa Long Alango, membutuhkan waktu dua jam. Sedangkan kalau menempuh jalur darat, jalan kaki membutuhkan waktu empat hari.
Rute udara ke Long Alango dilayani penerbaangan perintis dari Malinau. Namun jadwal terbangnya tidak menentu.
Camat Bahau Hulu Lupizs mengatakan, walaupun desa ini terpencil, masih memberikan kebanggaan untuk Kabupaten Malinau.
“Penduduk desa ini baik dan ramah kepada tamu. Karena itu, sebagai desa yang masih memegang adat istiadat, sejak tahun 2013, Pak Bupati Malinau menetapkan desa ini sebagai desa wisata,” ujarnya. (Domu D. Ambarita)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/perempuan-dayak-kenyah1_20160831_112740.jpg)