Salam Tribun

Balada Gaji yang Tak Mencukupi

Sedangkan bagi yang memilih jalur haram, mereka menerabas batasan tentang kecurangan dan tipu-tipu.

Kontan
Ilustrasi 

Belum lagi ulah pejabat yang harus mengeluarkan biaya kasak-kusuk untuk pengamanan jabatannya menjelang mutasi, menjelang pilkada, atau menjelang fit and proper test.

Karena bukan pejabat publik, penulis hanya sebatas meraba dan menganalisa. Namun penulis punya harapan besar agar kultur high political cost yang mudharat ini bisa bertransformasi menjadi low, clean, and effective political cost. Sehingga pejabat publiknya tidak doyan umbar duit, dan publik juga emoh makan duit panas para politisi.

Semoga hal ini juga akan terjaga di Pilgub DKI, dimana Ahok-Djarot dan dua penantangnya (Agus-Sylviana dan Anies-Sandiaga) diperkirakan harus menghadapi tensi politik sangat tinggi dan menguras energi.

Soal solusi menekan korupsi, mengutip sebuah artikel di situs media Islam, ada tujuh langkah yang perlu dilakukan. Yakni mewujudkan sistem penggajian yang layak, penegakan larangan menerima suap dan hadiah, juga transparasi dalam penghitungan kekayaan (termasuk mekanisme pembuktian terbalik yang harus diundangkan formal).

Selanjutnya diperlukan keteladanan pemimpin, hukuman yang adil dan setimpal, pemutihan hasil korupsi untuk disita negara setelah pembuktian terbalik, juga pengawasan masyarakat yang maksimal. Namun upaya ini baru akan berjalan dengan terjaganya ketaqwaan dan moralitas individu dan kolektif, dimulai dari skala pribadi, keluarga, masyarakat, hingga bangsa.

Mengakhiri tulisan ini, penulis ingin berbagi cerita. Saat melakukan perjalanan di Yogyakarta, waktu shalat dzuhur tiba. Lalu penulis mampir di sebuah masjid di Kompleks Polda DI Yogjakarta, di kawasan Jalan Ring Road Utara.

Usai shalat dzuhur, seorang perwira polisi berdiri di mimbar untuk menyampaikan kultum atau taushiyah rutin kepada sesama anggota polisi.

Ia lalu mengutip pesan Kapolri, Jenderal Tito Karnavian, dalam sebuah acara internal Polri, dan diamanahkan untuk disampaikan kepada seluruh polisi. “Pak Kapolri mengingatkan, jangan sampai kita mengagung-agungkan harta. Saling berlomba banyak-banyakan harta, bagus-bagusan mobil dan rumah. Hiduplah sederhana. Jalani pekerjaan dengan sebaik-baiknya, jalani hidup dengan penuh syukur. Yang penting berkahnya, bukan banyaknya”.

Saya tersentuh dengan pesan itu, sembari berdoa, semoga para abdi negara dan pejabat publik bisa menjalankannya. Teringat pula pesan seorang ustadz; “Gaji berapapun akan cukup untuk hidup. Tapi gaji berapapun tidak akan cukup untuk gaya hidup. (*)

***

Baca berita unik, menarik, eksklusif dan lengkap di Harian Pagi TRIBUN KALTIM

Perbarui informasi terkini, klik  www.TribunKaltim.co

Dan bergabunglah dengan medsos:

Join BBM Channel - PIN BBM C003408F9, Like fan page Facebook TribunKaltim.co,  follow Twitter @tribunkaltim serta tonton video streaming Youtube TribunKaltim


Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved