Opini
Pondok Pesantren Nabil Husein, Mimpi Besar yang Berawal dari Keprihatinan
Bagaimana mungkin anak-anak itu mampu maju dan menatap masa depan lebih baik kalau sekolah saja tidak bisa?
Oleh Prof Dr Abubakar M Lahjie M.Agr
Keluarga Besar Ponpes Nabil Husein

Prof Abubakar M Lahjie MAgr PhD
BERAWAL dari rasa keprihatinan, saat itu Muhammad Said Amin (selanjutnya kita sebut saja MSA) menjumpai banyak anak usia sekolah di pedalaman yang tidak dapat mengenyam pendidikan formal sebagaimana mestinya, hanya karena ketiadaan biaya.
Bagaimana mungkin anak-anak itu mampu maju dan menatap masa depan lebih baik kalau sekolah saja tidak bisa?
Kenyataan itu menyentuh hatinya. Tak seharusnya masyarakat di daerah kaya sumber daya alam ini, yang telah memberikan kontribusi besar devisa kepada negara, dibiarkan tanpa pengharapan yang lebih baik untuk masa depannya.
Ya, mereka harus sekolah.
Tapi siapa yang akan turun tangan membantu? Negara?
Baca: VIDEO – Bupati Ini Ajak Anak Yatim Piatu Lepaskan 5000 Lampion ke Udara
Ah, negara sepertinya masih terlalu banyak yang harus diurus. Sehingga belum mampu menjalankan amanah UUD 45 bahwa anak miskin dan terlantar dipelihara oleh negara.
Sekembali dari blusukan dan perjumpannya dengan anak-anak kurang mampu itulah, lantas timbul tekad kuat dalam dirinya untuk berbuat sesuatu.
Tokoh pemuda Kaltim itu memiliki mimpi besar dan luhur.
Ia ingin membangun sebuah pondok pesantren modern yang terpadu. Jadi pusat dakwah. Sekaligus menjawab keprihatinannya akan kondisi anak-anak kurang mampu.
Anak-anak itu harus diakomodir menyongsong masa depannya.
Baca: Lulusan Ponpes Modern Al Muttaqien Diharapkan Jadi Cendekiawan dan Wirausahawan Muslim
Kalau di Jawa ada Pondok Pesantren Modern Gontor, dan beberapa ponpes modern lainnya.
MSA tak berlebihan kalau bermimpi ponpes yang ia dirikan kelak bisa menjadi "gontor"-nya Kalimantan.
Maka, lahirlah Ponpes "Nabil Husein", tahun 2002. Ia pikir sudah saatnya untuk berbuat lebih baik, dan memberi manfaat yang lebih kepada sesama.
Nama Ponpes ia ambil dari nama putra sulungnya, Nabil Husein. Nabil juga dikenal sebagai pemilik klub kesebelasan yang menjadi kebanggan masyarakat Samarinda, Pusamania Borneo FC (PBFC).
Berdiri di lahan seluas 10 hektare di Karang Paci, Samarinda, di sanalah ia ingin para santri itu digembleng menjadi pribadi-pribadi yang tangguh, berwawasan, berkarakter dan insan yang islami.
Baca: Kisah Polisi yang Sarjana Lele, Kelola Lahan tak Produktif Ponpes dengan Modal Pinjaman dari Bank
Karenanya, mereka dibekali berbagai macam pengetahuan. Tidak hanya soal keislaman melainkan juga ilmu pengetahuan dan teknologi.
Peserta Didik
Dengan dukungan para sahabatnya, seperti Andi Harun, Amir P. Ali, Farianto, Zainal Arifin, Edi Rumpoko; A Popo Parulian, dan Mugni, ponpes ini berkembang dengan cepat.
Kini jumlah peserta didik mencapai 950 orang.
Mereka datang dari berbgai derah di indonesia seperti Sumatera Selatan, Nusa Tenggara Barat, Jawa, Madura. Sulawesi, dan Kalimantan.
Baca: Ajarkan Anak Didiknya Toleransi, Umat Buddha Ajak Santri Ponpes Buka Puasa
Setiap tahun penerimaannya meningkat 7 persen. Tiga tahun terakhir mencapai sekitar 250 siswa.
Kualifikasi penerimaan santri:
- yatim piatu firliah, siswa yang tidak mempunyai kedua orangtua dengan hidup dalam keluarga tidak mampu (sekitar 30 %)
- seleksi kemampuan nilai akademis terbaik (20%)
- peserta didik dari Kaltim setiap kecamatan (sekitar 30 %)
- dari luar pulau Kalimantan (10%)
- dan siswa yang diterima atas rekomondasi dari lembaga Dakwah Islam lainya (10%).
Baca: Pilih Tekuni Dunia Dakwah, Mantan Pemain Manchester City Putuskan Gantung Sepatu
Ponpes Nabil Husein memiliki jenjang pendidikan SMP 17 kelas, MTs 12 kelas, SMA 7 kelas, dan SMK Akuntasi 3 kelas, SMK Otomotif 3 kelas. Total 43 kelas.
Kurikulumnya dipadukan antara nasional dan pendidikan agama. Seperti kajian al-quran, hadis, fiqh, nahu shorof, tafsir, bahasa Arab, dan Inggris. Karenanya, lulusan mendapat dua ijazah.
MSA telah menetapkan tidak ada biaya pendidikan (SPP) alias gratis.
Mereka hanya dikenai biaya Rp 400 ribu per bulan selama di asrama. Sebanyak 40% di antaranya tidak dibebani apa pun karena memang tidak mampu.
Balai Antinarkoba
Baca: BREAKING NEWS -- Ini Ancaman Bupati: ASN yang Terlibat Kasus Narkoba, Tanggung Sendiri Akibatnya!
Para santri juga mendapat berbagai kegiatan ekstrakurikuler, seperti pramuka, bela diri, pelatihan jurnalistik, dan kepribadian.
Seperti pada medio Oktober lalu, pelatihan jurnalistik dilakukan LSM Lentera bekerjasama dengan Kedutaan AS.
Beberapa santri juga akan dikirim ke Amerika dan mendapatkan pelatihan bahasa Inggris, sesuai janji Kedutaan AS.
Sesekali pengasuh ponpes bahkan mendatangkan native speaker bahasa Inggris seperti Joshua Bianchi.
Tujuannya, selain memperkuat penguasaan bahasa asing, juga untuk agar ada pengayaan wawasan terhadap santri mengenai dunia internasional.
Baca: Begini Antusiasnya Siswi Ponpes Nabil Husein Mengikuti Pelatihan Jurnalistik Kedubes AS
Bagi MSA, semua itu belum selesai. Maka, ponpes ini juga menerima rehabilitasi korban narkoba karena dilengkapi Balai Rehabilitasi Narkoba.
Ia prihatin banyaknya pecandu narkoba. Balai ini berdiri 7 tahun lalu tersedia 10 kamar, 1 kamar untuk dokter penjaga dan 8 kamar untuk pasien rehabilitasi narkoba, dan 1 dapur.
Setiap kamar memiliki dua kamar tidur dan toilet.
Balai ini dipimpin Arafat Zulkarnain, dengan pengelolanya LSM Gerakan Pemuda Anti-Narkoba (GERPANA) yang diketuai Zuhairi.
Melalui bimbingan para ustaz, para pecandu itu diarahkan untuk bisa kembali hidup normal tanpa nakroba.
Baca: Pertumbuhan Korban Narkoba Dibendung, Pemerintah Bisa Bangkut Jika Andalkan Rehabilitasi
Sekali lagi, ponpes Nabil Husein bisa berkembang seperti sekarang ini bukan semata-mata karena besarnya dana yang dikeluarkan.
Juga karena adanya keikhlasan para pendidik dan pembina, serta stakeholder lainnya yang memiliki kepedulian terhadap sesama.
MSA percaya pola pendidikan full day school yang sudah sejak beratus tahun lalu diterapkan di ponpes-ponpes, akan bisa melahirkan generasi-generasi penerus bangsa yang memegang teguh iman dan takwa, cerdas, berwawasan luas dan mampu menjawab tantangan zaman.
Semoga. (*)
Salurkan Keluhan atas Pelayanan Umum Melalui Hotline Public Service
Caranya mudah. Tinggal memilihnya, yakni:
-Telepon ke bagian Redaksi Tribun Kaltim: 0542 735015
-SMS ke Redaksi Tribun Kaltim: 0811 547 1888
-WhatsApp/Line Redaksi Tribun Kaltim: 0811 5387 222
-PIN BlackBerry Redaksi Tribun Kaltim: 54ED96E3
-Email: tribunkaltim.red@gmail.com dan cc ke redaksi@tribunkaltim.co
Boleh juga kicauan sahabat diunggah ke Twitter lalu mention Twitter @tribunkaltim gunakan hashtag/tagar #HotlineTribunKaltim
***
Baca berita unik, menarik, eksklusif dan lengkap di Harian Pagi TRIBUN KALTIM
Perbarui informasi terkini, klik www.TribunKaltim.co
Dan bergabunglah dengan medsos:
Join BBM Channel - PIN BBM C003408F9, Like fan page Facebook TribunKaltim.co, follow Twitter @tribunkaltim serta tonton video streaming Youtube TribunKaltim
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/prof-abubakar-bersama-pengasuh-ponpes-nabil-husein_20161124_120726.jpg)