Breaking News
Minggu, 12 April 2026

Opini

Urbanisasi, Kawan atau Lawan?

Dalam banyak hal, kota tentu lebih menarik bagi sebagian besar penduduk, sehingga mendorong terjadinya migrasi.

Warta Kota/Angga Bhagya Nugraha
Ilustrasi - Kemacetan di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, pada jam pulang kerja dan saat menjelang buka puasa. 

Herryansayah Nur
Mahasiswa Program Magister Perencanaan Wilayah dan Kota, Institut Teknologi Bandung,
herry.melak@gmail.com

Urbanisasi berkorelasi positif dengan pertumbuhan ekonomi, akan tetapi tanpa pengaturan yang baik, masalah yang ditimbulkan lebih besar daripada manfaat yang didapat.
Tahun 2008, pertama kali dalam sejarah, proporsi penduduk perkotaan lebih besar daripada proporsi penduduk perdesaan. angka tersebut terus bertambah seiring berjalannya waktu. Menurut UN-Habitat, suatu badan dunia yang mengurusi permukiman penduduk, jumlah penduduk yang tinggal di perkotaan akan mencapai 60% dari total polulasi dunia pada tahun 2030, atau dengan kata lain 6 dari 10 orang penduduk bumi tinggal di area perkotaan, sisanya di area perdesaan. Angka tersebut menggambarkan tingginya tingkat urbanisasi.
Urbanisasi, apa itu?
Urbanisasi adalah proses meningkatnya proporsi populasi penduduk perkotaan terhadap penduduk perdesaan secara bertahap. Peningkatan tersebut dapat terjadi karena tiga faktor: pertumbuhan penduduk alamiah perkotaan yaitu selisih antara kelahiran dan kematian, biasanya dapat diabaikan; migrasi penduduk dari perdesaan ke perkotaan; dan proses meng-kota-nya area perdesaan.
Faktor terbesar urbanisasi adalah mirgasi penduduk perdesaan ke perkotaan. Peningkatan perkekonomian perkotaan akibat industrialisasi menciptakan banyak lapangan kerja baru di berbagai sektor perekonomian.
Seiring berjalannya waktu, peningkatan tersebut juga mendorong layanan publik berupa kesehatan, pendidikan dan lain sebagainya menjadi lebih baik.
Bandingkan dengan perdesaan yang sebagian besar hanya menawarkan lapangan kerja di seputar sektor pertanian. Selain itu layanan publik terutama kesehatan, pendidikan dan infrastruktur juga belum terlalu memadai. Dalam banyak hal, kota tentu lebih menarik bagi sebagian besar penduduk, sehingga mendorong terjadinya migrasi.
Proses meng-kota-nya suatu area perdesaan biasanya terjadi di sekeliling area perkotaan. Urbanisasi dan pertumbuhan ekonomi di perkotaan membutuhkan lahan, hal ini menjadikan kota barsifat parasit terhadap dearah belakangnya (hinterland).
Petumbuhan kota akan "memakan" area sekitarnya, mengubah lahan pertanian menjadi lahan non-pertanian, mengubah struktur perkekonomian dan akhirnya menkonversi area perdesaan di sekitarnya menjadi area perkotaan. Proses ini juga merupakan proses urbanisasi.
Urbanisasi dan Pertumbuhan Ekonomi
Fakta menjunjukan negara-negara dengan tingkat urbanisasi yang tinggi cendrung memiliki tingkat pertumbuhan yang tinggi pula. Beberapa berpendapat hubungan keduanya lemah sementara yang lainnya berpendapat bahwah unrbanisasi diperlukan dalam pembangunan perekonomian.
Vernon Handerason (Brown University) berpendapat bahwa pembangunan ekonomi meliputi transformasi suatu negara dari agricultural based economy menjadi industrial-service based economy. Hampir semua industri sebagaimana kita ketahui berada di perkotaan.
Pendapat Handerson sangat logis, kota merupakan penyumbang GDP terbesar dunia, sekitar 80% (Bank Dunia, 2016). Menurut data World Economic Forum, 2016, Di UK misalnya, London menyumbangkan lebih dari setengah GDP Britain, kemudian di Amerika, koridor Boston-New York-Washington ditambah greater LA menyumbang sekitar sepertiga GDP Amerika.
Bagaimana hubungan urbanisasi dan pertumbuhan ekonomi?. Berdasarkan data Bank Dunia(2016) tiap 1% pertumbuhan urbanisasi berkorelasi dengan peningkatan pertumbuhan GDP (Gross Domestric Product), 13% di India, 10% di China, 7% di Thailand dan 4% di Indonesia. Kota merupakan tempat berkumpulnya orang yang sangat banyak. Konektivitas ini menimbul berbagai macam ide, meningkatkan pengetahuan dan inovasi. Dengan meningkatnya pengetahuan, keterampilan penduduk kota akan meningkat pula. Ditambah dengan inovasi, produktivtas penduduk perkotaan akan semakin meningkat sehingga pendapatan akan meningkat pula. Kondisi ini pada gilirannya akan mendorong pertumbuhan perekonomian.
Dampak negatif
Berbicara tentang urbanisasi, tentunya dalam benak kita tergambar hal yang buruk, dan memang benar. Macet, kumuh, semerawut, dan sebagainya menjadai gambaran dampak dari urbanisasi. Selain itu urbanisasi juga bukanlah suatu proses yang baik bagi lingkungan.
Urbanisasi menuntut pemenuhan akan sanitasi, peruhaman, air bersih, transportasi dan berbagai layanan publik lainnya. Jika peroses urbanisasi terlalu cepat terjadi, dan respon pemerintah lambat maka akan memicu peningkatan angka kriminalitas, munculnya area kumuh, kemacetan hingga masalah sosial lainnya.
Fenomena di negara berkembang, layanan publik seperti kesehatan, pendidikan dan lainnya meningkat seiring proses urbanisasi dan tumbuhnya perekonomian, namun layanan transportasi justru menurun. Akibatnya kemacetan terjadi dimana-mana. Kemacetan dapat menurunkan produktivitas penduduk, di Indonesia contohnya, akibat kemacetan (salah satunya), 1% petumbuhan urbanisasi hanya menyumbang 4% GDP. Tingginya tingkat ubanisasi yang tidak diikut dengan tingginya GDP dapat menjadi masalah.
Rendahnya GDP dapat berkorelasi dengan rendahnya belanja publik pemerintah, kondisi ini dapat menyebabkan dampak negatif urbanisasi menjadi semakin meningkat.
Urbanisasi berkaitan dengan peningkatan jumlah penduduk perkotaan. Tanpa adanya upaya nyata dari berbagai pihak, kota dapat menimbulkan masalah lingkungan yang sangat serius. Kota tidak bisa berdiri sendiri, butuh suplai pangan, kayu, batu bara, minyak dan sebagaianya dari area diluar perkotaan atau dari area hinterland. Seiring dengan meningkatnya populasi kota, diperburuk dengan gaya hidup yang tidak efisien, maka suplai yang dibutuhkan akan lebih besar. Hal tersebut akan memaksa perluasan lahan pertanian, pertambangan dan lainnya pada area hinterland. perluasan tersebut tidak bisa terus dilakukan karena bumi memiliki kapasitas (biocapacity) yang terbatas. Gaya hidup yang tidak efisien juga dapat meningkatkan jumlah sampah. Menurut World Economic Forum (2015), produksi sampah MSW penduduk kota mencapai 1.42kg/orang/hari pada tahun 2025, meningkat lebih dari dua kali lipat dari rata-rata produksi saat ini, 0.64kg /orang/hari. Dan yang terakhir adalah kota merupakan penyumbang gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global. Mobilitas penduduk kota berbasis kendaraan berbahan bakar minyak, pembangkit listrik, sampah hingga aktivitas industri menjadi penyumbang terbesar gas rumah kaca.
Kota hanya menempati 2% dari total daratan bumi, namun menkonsumsi 2/3 energi global, menyumbangkan 70% gas rumah kaca, dan berkontirbusi besar terhadap sampah global.
Urbanisasi bak dua sisi mata uang logam, bisa memberikan manfaat sekaligus memberikan masalah bagi suatu wilayah. Ketika dampak negatifnya bisa diredam maka kita dapat menikmati sisi positifnya berupa pertumbuhan ekonomi.
Menurut penulis, urbanisasi ibarat api, menjadi kawan ketika kita dapat mengendalikannya, namun setiap saat dapat menjadi lawan ketika lepas kendali.
Dengan kenyataan bahwa angka urbanisasi akan terus meningkat maka kota adalah takdir masa depan, pemerintah harus bersiap untuk meredam dampak negatif urbanisasi, mengupayakan dan menyiapkan suatu kota yang efisien, nyaman, dan berkelanjutan. Pemerintah tidak hanya berorientasi kepada pertumbuhan ekonomi tapi juga harus memenuhi hak-hak penduduk perkotaan. (*)

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved