Rombongan Manusia Perahu Datang Lagi, Sebenarnya Siapa dan Dari Mana Mereka?
Oleh turis asing, pulau ini juga disebut Pulau SpongeBob karena bentuknya persis Bikini Bottom, tempat tinggal tokoh kartun ngehits itu.
Penulis: Syaiful Syafar | Editor: Syaiful Syafar
Untuk sampai ke perairan Indonesia di Berau mereka bermodalkan kapal kayu berukuran sekitar 10x2 meter, yang merupakan kapal induk bagi manusia perahu.
Namun mereka yang hanya memiliki sampan juga tetap bisa pergi ke Indonesia dengan cara mengikatkan sampan ke perahu induk yang biasa bermesin dompeng.
Setelah sekian lama beroperasi di perairan Indonesia, manusia perahu yang belum memiliki kapal induk perlahan membeli kapal sejenis ketinting.
Untuk perjalanan dengan jarak yang cukup jauh, lagi-lagi kapal ketinting ini harus menumpang ke kapal induk.
Secara umum, cukup sulit berkomunikasi dengan manusia perahu, terutama jika pertanyaan yang diajukan berkaitan dengan waktu misalnya sudah berapa lama di perairan Indonesia, berapa umurmu, umur istri atau anak. Kebanyakan pertanyaan semacam ini hanya dijawab berdasarkan perkiraan saja oleh manusia perahu.
Manusia perahu hanya berpatokan pada hitungan kemunculan bulan. Sehingga mereka tidak bisa menjawab persis jika ditanyakan hal yang berkaitan dengan waktu.
Hasil tangkapan ikan manusia perahu biasa dijual ke pengepul yang berada di Tanjung Batu, Pulau Derawan, maupun pulau lain di perairan Berau yang berpenghuni.
Dalam sekali transaksi, mereka bisa mendapatkan uang sekitar Rp 300 ribu.
Rata-rata, tiap pria dewasa manusia perahu minimal bisa mendapatkan hasil laut berkisar 10 kg setiap harinya.
Sementara, uang hasil penjualan tangkapan mereka digunakan untuk membeli kebutuhan hidup sehari-hari seperti ubi, beras, kopi, biskuit, gula hingga, rokok.
Pada 2014 lalu, Pemkab Berau terpaksa menampung ratusan manusia perahu di wilayah Tanjung Batu, Kecamatan Derawan.
Selama satu bulan mereka tinggal di tenda-tenda pengungsian.
Pemkab Berau harus menyediakan 150 kg beras per hari untuk memenuhi pangan 678 manusia perahu.
Itu baru beras saja, belum lagi singkong dan lauk-pauknya, ditambah obat-obatan karena semakin banyak manusia perahu yang sakit karena kondisi penampungan yang tidak layak.
Sebanyak 88 orang akhirnya dipulangkan ke Filipina setelah Konsulat Jenderal Filipina mengakui bahwa itu adalah warganya.
Adapun ratusan sisanya dipulangkan pada Januari 2015 menuju perairan Malaysia.
Pemulangan manusia perahu itu dilakukan oleh Pemerintah Pusat, Pemprov Kaltim, Pemkab Berau dengan pengawalan TNI dan Polri. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/evakuasi-manusia-perahu_20170124_163718.jpg)