Kisah Anggota Pasukan Elit, Bernyali di Medan Perang tapi Meleleh Hatinya Ingat Keluarga
Bertugas di daerah konflik pada masa itu mengharuskan dirinya siap adu tembak dengan kelompok militan Aceh.
Penulis: Muhammad Fachri Ramadhani |
Namun torehan prestasi tersebut harus dibayar mahal.
Baca: Waduh Gawat! Ada Menteri dan Wapres, Acara Peluncuran Buku Ini Suguhi Tarian Perut Setengah Bugil
Tiga orang rekan mereka harus gugur di medan konflik, lantaran terlibat kontak fisik dengan militan Aceh.
Para militan tersebut dikenal agresif menyerang ketika aparat keamanan mendekati wilayah persembunyian atau markas mereka.
"Ada 3 orang rekan yang gugur. Meski bukan dari Satgas saya, tapi jelas itu konsekuensi sebuah pengabdian terhadap negara. Seperti musik yang memiliki tangga nada dan alur, beginilah cara kami mengabdi," tutur bapak 3 anak itu sambil tersenyum.
Masih teringat jelas, bagaimana ia harus bertahan hidup selama berminggu-minggu menjalankan misi menembus rawa dan hutan.
Sulit untuk memprediksi pergerakan, terkadang timnya menyiapkan bekal selama seminggu menjalankan misi, namun di lapangan bisa berkembang menjadi 2 minggu.
Baca: Sesak dan Pilu! Pasutri Ini Terpaksa Serahkan Anak Adopsi yang Diasuhnya 7 Tahun ke Dinas Sosial
Mau tak mau mereka harus memutar kemudian mencari pos logistik terdekat yang tersebar di beberapa titik untuk keadaan darurat.
"Selebihnya bagaimana kita bisa merespon apa yang ada di sekitar kita," tutur pria asal Yogyakarta tersebut.
Sekitar 19 tahun Giatna mengabdikan dirinya menjadi prajurit TNI AL.
Tak ada raut penyesalan di wajahnya, yang ada hanya kebanggaan bisa memberikan pengabdian kepada bangsanya.
Kendati kerap berpisah dengan keluarga, namun ia menyadari itu adalah konsekuensi logis yang ia harus terima.
Dirinya memang sejak kecil bermimpi menjadi seorang tentara.
Saat tumbuh besar minatnya semakin jadi, saat melihat kakaknya masuk angkatan.