Minggu, 3 Mei 2026

Warga Keluhkan Sisa Minyak Bercampur dengan Sampah di Pantai Melawai

Sehari paska tumpahan cairan diduga minyak di sepanjang Pantai Melawai hingga Polsek Kawasan pelabuhan, sisa minyak masih belum dibersihkan.

Tayang:
Editor: Adhinata Kusuma
TRIBUNKALTIM/NALENDRO PRIAMBODO
SISA-SISA MINYAK - Sehari paska tumpahan cairan diduga minyak di sepanjang Pantai Melawai hingga Polsek Kawasan pelabuhan Semayang, Balikpapan, sisa-sisa ceceran minyak masih belum dibersihkan Selasa (24/6). Sampah plastik, gabus, dan sampah rumah tangga bercampur cairan hitam diduga minyak bertumpuk di salah satu titik konsentrasi tumpahan, tepat di belakang objek wisata kuliner Pantai Melawai. 

BALIKPAPAN, TRIBUN - Sehari paska tumpahan cairan diduga minyak di sepanjang Pantai Melawai hingga Polsek Kawasan pelabuhan Semayang, Balikpapan, sisa-sisa ceceran minyak masih belum dibersihkan.

Sampah plastik, gabus, dan sampah rumah tangga bercampur cairan hitam diduga minyak bertumpuk di salah satu titik konsentrasi tumpahan, tepat di belakang objek wisata kuliner Pantai Melawai. Membuat keindahan pantai berkurang.

Kondisi seperti ini dikeluhkan Ata, warga Balikpapan, penghobi wisata kuliner yang Selasa (24/7) sore, kebetulan mampir ke lokasi tersebut menikmati jajanan sambil memandangi matahari tenggelam di laut Balikpapan.

Baca: Teluk Balikpapan Tercemar Lagi, Awang Faroek minta Aparat Tindak Tegas

Baca: Lagi, Tumpahan Minyak Terjang Perairan Balikpapan

Baca: Tim Gakkum KLHK Cari Sumber Tumpahan Minyak di Pantai Melawai

"Jadi kaya TPS (tempat pembuangan sampah). Eneg ya, karena (pantai) ini kan bagus, sambil makan lihat belakang ada pantai. Kalau lihat ke sini (sampah menumpuk bercampur minyak) jadi ga berselera," katanya, Selasa sore (24/7).

Sebenarnya, menurut dia, bibir pantai Balikpapan potensial dikelola berbagai macam aktivitas bernilai ekonomis, salah satunya wisata kuliner. Namun, melihat tumpukan sampah yang tergolong lama 'terdampar' dan bercampur cairan diduga minyak ini, sangat menggangu pemandangan dan mengganggu selera makan wisatawan.

Sebaiknya, lanjut Ata yang memilki bakat seni di bidang desain pakaian ini, pemerintah memikirkan pula kebersihan, bukan hanya di median jalan, tapi, juga titik-titik yang kerap jadi halaman belakang warga, apalagi kalau bukan bibir pantai.

Tumpahan cairan yang diduga minyak kembali menerjang Pantai Balikpapan, Senin (23/7/2018). Terpantau di lapangan, sebaran cairan berwarna hitam pekat, kental dan sedikit berbau minyak dan gas itu tercecer mulai pantai Melawai hingga belakang Polsek Kawasan Pelabuhan Semayang.
Tumpahan cairan yang diduga minyak kembali menerjang Pantai Balikpapan, Senin (23/7/2018). Terpantau di lapangan, sebaran cairan berwarna hitam pekat, kental dan sedikit berbau minyak dan gas itu tercecer mulai pantai Melawai hingga belakang Polsek Kawasan Pelabuhan Semayang. (TRIBUN KALTIM/NALENDRO PRIAMBODO)

Sebab, jika kebersihan dijaga menyeluruh, tak menutup kemungkinan, semakin banyak warga yang datang ke menikmati keindahan pantai Balikpapan, yang ujung-ujungnya merangsang tumbuhnya usaha kreatif lainya.

Selain berbagai jenis sampah bercampur cairan hitam diduga minyak, di titik itu kita bisa saksikan saluran ujung drainase yang membawa berbagai sampah dari permukiman yang bermuara ke perairan Balikapapan. Bahkan, diduga akibat ceceran minyak kemarin, di beberapa titik pasir, saat digali sedalam ibu jari berubah warna menjadi hitam mirip cairan minyak di permukaan.

Sampah apalagi yang bercampur minyak ini Dikeluhkan juga oleh Dimas, pengusaha kuliner di Pantai Melawai. Menurut pria yang sudah membuka usaha di situ sejak 1999 ini, dahulu, sebelum ada jalan pembatas di belakang dermaga Lanal Balikapapan, setiap air pasang dan surut, air bercampur sampah bisa mudah lewat, mengikuti arus ini.

Baca: Dapat Asistensi Polda Kaltim, Penyelidik Kepolisian Balikpapan Investigasi Kasus Pencemaran Minyak

Baca: Laut Balikpapan Tercemar Tumpahan Minyak, Wawali Pertanyakan Pengawasan KSOP

Baca: Pencemaran Minyak di Teluk Balikpapan, KLHK Belum Cabut Larangan Berenang

Namun, seiring banyaknya sedimentasi di dekat titik tersebut, membuat air bercampur pasir dan kotoran terjebak dan mulai menggunung di belakang usaha kuliner para pedagang di sana.
Akibatnya, sampah terperangkap di titik tersebut. Bahkan tak jarang ditemui bangkai hewan yang tersangkut, sehingga membuat pengunjung merasa tak nyaman dengan aromanya.

"Rata-rata pengunjung kalau cium bau sampah pindah duduk ha ke depan. Kalau malam sih ga kelihatan," kata pemilik 14 meja di lokasi tersebut.

Sebenarnya, sampah sering dibersihkan, baik lewat gotong royong yang biasa dilakukan TNI AL, atau mereka dan warga sekitar. Namun, tetap saja sampah selalu datang. Ia berharap pemerintah memberikan solusi, semisal pembuatan jaring penahan sampah atau merapikan jalur air di belakang pantai Melawai, agar aliran air, sampah apalagi minyak tidak berkumpul di belakang tenant kuliner mereka.

"Kita pengennya pantai cantik, jadi pengunjung makin banyak yang datang" katanya. (dro)

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved