Waduh, Populasi Pesut Mahakam Tersisa 80 Ekor, 64 Persen Mati Akibat Ini

Aktivitas penangkapan ikan secara ilegal masih sering dijumpai di wilayah hulu Mahakam. Kegiatan ini mengancam kehidupan ikan air tawar

Waduh, Populasi Pesut Mahakam Tersisa 80 Ekor, 64 Persen Mati Akibat Ini
Hand Out
Pesut (latin: Orcaella brevirostris), sejenis hewan mamalia. Pesut sering disebut lumba-lumba air tawar, keberadaannya hampir punah. 

TRIBUNKALTIM.CO, TENGGARONG - Aktivitas penangkapan ikan secara ilegal masih sering dijumpai di wilayah hulu Mahakam. Kegiatan ini mengancam kehidupan ikan air tawar yang menjadi makanan Pesut Mahakam. Saat ini populasi pesut di wilayah Kukar hanya tersisa sekitar 80 ekor.

"Populasi pesut yang mencapai angka di bawah 100 ekor ini sudah digolongkan hewan yang terancam punah," ujar Rendra Bayu, Aktivis Yayasan Konservasi Rare Aquatic Species of Indonesia (RASI), Kamis (23/8).

Ia menyebutkan, 64 persen kematian pesut akibat terperangkap rengge atau alat tangkap tradisional. Rengge ini menjadi tempat berkumpul ikan-ikan kecil yang menjadi makanan pesut. Keberadaan rengge kerap mengundang perhatian pesut untuk mendekat. Beberapa pesut ditemukan terperangkap dalam rengge.

Baca: PASI Tidak Beri Beban Medali untuk Sprinter Lalu Muhammad Zohri

"Kami memberikan sosialisasi kepada para nelayan untuk penggunaan rengge yang tepat. Rengge tidak boleh dipasang membentang sungai namun harus sejalur. Dalam sosialisasi ini, kami mengajari nelayan bagaimana cara melepas pesut yang terperangkap dalam rengge," tuturnya.

Jadi para nelayan berperan aktif dalam upaya pelestarian hewan endemik itu. "Sesuai arahan Menteri Perikanan, saat ini kami membuat pemetaan wilayah untuk zona konservasi di 4 kecamatan, yakni Kota Bangun, Muara Wis, Muara Muntai dan Muara Kaman. Kami mendatangi 27 desa yang berada di tepian Sungai Mahakam," jelasnya.

Zona pelestarian habitat pesut dengan luasan 48 ribu ha ini meliputi daerah rawa, tidak hanya sungai, sebagian lagi rawa untuk perlindungan ikan.

Baca: VIDEO- Angkut Dua Jerigen Bensin, Angdes Terbakar Seorang Nenek Tewas Jadi Korban

Kawasan ini berada mulai dari Muara Kaman, masuk ke Kedang Rantau, Kedang Kepala sampai Muara Siran, lalu lanjut ke Pela, Sungai Belayan hingga Selimbingan, termasuk bagian Semayang yang jalurnya ke Melintang karena pesut sering lewat sampai ke Muara Muntai.

Penetapan zona ini akan membatasi alur pelayaran ponton besar melewati anak sungai dan muara yang menjadi habitat pesut.

Menurutnya, keberadaan pesut makin langka karena habitatnya sudah mulai rusak, rawa tempat pemijahan ikan sudah dikonversi menjadi lahan sawit. Tingkat kematian pesut lebih tinggi dibandingkan angka kelahirannya.

Di tengah kondisi air sungai surut seperti sekarang, pesut akan bermigrasi ke wilayah sungai yang lebih dalam, di mana terdapat banyak ikan di dalamnya.

Baca: Ditanya Honor Sekali Manggung Rp 150 Juta, Via Vallen Hanya Bilang Amin Berkali-kali

"Pesut ini mampu berenang hingga berpuluh-puluh mil saat bermigrasi," kata Rendra. Selain itu, keberadaan pesut ini mampu menarik kunjungan wisatawan asing ke Kukar. "Saya pernah mendampingi langsung turis asal Prancis untuk melihat pesut," ucapnya. (*)

Penulis: Rahmad Taufik
Editor: Sumarsono
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved