'Hand Tapping', Tato Tradisional Suku Dayak yang Kembali Menggeliat
Ini adalah pemandangan yang terlihat dalam festival tato, Ber Ink Man, yang diadakan oleh komunitas tato, Balikpapan Tattoo Lovers.
Teknik tato tradisional yang sudah turun temurun dipakai oleh beberapa suku di Indonesia, termasuk Suku Dayak di Kalimantan.
"Tetapi sekarang sudah nggak banyak lagi yang begini," tutur Ucin.
"Di beberapa tempat sudah hilang, makanya kami berusaha agar teknik ini bisa terus ada, dan diturunkan sampai ke generasi berikutnya."
Dirinya bercerita, bahwa dia mulai belajar menjadi seniman tato sejak tahun 2011.
"Tapi saya baru belajar membuat tato dengan teknik tradisional ini sejak tiga tahun lalu, saya belajar otodidak," katanya.
"Ini alatnya saya buat sendiri. Tongkat jarum dan tongkat pukulnya saya buat dari kayu ulin. Kenapa saya ingin belajar ini, karena ya tadi, saya ingin melestarikan budaya yang sudah mulai dilupakan."
Izi, yang menemani Ucin, bercerita keduanya berasal dari Kampung Dayak, di Bangun Reksa, Balikpapan.
Mereka bersama komunitas Dayak yang ada di kampungnya tengah berusaha agar Balikpapan menjadi tempat tujuan wisata untuk mengenal budaya Dayak, termasuk tato tradisional.
"Karena Balikpapan ini kan pintu gerbang Kalimantan Timur, jadi begitu orang turun di bandara, harapannya mereka bisa menemukan tempat yang ada hubungannya dengan budaya Kalimantan, tanpa harus pergi terlalu jauh,"
Kendati demikian, dirinya mengakui tidak bisa melakukan teknik tato 'hand tapping' seperti yang dilakukan Ucin.
"Makanya untung aja orang semacam pak Ucin mau terus eksis di bidang ini. Ya mungkin untuk tato-tato modern, masyarakat Indonesia senang, tapi untuk orang-orang dari luar negeri mereka mencari yang unik," jelasnya.
Bahkan diceritakan olehnya ada artis internasional yang datang beberapa waktu lalu ke bumi Kalimantan pun, mencari seniman tato dengan teknik 'hand tapping.'
"Kemarin Jon Bon Jovi waktu datang ke sini, nyarinya tato tradisional. Padahal, di negaranya kalau masalah tato kan sudah jauh lebih maju daripada kita," tukasnya.
Dia bercerita, bahwa saat ini citra tato masih kerap dipandang negatif oleh masyarakat.
Tetapi, dia mengingatkan, pada zaman dahulu bagi orang Dayak tato ditujukan untuk perlindungan dari berbagai macam energi negatif, dan motif-motif yang dirajah pun memiliki makna mendalam bagi pemiliknya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/tato-hand-tapping.jpg)