Meski Makin Banyak Pihak yang Peduli, Kehidupan Orangutan di Kaltim Makin Terancam
Aktivitas ekonomi berbasis pembukaan lahan menjadi ancaman serius keberlangsungan populasi orangutan di Bumi Etam (sebutan Kaltim).
Penulis: Rafan Dwinanto |
Meski Makin Banyak Pihak yang Peduli, Kehidupan Orangutan di Kaltim Makin Terancam
TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Kondisi ribuan orangutan di Kalimantan Timur makin terancam. Meskipun, makin hari makin banyak pihak yang peduli terhadap konservasi orangutan.
Aktivitas ekonomi berbasis pembukaan lahan menjadi ancaman serius keberlangsungan populasi orangutan di Bumi Etam (sebutan Kaltim). Ancaman ini, bakal terus terjadi di masa mendatang.
Koordinator Peneliti dari Ecology and Conservation Center for Tropical Studies (Ecositrops), Yaya Rayadin mengungkapkan, 80 persen orangutan Kaltim, hidup di luar kawasan konservasi.
"Jadi 80 persen orangutan hidup di perkebunan sawit, hutan tanaman industri (HTI), pertambangan, kebun masyarakat, bahkan sampai di hutan mangrove. Hanya sedikit yang hidup di rumahnya, yakni Taman Nasional dan hutan lindung," kata Yaya, usai acara Diseminasi Kehidupan Orangutan di Multifungsi Landcape, yang berlangsung di Hotel Amaris Samarinda, Selasa (29/1/2019).
Tim Khusus Sebut Ada Kantung Gas Bumi di Bawah Tanah di Musibah Kebakaran Manggar Sari
Tahun Ini Pemkot Balikpapan tak Dapat Aliran Jargas, Ternyata Ini Penyebabnya
Pemkot Balikpapan Bangun Klinik Anak Berkebutuhan Khusus, Dilengkapi Fasilitas Kolam Renang
Yaya menjelaskan, secara umum tantangan konservasi orangutan makin meningkat. Kondisi habitat orangutan makin memprihatinkan.
"Kegiatan pembukaan kawasan jalan terus, HTI, sawit, tambang bahkan harga lagi bagus jadi penambangan marak. Jadi kondisinya semakin menantang dan parah. Orangutan tersebar dimana-mana," ucapnya.
Namun, kata Yaya, kesadaran akan konservasi orangutan pun terus meningkat. Proses penegakan hukum terhadap pembantaian orangutan, diakui Yaya, memberi efek jera.
"Banyak perusahaan yang jera," ungkap Yaya.
Selain itu, perhatian dunia internasional terhadap isu konservasi orangutan semakin meningkat. Perusahaan yang memasarkan komoditinya secara internasional, kerap diminta menunjukkan bukti peduli terhadap konservasi orangutan.
"Menariknya kesadaran makin meningkat. Terutama di beberapa perusahaan sawit, HTI, tambang, khususnya yang pemasarannya internasional. Karena ada permintaan internasional tentang laporan konservasi orangutan. Ada tambang pinjam mau pinjam dana ke bank internasional, oleh bank diminta dokumen konservasi orang utannya. Itu kemajuan positif," katanya lagi.
Meski demikian, ancaman terhadap kelangsungan hidup orangutan, menurut Yaya, semakin besar.
"Faktanya pembukaan kawasan yang merupakan habitat orangutan jalan terus," kata dosen di Fakultas Kehutanan, Universitas Mulawarman, ini.
Sopir Angkot Demo Geruduk Kantor Gubernur Kaltim, Mengaku Pendapatan Tak Cukup untuk Keluarga
Tak Sebut Nama Pevita Pearce, Ini Tanggapan Ariel Noah Saat Ditanya Nonton Sama Siapa
Dengan kondisi demikian, Yaya juga tak bisa memerkirakan masa depan orangutan di Bumi Kaltim. Terutama yang berada di luar kawasan konservasi.
"Dari riset kami, yang memengaruhi kondisi orangutan itu kualitas pakan dan habitat. Habitat terganggu, pakan terganggu, oranguta berkurang. Di hutan yang sehat, berat induk orangutan itu berkisar 50 kg," ucapnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/orangutan-1.jpg)