Potensi Kebakaran Hutan dan Lahan Meningkat, BMKG Minta Pemda Waspada, Salah Satunya Kaltim!
BMKG mengimbau Pemda, Instansi terkait, dan masyarakat di wilayah terdampak untuk terus waspada dan siap siaga terhadap kebakaran hutan dan lahan
Penulis: Doan Pardede | Editor: Syaiful Syafar
TRIBUNKALTIM.CO - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika atau BMKG memberikan informasi terkini seputar potensi kebakaran lahan dan kebakaran hutan di sejumlah Indonesia.
Pantauan TribunKaltim.co, Jumat (22/2/2019) informasi terkini seputar potensi kebakaran hutan dan lahan tersebut disampaikan dalam rilis di laman resmi BMKG www.bmkg.go.id pada, Kamis (21/2/2019).
Jokowi Sebut Tak Terjadi Kebakaran Hutan Selama 3 Tahun Terakhir, Ini Bantahan Greenpeace Indonesia
Pendatang asal Samarinda Burhanudin tak Tahu Rumahnya Masuk Kawasan Budidaya Kehutanan Wilayah Kukar
Musim Kemarau Waspada, Pemkab Berau Minta Swasta Ikut Berperan Atasi Kebakaran Hutan dan Lahan
7 Kesalahan Data Jokowi dalam Debat Capres, Mulai Kebakaran Lahan hingga Konflik Agraria
Di awal rilisnya, BMKG menyampaikan catatan, yakni periode kemarau pertama akan dialami di Pesisir Sumatera bagian Tengah dan Kalimantan bagian Barat, serta adanya potensi meningkatnya kebakaran hutan dan lahan di Riau.
Berdasarkan analisis BMKG, curah hujan di sepuluh hari pertama pada bulan Februari, menunjukkan curah hujan kategori rendah yang tampak di :
- Sebagian besar Provinsi Aceh
- Sumatera Utara dan Riau
- Sebagian Kalimantan Utara dan Timur
- Gorontalo
- Sebagian Sulawesi Tengah.
Peta analisis hari tanpa hujan berurutan di wilayah Sumatera menunjukkan beberapa tempat di pesisir timur Aceh, Sumatera Utara, dan Riau terindikasi mengalami hari kering berurutan 6 - 20 hari (kategori pendek dan menengah).
Di Riau, hari tanpa hujan kategori panjang (21 - 30 hari) telah terjadi di Rangsang, Rangsang Pesisir dan daerah Tebing Tinggi.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Herizal, menjelaskan jika selama sepuluh hari kedua pada bulan Februari 2019, wilayah subsiden/kering mendominasi wilayah Indonesia hingga sepuluh hari terakhir di bulan Februari 2019, yang ditengarai sebagai MJO (Madden Julian Oscillation/massa udara basah) fase kering.
Kondisi ini, tambahnya, akan menyebabkan proses konvektif (penguapan) dan pembentukan awan hujan terhambat.
"Kondisi kurang hujan di wilayah-wilayah tersebut didukung oleh kondisi troposfer bagian tengah yang didominasi kelembaban udara yang relative rendah. Ini sesuai dengan peta prediksi spasial anomali radiasi balik matahari gelombang panjang (OLR)," kata Herizal.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/helikopter-bnpb-berusaha-memadamkan-api-akibat-kebakaran-hutan-dan-lahan-di-kerumutan.jpg)