Ledakan Mortir Peninggalan Zaman Perang Dunia II, TNI Tutup Jalan Sangatta Bengalon

Benda mortir peninggalan Perang Dunia II di Kutai Timur. Pihak Kodam VI/Mulawarman & Kodim 0909/Sangatta meledakan mortir peninggalan Perang Dunia II.

Ledakan Mortir Peninggalan Zaman Perang Dunia II, TNI Tutup Jalan Sangatta Bengalon
HO/Penerangan Korem 091/Aji Surya Natakesuma
Benda Mortir peninggalan Perang Dunia II di Kutai Timur. Jajaran Kodam VI/Mulawarman, bersama Kodim 0909/Sangatta meledakan mortir peninggalan Perang Dunia II di eks area tambang PT Damanka. 

Dilihat dari batu nisan, nama-nama jenazah memakai nama khas orang erpa Belanda namun tidak meninggalkan fam dari suku asal. Seperti di antaranya ada dari suku Ambon, suku Sanger, dan suku Minahasa. 

Sebagai contoh, ungkap Heri, di lokasi makam tua ditemukan ada batu nisan yang bertuliskan gaya Belanda. 

“Hier Rust Onze, Geliefde Dochtertje yang dimakamankan bernama Rolly Filma Supit.”

Heri menganalisis, itu nama Rolly Filma merupakan khas orang Belanda, begitu pun tulisan di makam tua itu juga menggunakan bahasa Belanda. Jenazah merupakan anak-anak. Lahir tahun 1943 dan meninggal dunianya 16 Maret 1946. 

Dia memprediksi, orang yang meninggal dunia dan dikuburkan di Asrama Bukit paling banyak anak-anak seperti balita. Usia umur yang dilihat dari informasi batu nisan, rata-rata antara tiga tahun sampai empat tahun.  

“Pernah ada wabah Malaria sama penyakit conge, cairan yang keluar dari telinga, menyerang ke anak-anak. Dirawat di rumah sakit tidak bisa diselamatkan nyawanya, meninggal duni lalu dikuburkan di daerah situ yang dekat,” tutur Heri warga kelahiran Balikpapan ini. 

• Viral di Medsos, Bayi di Sragen Diberi Nama Joko Widodo Maruf, Ini Alasan Orangtua

• Prediksi Pertandingan Persib Bandung vs Arema FC, Kick Off Pukul 15.00 WIB

Kebanyakan yang dikubur dalam makam ini bukan orang dewasa dan bukan asli orang Belanda. Paling, saat itu makam hanya diperuntukan buat orang-orang nusantara yang telah bercampur aduk dengan Hindia Belanda. 

“Disitu kan dulu mungkin banyak orang dari Manado yang memang sudah sangat dekat sama Belanda,” ujar Heri. 

Belum lama ini, ungkap Heri, tim dari Balai Pelestarian Sejarah dan Cagar Budaya Provinsi Kalimantan Timur di Kota Samarinda berkunjung ke makam tua Hindia Belanda di Asrama Bukit Balikpapan. 

Tim datang ke lokasi mengamati dan mendata beberapa peninggalan di makam tua. “Sudah diregistrasi pada November 2018 tapi secara resmi belum bisa dikatakan sebagai peninggalan cagar budaya. Belum ada sidang tim ahli cagar budaya,” ungkapnya.    

Semestinya jadi Tempat Wisata Sejarah

Saat itu Tribunkaltim.co bersama dengan Komunitas Balikpapan Tempoe Doloe berkunjung ke lokasi makam tua Hindia Belanda di Asrama Bukit Kecamatan Balikpapan Barat, Minggu (17/2/2019) sore.  

Situasi makam tua Hindia Belanda ini diselimuti semak belukar, rumput-rumput hijau tumbuh tinggi menutupi beberapa makam. Dilihat dari jarak sekitar lima meter dari pintu masuk kawasan makam, tidak terlihat liang kubur makam tua sebab tertutup pohon rindang yang rimbun.

Pada bagian nisan dan beton liang kubur pun nampak kusam. Lumut hijau dan debu yang tebal menutupi makam tua. Keberadaan makam tua Hindia Belanda di Asrama Bukit Kota Balikpapan ini tidak banyak yang tahu. 

Satu di antaranya, Amalia Putri Eka, mengaku baru pertama kali tahu ada makan tua di Asrama Bukit. Amalia ikut dalam rombongan komunitas Balikpapan Tempoe Doloe. 

“Penasaran saja, ternyata Balikpapan banyak sejarahnya. Baru pertama saya lihat ini, ternyata ada juga yang makam yang sudah lama sampai tidak terawat begini,” ungkapnya kepada Tribunkaltim.co di lokasi makam tua. 

Dia pun sangat berharap kepada pemerintah daerah untuk memberi perhatian kepada hal-hal yang bernilai sejarah tempo dahulu. Makam tua merupakan saksi biksu sebelum munculnya negara bernama Indonesia, bisa dikatakan sejarah yang mengawali adanya kemerdekaan Indonesia. 

Sebaiknya makam tua seperti ini dirawat dan dikelola secara baik. Pastinya bisa menjadi lokasi yang asyik, buat wisata kota sejarah yang memberi makna dan nilai edukasi zaman dahulu. 

“Kenapa tidak kita bersihkan saja kita kelola sampai dipercantik. Makam tua ini kan sarat sejarah, bagus buat wisata edukasi,” tutur Amalia. (*) 

Penulis: Christoper Desmawangga
Editor: Budi Susilo
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved