Kontes Ternak Puluhan Sapi di Bulungan, Penilaian Kesehatan Kulit Sampai Lebar Dada

Puluhan sapi di Bulungan diikutsertakan dalam Kontes Sapi Ternak yang diadakan Dinas Pertanian Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara. Semua sapi oke.

Kontes Ternak Puluhan Sapi di Bulungan, Penilaian Kesehatan Kulit Sampai Lebar Dada
TRIBUNKALTIM/MUHAMMAD ARFAN
Puluhan sapi di Bulungan diikutsertakan dalam Kontes Sapi Ternak yang diadakan Dinas Pertanian Kabupaten Bulungan. Kegiatan ini juga bekerjasama dengan Dinas Peternakan Provinsi Kalimantan Utara, Kamis (21/3/2019). 

Pada tahun 2013, pernah ada sapi di Bulungan berbobot satu ton lebih dan dibeli oleh Presiden Joko Widodo saat Idul Adha tahun 2014.

"Untuk populasi sapi di Bulungan sudah stabil sekitar 8.000 ekor. Peternak-peternak tradisional sebelum ada IB, kita tarik untuk mengikuti IB untuk memperbaiki kualitas," ujarnya.

Manfaatkan Kotoran Sapi Buat Masak

Ada kisah fakta, yakni warga Balikpapan masih kerap kesulitan mencari gas subsidi elpiji 3 kg atau gas melon. 

Pasokan yang terbatas, harga yang terjangkau, permintaan yang tinggi, membuat barang ini seperti laris manis, keluar dari pabrik langsung ludes diburu konsumen.    

Namun tidak bagi Sadikun (45), petani di Teritip, Balikpapan Timur.

Lokasi tempat tinggalnya yang jauh dari pusat perbelanjaan dan pemerintahan, gaya hidup Sadikun serasa tenang, dirinya secara mandiri bisa memenuhi energi gas. 

Dia tidak perlu harus sibuk mencari ke sana kemari, atau sampai membela diri harus antre berburu gas subsidi ukuran tiga kilogram.

Kebutuhan bahan bakar gas Sadikun sudah terpenuhi secara mandiri, tidak perlu membeli di warung dengan harga yang selangit. 

Di bagian belakang rumah hunian Sadikun terdapat kandang kayu yang dihuni 11 ekor sapi ternak.

Semuanya milik dia.

Pengembangan Biogas Kotoran Sapi Bernilai Ganda bagi Masyarakat

Sapi sudah berusia muda, dipelihara sejak lama, era tahun 1980.

Melalui ternak sapi inilah, Sadikun mendapat berkah dari kotoran sapi yang bisa disulap menjadi Biogas. 

Saat Tribunkaltim.co sambangi kediamannya, Jl Artomoro, RT 14 Kelurahan Teritip, Kecamatan Balikpapan Timur, Kota Balikpapan, Senin (28/1/2019), Sadikun sedang bersantai, santap siang di rumahnya. 

Dirinya bercerita banyak, termasuk satu di antaranya mengenai soal swasembada energi gas yang bersumber dari kotoran sapi ternaknya.

“Saya pakai Biogas. Kotoran sapi saya olah, saya tampung pada sebuah bak, lalu dibuat jadi biogas,” ujarnya. 

Berkat pengolahan kotoran sapi menjadi Biogas, Sadikun bisa mendapatkan energi gas yang digunakan untuk memasak.

Koleksi sapi yang berjumlah puluhan ekor, membuat Sadikun gratis bahan bakar gas. 

“Sejak pakai Biogas, saya tidak pernah beli gas di warung. Mau masak sudah ada disini. Hasilnya sama-sama bagus, apinya biru. Saban hari saya gratis, tidak mengeluarkan uang untuk beli gas,” kata pria kelahiran Tuban, Jawa Timur ini. 

Infrastruktur pembangunan Biogas saat itu Sadikun mendapat bantuan dari pemerintah, sekitar tahun 1989.

Dirinya bersama warga lainnya dibuatkan alat pembuat Biogas.

Sampai sekarang, beberapa warga di Teritip ini mengandalkan Biogas. 

Biogas Pilihan Strategis Energi Listrik Terbarukan

Diam-diam PT Hutan Hijau Berau Bangun Biogas Engine

Pabrik Biogas Terbesar di Dunia Diresmikan di Finlandia

“Pemerintah melihat disini warganya banyak yang ternak sapi, kenapa tidak sekalian saja dibuat biogas. Kami setuju saja, bagus. Tidak perlu lagi cari kayu bakar atau gas untuk buat masak,” ungkapnya. 

Menurutnya, kotoran sapi sebanyak 10 ekor saja sudah sangat banyak untuk kebutuhan pembuatan Biogas.

Sebaliknya, kotoran sapi bisa tersisa buat yang lain seperti untuk pembuatan pupuk kompos, dipakai untuk tanaman di kebunnya, seperti di antaranya buat pupuk pohon pepaya, buah naga, dan kangkung. 

Keberadaan Kampung Artmoro Teritip, tempat tinggal Sadikun, memang secara administratif pemerintahan masuk wilayah Kota Balikpapan tapi atmosfirnya masih berkesan pemukiman desa. 

Lahan terbuka hijau masih lebar dan luas, sebagian besar warganya mengandalkan pertanian dan peternakan sapi.

Secara jumlah kepala keluarga totalnya ada 122 Kelapa Keluarga, sebagian besar memakai gas dari biogas olahan kotoran sapi

Hidup mengandalkan pada alam sekitar masih sangat mudah dicari, tanahnya pun subur, ditanami berbagai macam tanaman selalu berhasil, tumbuh bagus dan berbuah melimpah ruah.

“Mau cari rumput-rumput buat makanan sapi saya masih mudah di sini,” ungkapnya. 

Asalkan, imbuh Sadikun, tidak bermalas-malasan.  

“Saya bisa bertahan hidup disini. Ada usaha kerja keras dan kreatifitas, saya bisa berkembang disini. Saya ternak sapi awalnya hanya dua tapi lama-lama bisa puluhan ekor, kalau lagi musim lebaran haji sering saya jual laku banyak,” katanya. ( )

   

Penulis: Muhammad Arfan
Editor: Budi Susilo
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved