Pemilu 2019
VIDEO EKSKLUSIF - Suasana Pemilu 2019 di Sebatik, Perbatasan Indonesia - Malaysia, Begini Tradisinya
Gempita Pemilu 2019 juga dirasakan warga Sebatik, Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara. Warga pun sukarela meminjamkan kolong rumahnya sebagai TPS
Penulis: Aris Joni | Editor: Amalia Husnul A
"Sebetulnya teman-teman hampir semua rumahnya memiliki kolong.
Tapi, dari semua, rumah saya saja yang kolongnya besar dan lokasinya strategis di pinggir jalan," ucapnya.
Ia menambahkan, TPS kolong ini sudah menjadi budaya tiap penyelenggaraan pesta demokrasi lima tahunan di Sebatik.
Hanya saja, dalam penyediaannya juga tetap dilakukan seleksi agar tidak menggunakan rumah warga yang terlibat parpol dan timses caleg.
Lihat videonya:
Warga Sebatik Lebih Kenal Capres Ketimbang Caleg di Daerahnya
Masih banyak warga Kecamatan Sebatik, Nunukan, Kalimantan Utara yang belum mengenal calon legislatifnya (caleg) baik DPRD Kabupaten, DPRD Provinsi maupun DPR RI.
Hj Hajarah, warga perbatasan di Patok 3 Aji Kuning, Kecamatan Sebatik Tengah misalnya.
Dia mengaku tidak mengenal siapa caleg di Kabupaten Nunukan. Tapi, ia lebih mengenal Capres dan Cawapres dibanding calegnya.
Menurutnya, selama ini dirinya yang berada tepat di perbatasan RI-Malaysia masih kurang mendapat sosialisasi terkait pengenalan calon peserta pemilu.
"Kalau calon presiden saya tau, Jokowi dan Prabowo. Tapi kalau caleg, Aiss.. nda kenal aku," ungkap wanita paruh baya itu.
Sementara itu masih di lokasi yang sama di Patok 3 perbatasan, wanita yang lahir di Tawau Malaysia, Nuraini (35) mengatakan dirinya juga turut mencoblos di Indonesia, tepatnya di TPS 02 Aji Kuning, Kecamatan Sebatik Tengah.
"Saya memang dari lahir di Malaysia, baru 2014 lalu saya pindah ke Sebatik Tengah ini ikut suami. Tapi saya warga Indonesia dan mencoblos di Indonesia. Anak saya juga sekolah di Indonesia saat ini," jelasnya. Selasa (16/4/2019).
Dirinya berharap, presiden yang terpilih nanti akan lebih memperhatikan wilayah perbatasan, baik dari segi infrastruktur maupun kesejahteraan masyarakat seperti Air, Listrik dan kebutuhan pokok.
Diakuinya, hingga saat ini di daerahnya belum teraliri air bersih PDAM, bahkan, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, dirinya harus membeli air yang diambil dari bukit senilai Rp 75 ribu satu tangki.
"Itu cukup untuk dua Minggu. Kalau habis dan air yang sudah dibeli tidak ada, kita juga sambil menapung air hujan," pungkasnya.
Ia juga menambahkan, terkait kebutuhan pokok, mayoritas warga di perbatasan masih mengambil kebutuhan pokok dari Tawau Malaysia yang jarak tempuh hanya sekitar 10 menit melalui sungai dari Patok 3 Aji Kuning Kecamatan Sebatik Tengah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/salah-satu-tps-di-sebatik-yang-menggunakan-kolong-rumah-warga.jpg)