Senin, 11 Mei 2026

Pemilu 2019

Banyak Petugas KPPS Meninggal Dunia, TKN Milenial Jokowi-Maruf Galang Donasi

Jajaran TKN Jokowi-Ma'ruf juga mengumpulkan sumbangan sendiri untuk para petugas KPPS yang wafat.

Tayang:
(KOMPAS.com/JESSI CARINA)
TKN Milenial Jokowi-Maruf mengajak masyarakat untuk tabur bunga sebagai bentuk belasungkawa atas meninggalnya petugas KPPS dalam Pemilu 2019, di area car free day, Bundaran HI, Sabtu (28/4/2019). 

TRIBUNKALTIM.CO - Banyaknya petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang wafat dalam penyelenggaraan Pemilu 2019, mendorong Tim Kampanye Nasional (TKN) Milenial Jokowi-Ma'ruf ikut mengumpulkan donasi.

Sumbangan tersebut merupakan bentuk belasungkawa TKN Milenial Jokowi-Ma'ruf.

"Dari kami sendiri sudah menyiapkan bentuk-bentuk bantuan tersebut. Baik finansial ataupun moral," ujar Deny ketika ditemui dalam kegiatan tabur bunga di Bundaran Hotel Indonesia, Minggu (28/4/2019).

Dia mengatakan, sumbangan ini berbeda dengan yang diberikan oleh TKN Jokowi-Ma'ruf.

Jajaran TKN Jokowi-Ma'ruf juga mengumpulkan sumbangan sendiri untuk para petugas KPPS yang wafat.

Kata Deny, sumbangan ini merupakan inisiatif mereka.

Namun, TKN Milenial tidak memiliki akses ke seluruh keluarga petugas KPPS di Indonesia.

Oleh karena itu, sementara ini mereka baru bisa memberikan sumbangan kepada keluarga yang bisa mereka akses saja.

"Pokoknya yang bisa kami akses ya kami akses dan yang tidak bisa ya kalau ada jejaring kami di daerah, bisa menyampaikan ya akan disampaikan," ujar dia.

Hari ini, TKN Milenial Jokowi-Ma'ruf juga melakukan kegiatan tabur bunga di Bundaran HI.

Mereka mengajak masyarakat yang sedang berkegiatan di area car free day untuk meletakan bunga di sebuah papan bertuliskan "Terima Kasih Pejuang Demokrasi".

Adapun, jumlah anggota Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) meninggal dunia bertambah menjadi 272 orang.

Selain itu, sebanyak 1.878 anggota KPPS dilaporkan sakit.

Angka ini mengacu pada data Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sabtu (27/4/2019) malam.

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Banyak Petugas KPPS Meninggal Dunia, TKN Milenial Jokowi-Maruf Kumpulkan Donasi, http://www.tribunnews.com/pilpres-2019/2019/04/28/banyak-petugas-kpps-meninggal-dunia-tkn-milenial-jokowi-maruf-kumpulkan-donasi?page=all.

Terus Bertambah

 Korban meninggal dunia dan sakit akibat kelelahan selama pencoblosan Pemilu 2019 terus bertambah.

Jumlah anggota Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara ( KPPS) meninggal dunia bertambah menjadi 225. Itu baru angka dari KPU. Belum termasuk korban dari kepolisian yang mengawal, dan pengawas lainnya.

Selain itu, sebanyak 1.470 anggota KPPS dilaporkan sakit. Angka ini mengacu pada data KPU per Kamis (25/4/2019) pukul 18.00 WIB.

"Bertambah, jumlah anggota wafat sebanyak 225, sakit 1.470, total yang tertimpa musibah 1.695," kata Viryan saat dikonfirmasi, Kamis (25/4/2019).

Mengacu pada data Rabu (24/4/2019), jumlah anggota KPPS yang terdata meninggal bertambah sebanyak 81, dan anggota yang sakit 587. Anggota KPPS yang meninggal maupun sakit sebagian besar disebabkan karena kelelahan dan kecelakaan. 

KPU berencana memberikan santunan kepada keluarga KPPS yang meninggal dunia dan anggota yang sakit.

Menurut Ketua KPU Arief Budiman, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) telah menyetujui usulan KPU soal pemberian santunan ini.

Namun demikian, belum ada kepastian mengenai besaran anggaran santunan yang disetujui oleh Kemenkeu.

"Kemarin kita sudah rapat (dengan Kemenkeu). Sampai dengan hari ini, prinsipnya (usulan santunan) sudah disetujui," kata Arief di kantor KPU, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (24/4/2019).

"Tinggal Kementrian Keuangan akan menetapkan besarannya berdasarkan usulan kita, cuma saya belum update apakah usulan kita disetujui seratus persen atau tidak," sambugnya.

KPU mengusulkan, besaran santunan untuk keluarga korban meninggal dunia kisaran Rp 30-36 juta. Untuk KPPS yang mengalami kecelakaan sehingga menyebabkan kecacatan, dialokasikan Rp 30 juta.

Sementara untuk korban luka, besaran santunan yang diusulkan ialah Rp 16 juta.

Sebelumnya, data Komisi Pemilihan Umum ( KPU) Selasa (23/4/2019) pukul 16.30 WIB meyebutkan yang meninggal dunia saat ini bertambah menjadi 119 orang. Selain itu, 548 orang dilaporkan sakit.

 
"Petugas kami yang mengalami kedukaan ada 667 orang, 119 meninggal dunia, 548 sakit," kata Komisioner KPU Viryan Azis di kantor KPU, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (23/4/2019).

Jumlah tersebut tersebar di beberapa kabupaten/kota di 25 provinsi. Anggota KPPS yang meninggal dunia maupun sakit disebabkan karena kelelahan dan kecelakaan.

Irsan, anggota KPPS di Kabupaten Magetan yang meninggal diduga mengalami kelelahan dalam melaksanakan kegiatan Pemilu 2019, dimakamkan hari ini. (KOMPAS.com/DOK RIZAL)

KPU berencana memberikan uang santunan kepada keluarga petugas yang meninggal maupun mereka yang sakit.

Data KPU Senin (22/4/2019) sore menyebutkan, sebanyak 90 anggota KPPS meninggal dunia usai bertugas. Jumlah ini berasal dari sejumlah daerah di 15 provinsi di Indonesia.

Komisi Pemilihan Umum (KPU) akan mengevaluasi penyelenggaraan Pemilu Serentak 2019.

Masih dilansir TribunKaltim.co darikompas.com, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengunjungi rumah duka almarhum Sunaryo (58) di Kelurahan Kapas Madya Barat, Kecamatan Tambaksari, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (25/4/2019).

Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini, saat mengunjungi rumah duka petugas KPPS yang meninggal, yakni Sunaryo, di Kelurahan Kapas Madya Barat, Kecamatan Tambaksari, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (25/4/2019).
Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini, saat mengunjungi rumah duka petugas KPPS yang meninggal, yakni Sunaryo, di Kelurahan Kapas Madya Barat, Kecamatan Tambaksari, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (25/4/2019). (KOMPAS.com/GHINAN SALMAN)

Cerita Istri KPPS Meninggal

Sunaryo adalah ketua KPPS 13, Kelurahan Kapas Madya Barat, Kecamatan Tambaksari, Surabaya. Di rumah duka, Risma ditemui istri Sunaryo, yakni Munasri dan anak semata wayangnya, Hanif.

Sambil terisak, Munasri menceritakan kondisi suaminya selama bertugas di TPS 13. Menurut dia, suaminya itu bekerja sekitar 27 jam saat pemungutan suara 17 April 2019 lalu.

Bahkan, Sunaryo yang juga seorang guru tidak sempat beristirahat. Keesokannya ia langsung mengajar di SDN Ploso 5 Surabaya.

Ia menduga, suaminya meninggal karena kelelahan. Kata Munasri, setelah bertugas di TPS, Sunaryo hanya istirahat satu jam.

Pada Kamis (18/4/2019), suaminya itu langsung mengajar di sekolah. Di rumah, Sunaryo disebut sempat muntah dan mengeluarkan dahak serta mengalami gangguan pernafasan.

Di hadapan Risma, Munasri meminta maaf apabila suaminya belum tuntas melaksanakan tugasnya sebagai ketua KPPS di TPS 13, Kelurahan Kapas Madya Barat, Kecamatan Tambaksari, Surabaya.

"Bu Risma, saya minta maaf kalau suami saya belum tuntas menjalankan tugasnya," kata Munasri, Kamis.

Mendengar cerita Munasri, Risma ikut terharu dan menyampaikan bela sungkawa. Ia menyebut, Sunaryo merupakan pahlawan yang telah membantu proses pelaksanaan pemilu di Surabaya berjalan dengan lancar.

Risma juga meminta maaf kepada Munasri karena tidak bisa berbuat banyak hingga Sunaryo dikabarkan meninggal dunia.

Ia lantas memberikan dorongan semangat kepada keluarga yang ditinggalkan agar tabah dan sabar dalam menjalani cobaan.

"Bapak sudah membantu menyukseskan pemilu, saya berterima kasih sekali," ucap Risma.

Jasad Thomy Heru Siswantoro, petugas KPPS TPS 019, Kelurahan Pacar Keling, Tambaksari, Surabaya, disemayamkan di Karanggayam Teratai, Tambaksari, Surabaya, Kamis (25/4/2019).(KOMPAS.com/GHINAN SALMAN)

Untuk membalas jasa dan pengorbanan yang sudah dilakukan Sunaryo, Risma berjanji akan membantu biaya sekolah putra Sunaryo dan Munasri berupa bantuan beasiswa.

"Ibu yang sabar ya. Nanti saya uruskan beasiswa putranya. Kita bantu untuk biaya pendidikannya," katanya.

Selain putra Sunaryo, Risma akan membantu anak-anak keluarga KPPS di Surabaya yang meninggal.

"Nanti untuk masalah sekolahnya itu kirim surat ke Pak Camat atau ke lurah, biar nanti kita bantu untuk sekolahnya," tutur Risma.

Putra Munasri dan Sunaryo, Hanif, saat ini sedang menempuh pendidikan tinggi di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya.

Hanif mengucapkan terima kasih karena Pemkot Surabaya ikut membantu keluarga, termasuk biaya pendidikannya selama kuliah. "

Alhamdulillah, saya bersyukur. Insya Allah ini bisa meringankan beban saya sampai lulus kuliah," kata dia.

Diduga karena Kelelahan Berdasarkan data Bangkesbangpol Linmas Kota Surabaya, empat orang petugas KPPS di Surabaya meninggal diduga kelelahan seusai menjalankan tugas.

Mereka adalah Sunaryo (58), Ketua KPPS TPS 13, Kelurahan Kapas Madya Baru Kecamatan Tambak Sari; Thomy Heru Siswantoro, anggota KPPS TPS 19, Kelurahan Pacar Keling, Kecamatan Tambak Sari; Badrul Munir, anggota KPPS TPS 19 Kelurahan Kedung Baruk, Kecamatan Rungkut, dan; Hariono (36), petugas linmas TPS 45 Kelurahan Kandangan Kecamatan Benowo. 

[Fitria Chusna Farisa]

BACA JUGA

Korban Terus Bertambah, Anggota KPPS Meninggal 225 Orang 1.470 Sakit, Cerita Istrinya Bikin Haru

Pemungutan Suara Ulang di 2 TPS di Tarakan Berjalan Lancar, Ada Honor Tambahan untuk KPPS

Jadi Buruh Cuci Untuk Hidupi 2 Anak, Beginilah Kehidupan Istri Anggota KPPS yang Meninggal di Solo 

Walikota Surabaya Tri Rismaharini Lakukan Ini di Sela-sela Melayat ke Rumah KPPS yang Meninggal

Banyak Petugas KPPS Meninggal Dunia, Ini Saran Ace Hasan

 

Likes dan Follow Fanspage Facebook

Follow Twitter

Follow Instagram

Subscribe official YouTube Channel

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved