Hakim MK Saldi Isra Sebut Kuasa Hukum Prabowo-Sandi Terlalu Banyak Permintaan, Ini Penjelasannya

Hakim Mahkamah Konstitusi Saldi Isra menilai kuasa hukum Prabowo-Sandi, Teuku Nasrullah terlalu banyak permintaan. Ini penyebabnya

Hakim MK Saldi Isra Sebut Kuasa Hukum Prabowo-Sandi Terlalu Banyak Permintaan, Ini Penjelasannya
Tribunnews/Jeprima
Ketua Tim Hukum Tim Badan Pemenangan Nasional (BPN), Bambang Widjojanto (kanan) menghadiri sidang sengketa hasil Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 di Gedung Mahkamah Konstitusi (MK), Jakarta Pusat, Selasa (18/6/2019). Sidang Perselisihan Hasil Pemilihan Umum atau Sengketa Pilpres 2019 mengagendakan pembacaan tanggapan pihak termohon dalam hal ini Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan pihak terkait dalam hal ini Tim Kampanye Nasional (TKN). 

TRIBUNKALTIM.CO - Mahkamah Konstitusi sudah menggelar lima kali sidang sengketa Pilpres 2019.

Seri terakhir berlangsung Jumat (21/6/2019) hingga tengah malam.

Kendati kedua kubu yakni BPN Prabowo-Sandi, dan Jokowi-Maruf sudah diberi kesempatan membeber bukti dan saksi, namun hal itu dirasa belum cukup.

Adalah kubu Prabowo-Sandi yang memohon untuk diberikan kesempatan tambahan membuktikan dalil kecurangan terstruktur sistematis dan massif.

Anggota tim hukum Prabowo-Sandi Teuku Nasrullah meminta izin kepada hakim Mahkamah Konstitusi untuk memutar bukti video pihaknya di sidang kelima sengketa hasil suara Pilpres 2019, pada Jumat (21/6/2019).

Bukan satu atau dua, Teuku Nasrullah berharap 10 sampai 20 video yang dapat dipertunjukan di sidang tersebut.

Hakim Mahkamah Konstitusi Saldi Isra langsung menanggapi pernyataan dari Teuku Nasrullah itu.

Mulanya Teuku Nasrullah menyebut sebagain besar masyarakat Indonesia memintanya untuk memutar bukti video yang disebut merekam kecurangan terstruktur, sistematif, dan massif (TSM).

"Ini ada permintaan sebagian besar masyakrat Indonesia, karena sudah kami ajukan dalam alat bukti P37, A44, dan seterusnya, yaitu video-video yang terkait dengan ee kecurangan-kecurangan yang bersifat TSM," kata Teuku Nasrullah dikutip TribunJakarta.com dari YouTube TV One, pada Sabtu (22/6/2019).

Ketua MK Anwar Usman, mengatakan agar video tersebut sebaiknya langsung diserahkan saja kepada MK.

"Ya diserahkan saja," ucap Anwar Usman.

Seolah tak mendengarkan perkataan Anwar Usman, Teuku Nasrullah kembali mengulangi ucapannya.

Ia berharap 10 sampai 20 bukti video dari 88 yang diajukan dapat di putar di Mahkamah Konstitusi, agar pihaknya dapat membuktikan sederet gugatan yang mereka ajukan.

"Kami meninginkan memang ada sekitar 88 video kami menginginkan agar diperkenankan memutar 10 sampai 20 video agar kami bisa membuktikan dalil-dalil kami itu," tegas Teuku Nasrullah.

Saldi Isra menjelaskan bukti video tersebut akan dipelajari hakim Mahkamah Konstitusi saat pembahasan internal.

Ia mengatakan waktu yang ada tak memungkinkan untuk memutar 20 bukti video seperti yang disampaikan Teuku Nasrullah.Teuku Nasrullah tiba-tiba memotong penjelasan Saldi Isra, ia mengatakan video-video tersebut hanya berdurasi tiga menit.

"Pak Nasrullah sepanjang itu sudah jadi alat bukti yang diserahkan nanti kami akan mempelajari dan akan kami tayangkan di pembahasan internal," jelas Saldi Isra.

"Kalau 20 itu diputar sekarang dan tidak mungkin, dan waktu untuk pemohon sudah sudah selesai, jadi semua itu diserahkan," tambahnya.

"Setiap durasi itu hanya tiga menit," celetuk Teuku Nasrullah.

Saldi Isra lantas mengungkapkan apabila Teuku Nasrullah terlalu banyak permintaan, maka hal tersebut dapat menyusahkan pihak Mahkamah Konstitusi.

"Pak Nasrullah terlalu banyak permintaan susah juga, pokoknya serahkan kan ke kita tayangkan dalam rapat permusyawarahan hakim," tegas Saldi Isra.

"Baik majelis, kami hormati keputusan itu," kata Teuku Nasrullah sambil mengangguk.

Empat saksi langsung dihadirkan kubu pasangan calon presiden (capres) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dalam lanjutan sidang perselisihan hasil pemilihan umum (PHPU) Pilpres 2019 di Mahkamah Konstitusi, Jakarta Pusat, Rabu (19/6/2019). Keempat saksi tersebut diantaranya adalah Listiani, Nur Latifah, Beti Kristiana dan Tri Hartanto. Tribunnews/Jeprima
Empat saksi langsung dihadirkan kubu pasangan calon presiden (capres) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dalam lanjutan sidang perselisihan hasil pemilihan umum (PHPU) Pilpres 2019 di Mahkamah Konstitusi, Jakarta Pusat, Rabu (19/6/2019). Keempat saksi tersebut diantaranya adalah Listiani, Nur Latifah, Beti Kristiana dan Tri Hartanto. Tribunnews/Jeprima (Tribunnews/JEPRIMA)

Teuku Nasrullah Diprotes KPU Karena Ucap Ini Saat Tanya Saksi 01

Anggota tim hukum Prabowo-Sandiaga, Teuku Nasrullah diprotes salah seorang komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) di sidang kelima sengketa hasil suara Pilpres 2019 di Mahkamah Konstitusi (MK), pada Jumat (21/6/2019).

Teguran tersebut terjadi terkait ucapan Teuku Nasrullah saat bertanya kepada saksi kedua dari kubu Jokowi-Maruf Amin, Anas Nashikin.

Mulanya Teuku Nasrullah membahas soal acara Training of Trainers (TOT) di sebuah hotel di bilangan Jakarta, 20-21 Februari lalu.

"Tadi saudara menyampaikan acara ToT ini tertutup dan terbatas untuk saksi 01, betul ya?" tanya Teuku Nasrullah dikutip TribunJakarta.com dari tayangan langsung Kompas TV.

"Betul," jawab Anas Nashikin.

Teuku Nasrullah kemudian mempertanyakan ucapan saksi yang menyebut di acara tersebut KPU, Bawaslu, dan DKPP turut hadir.

2

Saksi Ahli KPU dan Tim Hukum Prabowo-Sandi Saling Minta Maaf di Mahkamah Konstitusi, Ini Alasannya

Jubir TKN: Sidang Mahkamah Konstitusi Buat Rakyat Tahu, Kecurangan Pilpres Hanya Asumsi dan Persepsi

"Tadi saudara mengatakan, mungkin ini saya keliru, bahwa ada KPU, Bawaslu, dan DKPP ya?" tanya Teuku Nasrullah.

"Hadir," kata Anas Nashikin.

Ia lantas menjelaskan kala itu, KPU, Bawaslu, dan DKPP hadir untuk memberikan materi kepada peserta ToT terkait Pemilu 2019.

"KPU memberikan materi yang berkaitan dengan tata kinerja dan kelola terkait Pemilu," jelas Anas Nashikin.

Teuku Nasrullah lantas bertanya alasan pihak Jokowi-Maruf Amin mengundang KPU di acara tersebut.

Ia mengatakan apakah KPU memiliki hubungan khusus dengan saksi dai pihak 01.

"Kenapa saudara menghadirkan KPU? Apakah saudara sudah menempatkan KPU dari bagian yang tak terpisahkan dari saksi-saki 01?" telisik Teuku Nasrullah.

Tiba-tiba komisioner KPU menyatakan keberatannya terhadap pernyataan Teuku Nasrullah.

"Keberatan yang mulia," ucap komisioner KPU.

Hakim Mahkamah Konstitusi Manahan M P Sitompul, meminta Anas Nashikin untuk menjawab pertanyaan Teuku Nasrullah.

"Saudara saksi tidak tahu jawab tidak tahu," kata Manahan M P Sitompul

"Kami mengundang beliau dalam rangka memberikan gambaran seperti apa pemilu, aturannya, hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan.

Di mana letak tahapan yang rumit, itu yang ingin kami dalami, kami juga mengundang LSM," jelas Anas Nashikin.

"Tolong dipahami agar berbagai modus kecurangan dapat kami antisipasi," tambahnya.

Komisioner KPU memotong pembicaraan ia kembali menyampaikan keberatannya.

Ia lantas meminta Teuku Nasrullah untuk mencabut pernyatannya itu.

"Izin yang mulia," katanya,

"Mulia kami keberatan dengan pernyataan dan pertanyaan Nasrullah yang menyatakan seolah-seolah KPU yang menjadi bagian tak dipisahkan dari pihak tertentu, ini ditonton seleuruh rakyat,"

"Saya mohon itu dicabut Pak Nas," tambahnya.

Teuku Nasrullah dengan tegas menolak ucapnnya soal KPU yang memiliki hubungan khusus dengan saksi 01.

"Saya tidak akan mencabut pernyataan itu karena itu sudah dinyatakan acara ToT saksi untuk 01," ucap Teuku Nasrullah.

"Yang mulia kami selalu hadir apabila diundang peserta Pemilu," imbuh komisioner KPU.

"Kami juga hadir jika diundang 02." tambahnya.

Perdebatan antara Teuku Nasrullah dan komisioner KPU terus terjadi, hingga Manahan M P Sitompul akhirnya memberikan teguran keras.

"Mohon maaf Majelis," ucap Teuku Nasrullah. (*)

Subscribe Official Channel YouTube:

Baca juga:

Kredibilitasnya Sebagai Ahli Diragukan Bambang Widjojanto, Jawaban Guru Besar UGM Ini Elegan

VIDEO Deddy Corbuzier Ungkap jadi Mualaf, Bantah Ganti Keyakinan Hanya karena Wanita

BREAKING NEWS - Kecalakaan di KM 13 Balikpapan Pengendara Motor Tewas di Tempat

Begini Cara Kevin Aprilio Lunasi Utang Rp 17 M yang Menjeratnya, Harus Kerja Seolah Anda Mati Besok

TERPOPULER - 4 Pekerja Pabrik Mancis Selamat Berkat Makan Siang, Pipit: Kawanku Semua Habis

Artikel ini telah tayang di Tribunjakarta.com dengan judul Tim Hukum Prabowo Minta Belasan Bukti Video Diputar, Hakim MK: Terlalu Banyak Permintaan Susah Juga, https://jakarta.tribunnews.com/2019/06/22/tim-hukum-prabowo-minta-belasan-bukti-video-diputar-hakim-mk-terlalu-banyak-permintaan-susah-juga?page=all.

Editor: Rafan Arif Dwinanto
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved