Sejarah Hari Ini

SEJARAH HARI INI: Jubir FPI Munarman Siram Air ke Wajah Tamrin Amal Tomagola saat Live di TV

Kala itu, Juru Bicara Front Pembela Islam (FPI) Munarman SH menyiram secangkir air kepada lawan bicaranya saat tampil live di televisi.

Capture YouTube VIVA.CO.ID
SEJARAH HARI INI: Jubir FPI Munarman Siram Air ke Wajah Tamrin Amal Tomagola saat Live di TV 

TRIBUNKALTIM.CO - Sejarah Hari Ini mengingatkan kita pada peristiwa enam tahun silam, tepatnya 28 Juni 2013. Kala itu, Juru Bicara Front Pembela Islam (FPI) Munarman SH menyiram secangkir air kepada lawan bicaranya saat tampil live di televisi.

Insiden Jubir FPI Munarman menyiram secangkir air kepada pengamat sosial, Tamrin Amal Tomagola, terjadi saat keduanya hadir sebagai narasumber dalam perbincangan di acara Apa Kabar Indonesia Pagi, yang disiarkan secara langsung oleh tvOne, Jumat (28/6/2013) pagi.

Keduanya dihadirkan untuk membahas pelarangan sweeping di tempat hiburan malam selama bulan Ramadhan.

Silang pendapat antara keduanya terjadi saat membahas aksi sweeping.

Munarman menyatakan tak sependapat dengan apa yang dilontarkan Tamrin.

"Sekarang, beliau ini melihat hilirnya. Ketika masyarakat, ibu-ibu, mengambil tindakan sendiri, tidak...," ujar Munarman, yang kemudian dipotong Tamrin.

"Dengar dulu, Anda tidak tahu apa yang Anda maksud," kata Tamrin.

Munarman kemudian terlihat emosi.

"Anda diam kalau saya lagi ngomong," kata Munarman sambil mengambil cangkir di depannya dan menyiramkannya ke wajah Tamrin.

Tamrin sesaat terlihat terdiam.

Sementara Munarman masih berbicara, "Anda kelewatan, Anda diam kalau saya lagi ngomong," ujarnya.

Aksi Munarman ini langsung menghebohkan para pengguna Twitter.

Sejumlah pengguna Twitter langsung berkicau mengecam tindakan tidak terpuji ini.

Bahkan, ada yang menyebar foto dan video saat insiden penyiraman terjadi.

Merespons insiden ini, tvOne, melalui akun @akipagi_tvone, menyampaikan permintaan maaf.

"Segenap crew apa kabar Indonesia memohon maaf kepada pemirsa atas kejadian tidak terduga yang baru saja terjadi," demikian tulis akun tersebut.

Sementara itu, melalui akun Twitter-nya, @tamrintomagola, Tamrin menyatakan tak mau melayani preman.

"Biarkan publik yg menilai n beri hukuman sosial yg setimpal. Sy tdk mau melayani preman," tulisnya setelah acara berlangsung.

Simak videonya:

Anggap Intelektual Sampah

Munarman sendiri mengaku tak menyesal atas tindakannya tersebut.

Menurut Munarman, aksinya itu dilatarbelakangi argumentasi Tamrin yang sudah keluar dari substansi perdebatan tentang pelarangan sweeping di tempat hiburan malam selama bulan Ramadhan.

"Saya memang melakukan itu karena argumentasinya sudah di luar konteks. Saya anggap dia itu intelektual sampah," kata Munarman saat dimintai tanggapannya, seperti dilansir Kompas.com.

Baca juga: Sejarah Hari Ini: 26 Juni Hari Anti Narkotika Internasional atau HANI, Begini Asal Mulanya

Hanya, Munarman mengatakan, dirinya akan mempertanggungjawabkan tindakannya tersebut.

Dia mengaku siap bila masalah tersebut diperpanjang sampai ke ranah hukum.

"Saya akan ladeni dia, saya tidak takut. Karena dalam diskusi itu, argumentasinya ngawur. Makanya, dia saya sebut intelektual sampah," tegas Munarman lagi.

Enggan Lapor Polisi

Tamrin Amal Tomagola enggan memperpanjang masalah tersebut ke ranah hukum.

Guru Besar Sosiologi UI itu mengaku banyak dorongan untuk melaporkan Munarman ke polisi.

Namun, Tamrin mengaku tidak mau melayani preman.

"Saya enggak akan melanjutkan. Banyak yang mengusulkan. Istri saya minta saya melaporkan ke polisi, begitu juga keluarga di kampung saya, harus hajar, lipat dia. Saya bilang, kalau saya tanggapi dengan kekerasan, saya sama dengan dia, preman. Saya enggak mau melayani preman," kata Tamrin, dilansir Kompas.com.

Tanggapan Komnas HAM dan KontraS

Terkait insiden Munarman siram air ke wajah Tamrin Amal Tomagola, Komnas HAM menilai, Munarman tidak siap untuk berdemokrasi.

"Ini menunjukkan kalau dia (Munarman) tidak siap untuk berdemokrasi," kata Komisioner Bidang Koordinasi Sub Komisi Pengkajian dan Penelitian Komnas HAM, Roichatul Aswidah, di Kantor Komnas HAM, Jumat (28/6/2013), dilansir Kompas.com.

Baca juga: Sejarah Hari Ini: Operasi Face Off Pertama di Indonesia atas Pasien Lisa, Begini Kondisinya Sekarang

Akan tetapi, Roichatul tidak dapat memberikan komentar lebih dalam atas aksi penyiraman tersebut karena ini merupakan permasalahan personal yang tidak masuk ke dalam permasalahan lembaganya.

Namun menurutnya, kecenderungan tindak kekerasan di Indonesia sudah saatnya harus dihentikan.

Meski demikian, Roichatul mengatakan, menindak aksi kekerasan tidak harus mengesahkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Ormas.

Menurutnya, untuk penindakan tersebut, telah ada aturan hukum yang berlaku.

"Itu yang saya katakan, tapi itu tidak bisa menjustifikasi RUU Ormas harus disahkan karena kekerasan itu sudah memiliki instrumen KUHP. Bahwa negara kita harus tegas tehadap kekerasan oleh organisasi dan individu," ujarnya.

Baca juga: Sejarah Hari Ini: 10 Tahun Lalu Nasrudin Zulkarnaen Tewas Ditembak, Kasusnya Seret Antasari Azhar

Sementara itu Koordinator Komisi Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (KontraS), Harris Azhar, kepada VOA Indonesia menjelaskan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) seharusnya bisa melakukan pengawasan terhadap stasiun-stasiun televisi yang menyajikan tontonan seperti itu.

"Harusnya peristiwa itu dijadikan momentum bagi sejumlah pihak. Dalam hal ini KPI harus lebih tegas kepada media-media televisi yang menyajikan tayangan-tayangan seperti itu. Yang kedua ini ada unsur pidana dan polisi harus segera bekerja," papar Harris Azhar. (*)

Subscribe Official YouTube Channel:

Baca juga:

Akibat Ciuman Malam Pertama Terlalu Keras, Wanita Ini Meninggal Dunia, Simak Penjelasan Medisnya

VIRAL Rekaman CCTV Aksi Begal Payudara di Purwakarta, Ternyata Ini Fakta Sebenarnya

Resmi, Song Joong Ki Layangkan Gugatan Cerai Atas Song Hye Kyo, Song Song Couple Berpisah

Benarkah Efek Coating Bakal Hilang Jika Mobil Sering Diparkir di Tempat Panas?

Jorge Lorenzo Sebut Motor Honda Hanya Dibuat untuk Marquez

Penulis: Syaiful Syafar
Editor: Kholish Chered
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved