TNI Buang Sedimentasi SKM di Dua Lubang Eks Tambang Batu Bara
Ditargetkan, dalam tiga bulan proses pengerukan di sekitar Gang Nibung selesai, dengan estimasi tercepat pengerukan sekitar satu bulan setengah
Penulis: Christoper Desmawangga | Editor: Samir Paturusi
TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Memasuki hari kedua proses normalisasi Sungai Karang Mumus (SKM), sejak Selasa (16/7) pagi tadi sejumlah personel TNI telah memulai melakukan pengerukan.
Pengerukan menggunakan 1 unit excavator amphibi serta sejumlah dump truck. Pada tahap awal normalisasi, pengerukan difokuskan di sekitar Gang Nibung hingga jembatan Perniagaan, sekitar komplek Pasar Segiri, Kota Samarinda.
Ditargetkan, dalam tiga bulan proses pengerukan di sekitar Gang Nibung selesai, dengan estimasi tercepat pengerukan sekitar satu bulan setengah.
Pada pengerukan tersebut dilakukan dengan jarak 1,2 Km, dan volume mencapai 10 ribu - 12 ribu M³, dengan menghabiskan anggaran mencapai Rp 1,9 Miliar khusus di sekitar Gang Nibung hingga jembatan Perniagaan.
Kasi Teritorial Korem 091/ASN, Kolonel ARH M Jamaludin Malik, didampingi Kepala Penerangan (Kapen), Kapten ARH Azrul Azis menerangkan, proses pengerukan telah dimulai sejak, Senin (16/7) kemarin.
Nantinya, sedimentasi dari SKM yang berada di sekitar Gang Nibung hingga jembatan Perniagaan akan dibuang ke lubang bekas galian tambang di kawasan Bengkuring dan Jalan HM Ardans.
"Pembuangan akhir ke dua lubang bekas tambang sesuai dengan rekomendasi dari Dinas ESDM, sedangkan limbah plastik akan dibuang ke TPA," ucapnya, Selasa (16/7/2019).
Namun demikian, jika volume sedimentasi yang didapatkan lebih banyak dan lubang bekas tambang tidak mencukupi, pihaknya pun akan mencari tempat lain untuk menampung sedimentasi tersebut.
"Kalau saat ini masih mencukupi, tapi kalau kedepannya pengerukan diperluas hingga ke hulu, butuh tempat yang lebih luas lagi," jelasnya.
Sejauh ini, pihaknya hanya mengoperasikan alat berat untuk mengeruk sedimentasi di saat kondisi sungai sedang surut. J
ika sungai tengah pasang, aktivitas pengerukan dihentikan, kendati excavator amphibi tetap dapat beroperasi saat kondisi sungai pasang.
"Bisa beroperasi, tapi tidak efektif. Jadi, kita akan mulai pengerukan saat sungai sedang surut. Kita mulai pengerukan pukul 08.00 - 16.00 Wita, tapi kalau saat malam sungai surut, kita tetap lakukan pengerukan. Jadi kita akan lembur," urainya.
Direncanakan, dalam jangka waktu lima hari kedepan, armada lainnya akan merapat ke Gang Nibung, berupa mini ponton, untuk dapat lebih memaksimalkan pengerukan.
Bahkan, pihaknya akan kembali menambah armada pada pengerukan tahap selanjutnya. "Untuk saat ini cukup, nanti saat tahap selanjutnya kita akan tambah armada," kata Kasi Ter kepada Tribunkaltim.co.
Sejauh ini, Korem 091/ASN mengerahkan alat berat berupa excavatr amphibi 1 unit, excavator biasa 1 unit, dan dump truck 6 unit. Serta kelengkapan lainnya, seperti linggis, palu, arco, gergaji hingga cangkul.