G30S/PKI Pecah di Jakarta, Kesaksian Koesman, Gejolaknya Juga Merembet ke Balikpapan Kaltim
G30S/PKI ini disangkut pautkan dengan keberadaan Partai Komunis Indonesia atau PKI, siapa pun yang berhubungan dengan PKI maka akan ditindaklanjuti.
Penulis: Ilo | Editor: Cornel Dimas Satrio Kusbiananto
Selama zaman kemerdekaan perang dunia kedua, Koseman dikenal sebagai intelejen tentara rakyat Indonesia di perang Sangasanga Kutai Kartanegara.
Dan berlanjut sebagai sukarelawan yang tergabung di gerakan konfrontasi dengan Malaysia.
Usai Indonesia berdaulat, merdeka dari Belanda dan Jepang, Koesman tidak lagi menjadi bagian dari tentara, atau yang dahulu bernama Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI).
Jalan hidup yang dipilih Koesman kala itu sebagai orang sipil, veteran perang.
Dirinya bekerja di perusahaan swasta perminyakan, yang waktu itu masih bernama BPM dan tergabung dalam serikat buruh yang berbasiskan organisasi NU atau Nahdlatul Ulama.
Dia mengaku, tahun 1965 sebelum ada peristiwa pembunhan para jendral di Kota Jakarta, Kota Balikpapan banyak diisi orang-orang yang berafiliasi dengan PKI.
Terutama warga masyarakat yang mendiami daerah di Gunung Empat Kota Balikpapan.
“Di Gunung Empat banyak simpatisan organisasi yang berada di bawah PKI. Saya ingat ada Pemuda Rakyat, ada Barisan Tani Indonesia dan Gerwani,” urainya.
Setelah ada kabar pasukan cakrabirawa menculik dan membunuh para jendral di Jakarta, warga Balikpapan juga telah mengetahui informasinya, tak terkecuali Koesman.
Kabar panasnya politik di Jakarta sampai ke Balikapapan didapat Koesman dari siaran radio yang ada di perumahan karyawan perusahaan minyak.
Nah, Koesman waktu itu menumpang mendengar radio di rumah orang karena di rumahnya belum terlairi listrik dan tidak memiliki radio.
“Satu radio didengar banyak orang. Yang mendengar banyak sekali, bukan saya sendiri. Orang-orang sampai mengerubungi radio,” katanya.
Informasi yang terpancar di radio itu disampaikan secara langsung oleh Kolonel Untung, pemimpin pemberontak 30 September.
Kala itu, Koesman ingat, pesan yang disampaikan bahwa peristiwa duka di Jakarta itu dianggap momen biasa.
Kejadian jelang dini hari itu merupakan perebutan kekuasaan dari orang-orang yang dicap sebagai kapitalis, pro negara barat.