G30S/PKI Pecah di Jakarta, Kesaksian Koesman, Gejolaknya Juga Merembet ke Balikpapan Kaltim

G30S/PKI ini disangkut pautkan dengan keberadaan Partai Komunis Indonesia atau PKI, siapa pun yang berhubungan dengan PKI maka akan ditindaklanjuti.

Penulis: Ilo | Editor: Cornel Dimas Satrio Kusbiananto
Tribunkaltim.co/BudiSusilo
Prajitno Joyodiharjo Koesman, pejuang veteran Balikpapan saat di kediamannya pada Rabu (27/9/2017) di Jalan Panjaitan Sumber Rejo, Balikpapan Tengah. 

Kolonel Untung bilang di radio bagi prajurit yang ikut berjuang, yang pro PKI dinaikkan pangkat dua tingkat.

Yang tidak pro pada PKI tidak naik pangkat.

Kejinya Aksi G30S/PKI, Jenderal A Yani Alami 13 Luka Tembak dan MT Haryono Penuh Luka Tusuk

Kisah Kiriman Patung dari Sosok Misterius Kepada Soeharto Sebelum Pecahnya G30S/PKI

"Seakan para Jendral itu disamakan dengan Untung yang masih berpangkat kolonel,” tutur Koesman.

Memasuki tahun 1965, nakhoda Kodam Mulawarman, Pangdam Suharyo alias Hario Kecik sudah digantikan oleh Pangdam kelahiran Probolinggo bernama Soemitro, yang jabatan sebelumnya sebagai Ketua Dewan Perencana Angkatan Darat di tahun 1963.

“Yang saya tahu Pangdam Sumitro itu tidak pro PKI. Dikenal orang yang dekat sama agamawan. Dalam setiap waktu Pangdam Sumitro rajin bertemu dengan ulama, pastor, pendeta,” urainya.

Begitu ada kejadian pembunuhan jendral yang dikatakan didalangi orang-orang PKI dan beberapa tentara militer, keadaan Balikpapan berganti wujud.

Warga di beberapa tempat pasang kuda-kuda, berjaga diri di tempat tinggalnya masing-masing.

Alasannya, jelas Koesman, untuk menghindari dari ancaman serangan dari orang-orang yang dekat dengan PKI.

Peristiwa di Kota Jakarta dianggap berbahaya, ditakutkan merembet ke daerah Balikpapan, karena itu ada warga yang mewaspadai.

G30S/PKI, Dugaan Kudeta Merangkak Mayjend Soeharto dan Pembangkangan Perintah Soekarno

Berbeda dengan yang Diberitakan, Inilah Pengakuan Dokter yang Otopsi Jasad Korban G30S/PKI

“Bekas pejuang, orang yang tidak pro PKI seperti orang-orang PNI, Masyumi, Pemuda Anshor, pemuda katolik, berjaga-jaga. Takut kalau juga dapat serangan dari orang-orang pengikut PKI,” katanya.

Apalagi di Gunung Empat tempat tinggal Koesman, kepala lingkungan dan Ketua RT sebagai gembong organisasi Pemuda Rakyat, terlibat dalam Perbum dan Barisan Tani, yang ditakutkan orang-orang ini memobilisasi warga untuk membuat kericuhan.

“Saya ikut Pemuda Anshor. Saya ikut Sarekat Buruh Minyak dan Tambang di bawah ormas Nadhlatul Ulama. Saya sudah siap kalau ada apa-apa. Teman-teman sekitar saya juga sudah siap,” ungkapnya.

(Tribunkaltim.co/BudiSusilo)

Sumber: Tribun Kaltim
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved