Kamis, 11 Juni 2026

Harga Batu Bara Anjlok, APBD Berau Diproyeksikan Turun Rp 170 Miliar

Dampak penurunan harga batu bara mulai dirasakan oleh masyarakat Berau. Saat ini sejumlah perusahaan tambang batu bara

Tayang:
TribunKaltim/Geafry Necolsen
Anjloknya harga batu bara, memaksa sejumlah perusahaan tambang menurunkan produksi batu bara. Hal ini berdampak terhadap pengurangan kebutuhan alat berat dan tenaga kerja. 

TRIBUNKALTIM.CO – Dampak penurunan harga batu bara mulai dirasakan oleh masyarakat Berau.

Saat ini sejumlah perusahaan tambang batu bara pun mulai melakukan langkah efisiensi.

Bahkan salah satu perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan sudah mulai merumahkan karyawan dan kemungkinan untuk melakukan Pemutusan Hubungan Kerja.

Pencemaran Pantai Manggar, Walikota Balikpapan Rizal Effendi Duga Batu Bara dari Kapal Tongkang

Permintaan Batu Bara Menurun BI Optimis Ekonomi Stabil, Peningkatan Sumber Ekonomi Baru dari Pangan

Lokasi Ibu Kota Baru RI di Kalimantan Timur Dikepung Izin Tambang Batu Bara

Buruh Unjuk Rasa di Kantor Bupati Berau, Tuntut Perusahaan Batu Bara tak Bayar Upah dan PHK Sepihak

Bupati Berau, Muharram kepada para wartawan mengatakan, turunnya harga batu bara jelas akan berdampak terhadap perekonomian masyarakat Berau, termasuk Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Berau.

Pasalnya menurut Muharram, APBD Berau sebagian besar berasal dari Dana Bagi Hasil (DBH) di sektor pertambangan.

“61 persen pendapatan kita bersumber dari dana perimbangan pemerintah pusat. Dari Dana Bagi Hasil sektor pertambangan,” kata Muharram.

Bahkan beberapa hari lalu, kata Muharram, pihaknya mendapat informasi, APBD Berau tahun 2020 diproyeksikan akan mengalami penurunan sekitar Rp 130 hingga Rp 170 miliar, sebagai dampak anjloknya harga batu bara ini.

“Harga batu bara yang menurun, otomatis akan menyebabkan produksi batu bara menurun. Kalau produksi menurun, maka dana bagi hasil dari pemerintah pusat juga akan turun. Bahkan kemarin saya dapat informasi, kalau APBD kita 2020 nanti akan mengalami penurunan Rp 170 miliar,” ungkapnya di Ruang Rapat Sangalaki, Sekretariat Pemkab Berau, Selasa (1/10/2019).

Penurunan harga batu bara ini juga dikhawatirkan akan memicu terjadinya gelombang PHK dan mengakibatkan peningkatan jumlah pengangguran.

Karena itu, kata Muharram, sejak dirinya menjabat sebagai kepala darerah bersama Wakil Bupati Berau, Agus Tantomo, terus berupaya mendorong pengembang sektor lain, selain tambang batu bara dan perkebunan sawit.

Pemkab Berau mulai menjalankan program Gebrakan Pariwisata sejak tahun 2016.

Melalui program ini, pemerintah ingin menggerakan roda prekonomian masyarakat, sekaligus peningkatan pendapatan pemerintah daerah dari retribusi dan pajak hotel dan restoran.

Sektor unggulan perkebunan seperti jagung, bawang, kakao dan sebagainya terus digenjot. Termasuk sektor yang memiliki potensi besar, yakni perikanan juga terus didorong untuk meningkatkan produksinya.

Sektor-sektor ini, kelak diharapkan dapat melepaskan ketergantungan terhadap sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui seperti batu bara.

(*)

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved