VIRAL Komentar Andi Arief Minta Jokowi Ajak SBY dan JK Bicara soal Kerusuhan Papua
Politikus Partai Demokrat Andi Arief pernah berkomentar terkait kerusuhan di Papua. Dalam komentarnya, Andi Arief menyebut nama Jokowi, SBY, dan JK
Penulis: Syaiful Syafar | Editor: Amalia Husnul A
TRIBUNKALTIM.CO - Politikus Partai Demokrat Andi Arief pernah berkomentar terkait kerusuhan di Papua.
Dalam komentarnya, Andi Arief menyebut nama Jokowi, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dan Jusuf Kalla (JK).
Diketahui, terjadi kerusuhan di Wamena, Papua pada Senin (23/9/2019).
Kerusuhan itu berawal dari aksi unjuk rasa siswa di Kota Wamena, Papua.
• Pengungsi Beberkan Pelaku Kerusuhan di Wamena Bukan Mahasiswa Semua Tua-tua, Berjenggot-jenggot
• Menolak Dituding Penyebab Kerusuhan di Papua, Oknum PNS ini Ajukan Praperadilan
• Partai Gerindra Kecewa Andi Arief Tak Ditegur, Begini Respons Andi Mallarangeng
• Turut Antre Saat Layat Ani Yudhoyono Lalu Cium Tangan SBY, Andi Arief Puji Kaesang Pangarep
Demonstran bersikap anarkistis hingga membakar rumah warga, kantor pemerintah, PLN, dan beberapa kios masyarakat.
Unjuk rasa yang berujung kerusuhan itu diduga dipicu oleh perkataan bernada rasial seorang guru terhadap siswa di Wamena.
Komandan Kodim 1702/Jayawijaya Letkol Inf Candra Dianto menyatakan bahwa korban tewas berjumlah 33 orang.
Pihak kepolisian sudah menetapkan tujuh tersangka terkait kerusuhan yang terjadi di Wamena, Papua, Senin (23/9/2019).
"Ke-tujuh tersangka yang diduga sebagai pelaku kerusuhan di Wamena tersebut sudah ditetapkan proses penahanannya," kata Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabagpenum) Polri Kombes Pol Asep Adi Saputra di Gedung Humas Mabes Polri, Jakarta Selatan, Kamis (3/10/2019), dilansir Kompas.com.
Saat ini, polisi mengklaim situasi di Wamena sudah kondusif dan aktivitas ekonomi serta sosial pun telah berjalan normal.
"Berdasarkan info di Polda Papua, khususnya Polres Wamena dikatakan hari ini seluruh kegiatan secara sosial dan ekonomi berjalan normal," ungkapnya.
Aparat TNI-Polri di Wamena, katanya, juga melakukan upaya-upaya pemulihan keamanan.
Terkait kerusuhan tersebut, Wasekjen Partai Demokrat Andi Arief juga mengutarakan curhatnya di media sosial.
Andi Arief meminta Presiden Jokowi mengajak dialog dua tokoh bangsa, yakni Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Jusuf Kalla terkait konflik di Papua saat ini.
"Pak Jokowi, kita masih punya dua orang tua Pak @SBYudhoyono dan Pak Jusuf Kalla yang pernah menyelesaikan berbagai konflik dari Ambon, Poso, Sampit, Aceh dll. Keduanya berpengalaman, ada baiknya ajak keduanya berbicara atas apa yang terjadi di Papua saat ini," tulis Andi Arief di Twitter pada Senin (29/9/2019) lalu.
Cuitan Andi Arief ini menjadi viral di media sosial.
Ada yang setuju, namun tak sedikit pula yang menganggap Andi Arief hanya pansos alias (panjat sosial).
"Entahlah kenapa musti malu demi bangsa... infrastruktur yg dibanggakannya menjadikannya jumawa," tulis @RicKY_KCh.
"Kenapa musti malu dan sombong sih ...kan terbukti skrg permasalahan bangsa ini sedemikian kompleksnya bukan hy infrastruktur dan investasi saja yg dipikirkan.....malu bertanya sesat dijalan...," tulis @RaisaTjokrodnta.
"Bukannya pak JK sudah disampingnya?" sahut @her_alone.
"Lha kalau negarawan yaa berbuat aja lah..," tulis @Bangiikbekasi.
"Jangan menyepelekan Pak Jokowi kaya gitu. Beliau itu sangat berkualitas dan dipercaya dapat memimpin bangsa ini," tulis @masdukiend.
"na berarti jaman pak SBY saja ada konflik di di ambon, poso, sampi, aceh...kan itu juga sudah terjadi berbulan bulan malah...ini blm lama bbrp tempat malah sudah mulai kondusif??...berarti kali ini jauh lebih baik....mas andi gimana sih malah membuka borok yg lebih parah??" sahut @hansdoy.
Jokowi Buka Suara
Sehari setelah kerusuhan di Wamena pecah, Presiden Joko Widodo (Jokowi) buka suara.
Jokowi menyebut, sejumlah perusuh yang menyebabkan 33 orang tewas di Wamena, Papua, sudah ditangkap kepolisian.
"Polisi telah menangkap beberapa tersangka yang melakukan pembunuhan dan pembakaran yang ada di Wamena," kata Jokowi di Istana Kepresidenan, Bogor, Senin (30/9/2019), dilansir Kompas.com.
Meski demikian, Presiden tidak merinci berapa yang ditangkap dan identitas mereka.
Presiden hanya menyebutkan bahwa para perusuh tersebut merupakan kelompok kriminal bersenjata yang selama ini menyerang TNI/Polri di Papua.
Oleh sebab itu, Presiden menekankan, kerusuhan di Papua bukanlah disebabkan konflik etnis, melainkan ulah dari kelompok kriminal bersenjata.
"Jadi jangan ada yang menggeser-geser menjadi seperti sebuah konflik etnis, itu bukan. Ini adalah kelompok kriminal bersenjata yang dari atas di gunung turun ke bawah dan melakukan pembakaran pembakaran rumah warga," kata dia.
Presiden pun mengimbau warga di Wamena tak perlu melakukan eksodus ke luar daerah.
Ia mengklaim aparat keamanan sudah bisa mengamankan situasi.
Presiden Jokowi juga mengirimkan bantuan untuk pengungsi Wamena.
Bantuan tersebut tiba di Lanud Dilas Papare, Jayapura.
Bantuan berupa bahan makanan, akan dibagikan kepada pengungsi yang ada di Wamena dan Jayapura.
Pesawat hercules yang mengangkut bantuan dari presiden, tiba di Lanud Silas Papare, Jayapura, Rabu (2/10/2019) siang.
Bantuan bahan makanan seberat 11 ton, akan dibagikan kepada ribuan pengungsi yang berada di posko pengungsian, baik di Jayapura maupun Wamena.
Bantuan untuk pengungsi di Wamena akan diangkut menggunakan Pesawat Hercules milik TNI Angkatan Udara, yang juga beroperasi menjemput pengungsi.
JK Nilai Ada yang Kompori
Sementara itu, Wakil Presiden Jusuf Kalla menilai, ada pihak yang mencoba memanas-manasi konflik di Papua.
Ini terlihat dari rentetan kerusuhan besar di Papua dalam sebulan terakhir.
"Ya tentu ada yang komporinnya, tetapi yang salah juga yang membuat isu-isu itu yang menyebabkan terjadinya (kerusuhan). Keduanya harus dikaitkan," ujar Kalla di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, Selasa (1/10/2019).
"Memang ada suasana sejak lama, katakan ada OPM, gerakan yang ingin merdeka. Suasana itu ada. Nah begitu ada percikan, langsung membesar seperti itu," kata dia.
Terlebih, kata Wapres, pemicu dua kerusuhan besar di Papua itu sama, yakni kata-kata yang rasial.
Wapres meminta masyarakat di Papua tak mudah terpancing hal yang dapat memecah belah mereka di sana.
Wapres mengingatkan, warga asli Papua dan pendatang merupakan satu kesatuan yang membangun Papua menjadi makmur.
Apalagi, lanjut Wapres, keberadaan warga pendatang juga turut membangun perekonomian di Papua.
Karena itu, ia meminta masyarakat asli dan pendatang tetap bersatu seperti dulu dan tak terpancing dengan isu yang memecah belah mereka.
"Hati-hati kepada kata-kata atau statement yang menyebabkan salah pengertian akibat semua masuk medsos. Medsos itu cepat sekali. Kalau dibiarkan tentu berbahaya," ujar Kalla.
"Jangan lupa, yang pendatang bukan hanya mencari kehidupan tetapi juga bangun daerah. Dia membangun perekonomian daerah. Kalau mereka tidak bersama-sama masyarakat (asli), bangun daerah itu agak sulit," kata Kalla lagi.
Anggota MPR Menangis
Anggota MPR Fraksi PDI-P Dapil Papua Barat Jimmy Demanius Ijie menangis saat menyampaikan pendapatnya di Sidang Paripurna 2 MPR di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (2/10/2019).
Jimmy memprotes jalannya rapat yang bertele-tele dalam menentukan agenda pemilihan Ketua MPR di tengah berlangsungnya konflik di Papua.
"Saya melihat kita ini sedang memperlihatkan sandiwara yang tidak lucu. Hanya berebut kursi kekuasaan di lembaga ini. Dan tidak memperlihatkan sense of crysis kita. Ada persoalan kemanusiaan yang luar biasa terjadi di Papua," ujar Jimmy sembari menangis tersedu.
Ia menilai interupsi demi interupsi yang muncul dalam Sidang Paripurna 2 hanya tidak etis lantaran melupakan permasalahan di Papua, khususnya Wamena, yang tengah bergejolak.
Sebagian warga Wamena juga mengungsi ke tempat yang aman akibar kerusuhan tersebut.
• Andi Arief Minta Jokowi-Prabowo segera Bertemu, Ingatkan Momen SBY-JK 10 Tahun Lalu
• Ketika Pertemuan AHY dengan 8 Kepala Daerah Dipertanyakan, Andi Arief Malah Merasa Aneh
• Menahan Tangis, Ustaz Abdul Somad UAS Tanggapi Rusuh di Wamena: Kita Adalah Nusantara
• Ada yang Tak Pernah Ganti Pakaian hingga Alami Trauma, 6 Fakta Nasib Pengungsi Kerusuhan Wamena
Karenanya, ia meminta para anggota MPR berhenti saling menginterupsi dalam rapat tersebut dan segera memilih Ketua MPR agar keberadaannya bisa segera dirasakan masyarakat Papua.
"Kita di lembaga ini untuk bicara bangsa. Kita hanya berebut kekuasaan semata.
Sementara orang Papua membutuhkan kehadiran lembaga ini. Kasihan pengungsi-pengungsi.
Mereka butuh perhatian kita. Kita pilih secepatnya pimpinan MPR," kata dia diiringi tepuk tangan anggota MPR lainnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/viral-komentar-andi-arief-minta-jokowi-ajak-sby-dan-jk-bicara-soal-kerusuhan-papua.jpg)