Kamis, 9 April 2026

Sadar kah Para Orang Tua, Secara Tidak Langsung Sering Mengajarkan Anak Berbohong

Penelitian membuktikan bahwa anak-anak yang pada masa kecil kerap dibohongi oleh orangtuanya, akan menjadi pembohong pada saat dewasa

Editor: Nur Pratama
SHUTTERSTOCK
Orangtua mendidik anak 

TRIBUNKALTIM.CO – What goes around, comes around. Mungkin istilah ini yang tepat untuk menggambarkan hal yang umum dilakukan oleh orangtua: berbohong kepada anak.

Kebohongan (juga disebut kepalsuan) adalah jenis penipuan dalam bentuk pernyataan yang tidak benar, terutama dengan maksud untuk menipu orang lain(dikutip dari Wikipedia)

Di Indonesia, kebohongan pada anak bisa jadi sangat beragam. Mulai dari “jangan nakal, nanti ditangkap polisi” sampai mitos seperti “jangan duduk di pintu, nanti seret jodoh”.

Jika Anda termasuk orangtua yang kerap berbohong seperti itu, saatnya hentikan sekarang.

Penelitian membuktikan bahwa anak-anak yang pada masa kecil kerap dibohongi oleh orangtuanya, akan menjadi pembohong pada saat dewasa.

Termasuk berbohong kepada orangtuanya sendiri.

Penelitian ini dilakukan oleh Nanyang Technological University Singapore (NTU Singapore) bekerja sama dengan University of Toronto di Kanada, University of California di AS, serta Zhejiang Normal University di China.

Penelitian yang dimuat dalam Journal of Experimental Child Psychology ini dipimpin oleh Assistant Professor of Social Sciences NTU Singapore, Setoh Peipei.

“Kebohongan dalam mendidik anak mayoritas dilakukan karena sulitnya menjelaskan sesuatu hal yang kompleks. Namun, perilaku seperti itu bisa memberikan pesan-pesan tersembunyi kepada anak. Kebohongan yang dilontarkan orangtua bisa jadi melekat pada anak,” tutur Setoh seperti dikutip dari Science Daily, Minggu (6/10/2019).

Penelitian ini dilakukan kepada 379 orangtua muda Singapura dengan mengisi empat jenis kuisioner via online.

Kuisioner pertama adalah tentang kebohongan yang dilakukan terkait makanan, pergi atau tinggal, dan mengeluarkan uang.

Beberapa contoh kebohongan antara lain “kalau tidak ikut dengan kami (orangtua) sekarang, saya akan meninggalkanmu sendiri” serta “kami sedang tidak membawa uang, kita kembali lagi lain waktu”.

Kuisioner kedua adalah mengenai seberapa sering orangtua berbohong kepada anak mereka.

Sementara dua kuisioner lainnya adalah kondisi psikologis dan sosial masing-masing orangtua.

Analisis para peneliti terhadap semua jawaban responden adalah bahwa anak-anak yang kerap dibohongi memiliki risiko yang lebih besar untuk menjadi “orang yang kurang diharapkan oleh masyarakat”.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved