Melihat dari Dekat Penanganan Pasca Tambang PT Kaltim Prima Coal (KPC)
PT Kaltim Prima Coal (KPC) sebagai salah satu perusahaan pertambangan di Kabupaten Kutai Timur, sudah mempersiapkan rencana-rencana pasca tambang
TRIBUNKALTIM.CO, SANGATTA - PT Kaltim Prima Coal ( KPC ) sebagai salah satu perusahaan pertambangan di Kabupaten Kutai Timur, sudah mempersiapkan rencana-rencana pasca tambang.
Tak hanya lingkungan area tambang yang sudah dieksploitasi, tapi pembinaan pada masyarakat pun jadi perhatian.
Awak Tribun Kaltim yang terdiri dari Pemimpin Perusahaan Hadrianus Tjiptyantoro, Pemimpin Redaksi Ade Mayasanto dan Koordinator Editorial Business Development, Fransina Luhukay berkesempatan melihat dari dekat area-area pasca tambang yang sudah dikelola dengan baik oleh perusahaan tambang terbesar di Indonesia itu.
Bersama Manager External Relation, Yordhen Ampung dan Superitendent Media Relation, Felly Lung, rombongan Tribun Kaltim diajak melihat-lihat kawasan nursary yang melakukan pembibitan pada lebih 20 jenis tanaman khas Kalimantan.
Baik tanaman kayu, tanaman buah maupun tanaman obat.
Di tempat ini, ratusan tanaman ditumbuhkembangkan dalam polibag hingga tiba saatnya untuk ditanam di area reklamasi.
Baca juga: KPC Serahkan Empat Rumah Dinas Kodim 0909 Sangatta Kutai Timur, Ini Harapan Bupati Ismunandar
Baca juga: KPC Beri Beasiswa Doktoral untuk Tiga Dosen STIPER
Baca juga: Gandeng STP Bandung, KPC dan Pemkab Kutai Timur Tingkatkan Wisata Sekerat
Baca juga: Raih Delapan Penghargaan IMA 2019, KPC Pembayar PNBP Tertinggi Capai Rp 6,5 Triliun
Di antara puluhan jenis bibit yang ada, terdapat tanaman kayu putih, sambiloto, meranti, durian dan ulin.
Dari situ, rombongan diajak ke area reklamasi yang berada di D2 Surya eks pit Surya.
Di dalam kawasan seluas 22,34 hektar tersebut, terdapat 23 species tanaman pioneer dan buah, 11 species diptericapacea dan 13 species endemic dan langka.
"Kawasan reklamasi ini mulai ditanami sejak Februari 1996, dengan tanaman buah. Kemudian pada 2001, mulai ditanami pohon keras, seperti ulin dan meranti. Disusul tanaman endemik dan langka pada Juni 2006," kata Yordhen.
Pemanfaatan lubang tambang juga ditunjukkan PT KPC dengan membuat empang tempat berkembangbiaknya ikan-ikan air tawar, di antaranya nila, patin dan bawal air tawar, bernama Telaga Batu Arang.
Telaga seluas 20 hektar dibangun sejak 2018 ini, berada di eks Pit E South.
Hasil perikanan di lubang eks tambang ini sudah terbukti bisa dinikmati, tanpa khawatir tercemari bahan berbahaya karena telah melalui proses penelitian.
"Di tempat ini, kami mengembangbiakkan beberapa jenis ikan air tawar. Memang ada larangan memancing, karena sangat berbahaya. Namun untuk beberapa kegiatan perusahaan seperti lomba perahu dayung, perayaan HUT perusahaan serta gathering media, pernah digelar di tempat ini," ujar Yordhen.
Baca juga: Delegasi ASEAN Workshop on CSR Tinjau Penerapan Program CSR KPC di Sangatta
Baca juga: BPJS Kesehatan Beri Penghargaan kepada KPC
Baca juga: Wabup Kutim: Proper Emas PT KPC Harus Jadi Motivasi Perusahaan Lain di Kutai Timur
Baca juga: Excess Power KPC Terangi Bukit Pelangi, Pemkab Kutim Hemat Puluhan Miliar per Tahun
Apa yang diperlihatkan agaknya pas sekali dengan tagline PT KPC, more than mining.
Bagaimana melakukan kegiatan penambangan yang bukan sekadar mengeksploitasi hasil bumi, tapi juga merancang konsep pengembalian area yang ditambang, menjadi seperti semula, agar bermanfaat bagi masyarakat banyak.
"Kami yakin, pertambangan batubara yang dilaksanakan dengan cara-cara yang bertanggung jawab, aktivitas kami dapat memberi manfaat positif bagi seluruh masyarakat," ujar Yordhen.
(TribunKaltim.co/Margaret Sarita)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/melihat-dari-dekat-area-perencanaan-pasca-tambang-di-lingkungan-pt-kpc.jpg)