Kisah Mahasiswa dari China
Wabah Corona, Mahasiswi Asal Samarinda Kuliah di Wuhan China Merasa Deg Degan Melintasi Jalan Tol
Dexi Felia, 22 tahun, mahasiswi asal Samarinda yang kuliah di China menceritakan momen paling menegangkan saat virus Corona merebak
Baca Juga:
• Ibu Kota Indonesia di Kaltim, Viral Apartemen Borneo Bay City, Begini Tanggapan Kementerian ATR
• Tatap Ibu Kota Baru, Borneo Bay City Plaza Balikpapan Bakal Bangun Taman Besar, Target Rampung 2021
Lalu, bagaimana cara Dexi mengantisipasi menyebarnya virus Corona? Dirinya berbagi tips kepada Tribun.
Pertama, harus hidup bersih. Sebelum dan sesudah makan harus cuci tangan.
Kedua, makan makanan yang bergizi. Juga harus tidur teratur.
"Saya mengkonsumsi vitamin c sekali sehari, makan makanan yang bisa meningkatkan imun tubuh, olahraga kecil-kecilan di kamar, nonton film biar ga stress , pakai masker setiap saat dan diganti setiap 4 jam sekali," tuturnya.
Lanjutkan Kuliah Pakai Cara Online
Tidak ingin berselimut ketakutan, dua mahasiswa asal Kalimantan Timur yang sempat dikarantina di Natuna setiba dari China akan kembali ke negri tirai bambu China tersebut untuk melanjutkan kuliah.
Seharusnya, pada Senin (17/2/2020), perkuliahan di China dilaksanakan.
Namun, karena merebaknya virus Corona di China membuat mahasiswa asal Kalimantan Timur harus segera pulang.
Dan tidak dapat mengikuti perkuliahan.
Opsi kuliah online, menjadi salah satu pilihan logis untuk dapat diambil oleh para mahasiswa.
Seperti, disampaikan Rizka Nurazizah salah satu mahasiswa asal Kalimantan Timur yang kuliah di China mengungkapkan, ia akan mengambil langkah itu.
“Untuk sekarang. Tentu, saya tidak bisa pergi ke China untuk melanjutkan kuliah. Tapi, kita akan kuliah online,” ujarnya saat diwawancara awak media sesaat, setelah mendarat di Bandara Aji Pangeran Tumenggung Pranoto (APTP), Samarinda, pada Minggu (16/2/2020).
Sedikit diceritakan Rizka, bagaimana kondisi di sekitaran kampus tempat ia menimba ilmu saat virus Corona menyerang China. Kesulitan untuk makan, menjadi kondisi paling miria dirasakan Rizka.
Di kampus kami itu tidak ada transportasi yang beroperasi. Dari pihak kampus, meminta kepada kami untuk tidak pergi keluar.