Minggu, 3 Mei 2026

Pilkada Samarinda

Perjuangan Bakal Calon Jalur Perseorangan Pilkada Samarinda, Pernah Diusir Hingga Dimintai Uang

Perjuangan bakal calon Jalur Perseorangan Pilkada Samarinda, pernah diusir warga hingga dimintai uang.

Tayang:
Editor: Samir Paturusi
TribunKaltim.CO/Sapri Maulana
Suasana penyerahan berkas jalur perseorangan di KPU Samarinda, beberapa hari lalu. 

TRIBUNKALTIM.CO,SAMARINDA -Perjuangan bakal calon Jalur Perseorangan Pilkada Samarinda, pernah diusir warga hingga dimintai uang

Sekitar pukul 23.15 Wita, Tribunkaltim.co sempat  menemui Parawansa Assoniwora di depan pintu masuk Kantor KPU Samarinda, di Jalan Juanda, Senin lalu (24/2/2020).

Saat itu, Parawansa Assoniwora,sedang asik berbincang dengan sejumlah tim pendukungnya.

Tribunkaltim.co lalu mewawancarai Parawansa Assoniwora secara ekslusif, membahas lika-liku perjuangan calon Jalur Perseorangan,

untuk memenuhi syarat minimal surat dukungan sebanyak 43.977 yang disertai lampiran fotocopy KTP elektronik.

Saat proses pengumpulan surat dukungan yang harus melampirkan fotocopy e-KTP, bagaimana suka dan dukanya?

Baca Juga

Penyerahan Syarat Dukungan Resmi Berakhir, KPU Bulungan Hanya Terima Satu Balon Jalur Perseorangan

Siti Qomariah - Ansarullah Sambangi KPU, Serahkan Surat Dukungan 44.297 Untuk Jalur Perseorangan

KPU Berau Pastikan Tak Ada Calon Bupati dan Wabup Jalur Perseorangan Dalam Pilkada 2020

"Kalau kami kalkulasikan antara suka dan duka, lebih banyak dukanya. Tapi kami di tim Samarinda berani berprinsip berpolitik itu dengan riang gembira.

Kita tetap menjalaninya, menghadapi segala resikonya," kisah Parawansa Assoniwora, menjawab pertanyaan pertama.

Parawansa Assoniwora kemudian bercerita, saat dirinya diusir dari rumah warga.

"Kami diteriakin, kalau modal liur ya bakal dapat liur saja," kata Parawansa Assoniwora, menirukan warga yang mengusirnya.

Untuk menghindari konflik, Parawansa Assoniwora enggan menyebut nama dan lokasi kejadian.

Parawansa Assoniwora mulai bergerak mengumpulkan surat dukungan sejak 1 Juli 2019 hingga 8 Januari 2020.

Sedikitnya ada tiga dari 221 titik lokasi yang ia kunjungi mendapatkan perlakuan tidak baik.

Bahkan, saat pertemuan dengan warga, Parawansa Assoniwora menceritakan ada yang datang mempertanyakan banyak hal dengan nada tinggi.

Baginya, situasi tersebut merupakan resiko. Parawansa Assoniwora menganggap, warga yang marah dengannya belum mengetahui tujuan dirinya bersama tim.

"Tetapi Alhamdulillah, setelah kita melakukan komunikasi, diskusi langsung, justru kemudian orang-orang yang seperti itu (berbuat kasar), justru menjadi penggerak dalam tim kami," ungkapnya.

Saat diusut, Parawansa Assoniwora menemukan fenomena nyaris seragam. Di mana, menurutnya warga mengaku kecewa dengan sejumlah politisi saat pemilihan legislatif dan kepala daerah sebelumnya.

Warga curiga, saat Parawansa Assoniwora datang, juga akan melakukan hal yang sama.

"Awalnya dianggap bakal punya kelakuan yang sama. Kemudian kami menjelaskan ke mereka, secara detail, apa visi dan misi kami bawa," ucap Parawansa Assoniwora.

Kemudian ia berhasil mengumpulkan surat dukungan sebanyak 51.714 yang diantarkan ke KPU Samarinda beberapa waktu lalu.

Kunci dari metode politik, oleh timnya yang disebut Samarinda Berani adalah komunikasi langsung.

Baca Juga

Bawaslu Samarinda Temukan Hampir Syarat Dukungan Bakal Calon Jalur Perseorangan Pakai KTP SIAK

Perjuangan Sholehuddin Siregar Maju Jalur Perseorangan di Pilkada Balikpapan, Pernah Ditolak di RT

"Dari 221 titik, hanya ada dua titik yang saya tidak terjun langsung," kata Parawansa Assoniwora.

Tim Samarinda Berani, kata Parawansa Assoniwora, tidak satupun orang yang digaji. Mereka bergerak atas apa yang mereka harapkan dan inginkan.

"Inilah yang kemudian menjadi keyakinan kami. Kami percaya jika pemilih mata duitan, maka pemimpin yang terpilih juga mata duitan," kata dia.

Apa perbedaan jalur parpol dan perseorangan? Menurut Parawansa Assoniwora, keduanya adalah cara legal. Sebagai informasi, Parawansa Assoniwora berpasangan dengan Markus T Allo.

Jalur Perseorangan dinilai membutuhkan tenaga lebih ekstra. Bergerak sekitar 6 bulan, Tim Samarinda menghabiskan biaya kurang dari Rp 260 juta.

"Itu sudah termasuk posko, komputer, dibantu oleh rekan-rekan yang mendukung," kata Parawansa Assoniwora.

Bagi Samarinda Berani, masih kata Parawansa Assoniwora, jabatan Walikota Samarinda itu tidak sakral, tapi adalah pengabdi, pelayan masyarakat, bukan bersifat elitis.

"Kenapa ada yang menjadi angkuh, karena keluarkan banyak duit. Beda kalau pemimpin yang lahir karena keinginan rakyat," kata dia.

Bagi Parawansa Assoniwora, maju melalui Jalur Perseorangan dengan modal yang tidak besar, merupakan sebuah ajang pembuktian.

"Ini pembuktian sebenarnya, untuk membangun demokrasi yang berkualitas, kita butuh masyarakat (pemilih) yang berkualitas," pungkasnya.

Waktu Mepet, Banyak KTP SIAK

Tribun juga mewawancarai  bakal calon Jalur Perseorangan Siti Qomariah yang berpasangan dengan Ansarullah.

Keduanya bergerak mengumpulkan surat dukungan sejak akhir Oktober 2019, hingga 23 Februari kemarin.

"Sebenarnya kami dapat 80 ribu KTP. Tapi, setengahnya itu KTP SIAK," kata Siti Qomariah kepada Tribun, Selasa (25/2/2020).

"Soalnya banyak warga, terutama yang sibuk bekerja, bertani, itu tidak sempat mengurus KTP Elektronik," lanjutnya.

Mengumpulkan surat dukungan sekitar empat bulan, biaya yang digunakan tim Siti Qomariah dan Ansarullah diakui tak mencapai Rp 100 juta. Sumbernya, dari sumbangan tim pendukung.

Kendati demikian, ada momen yang paling diingat Siti saat terjun langsung meminta dukungan ke rumah-rumah warga.

"Waduh, kadang-kadang ada yang bilang begini, aku mau kasih KTP tapi berapa mau kasih uang. Dikira ini sudah mau pencoblosan, padahal baru untuk syarat dukungan," kata dia.

Untuk kendala, Siti mengakui warga banyak curiga ketiga dirinya bersama tim datang untuk meminta dukungan.

Sehingga harus terus diyakinkan dengan penjelasan visi dan misi, serta program unggulan.

"Masyarakat sudah pintar banget, sehingga kita harus menjelaskan. Bagi kami ini adalah jihad, ingin mewujudkan Samarinda sebagai penyangga IKN," jelasnya.

Baik Parawansa Assoniwora ataupun Siti, kedua tim tersebut mengaku memiliki kendala terkait data.

Jika Parawansa Assoniwora mengaku timnya kesulitan menyamakan data yang diupload ke sistem informasi pencalonan (SILON), Siti menilai sulitnya mencocokkan input data fisik ke lokasi yang sama.

"Kendalanya ya itu saat menginput data, bisa salah masukan data ke lokasi yang mirip-mirip penyebutannya," kata Siti.

Baca Juga

Maju Jalur Perseorangan, Luhat Juan dan Yoseph Nyangun Alui Antar 2.477 Dukungan ke KPU Mahulu

Batal Tarung Lewat Jalur Perseorangan, KPU Kaltara Beber Anang-Ismit Sempat Unggah 22 Ribu Dukungan

Eks Bupati Bulungan Anang Dachlan Batal Bertarung Pilgub Kaltara di Jalur Perseorangan Alasannya Ini

Sebagai informasi, KPU Samarinda membuka masa penyerahan surat dukungan calon perseorangan sejak 19 hingga 23 Februari kemarin.

Saat ini, KPU Samarinda disaksikan oleh perwakilan Bawaslu, dan perwakilan tim bakal pasangan calon melakukan proses tahap verifikasi surat dukungan.

Yang telah diserahkan tiga bakal calon pemilihan Walikota Samarinda dan Wakil Walikota Samarinda Jalur Perseorangan.

Yakni, Zairin Zain dan Sarwono, Parawansa Assoniwora dan Markus T Allo, serta Siti Qomariah dan Ansarullah. (Tribunkaltim.co/Sapri Maulana)

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved