TRIBUN TRAVEL

TRIBUN TRAVEL Berburu Tiram Pinggiran Hutan Mangrove Teluk Semanting Pulau Derawan, Ini Keseruannya

Menempuh waktu dua jam dari pusat pemerintahan Kabupaten Berau, Kampung Teluk Semanting memiliki daya pikat tersendiri bagi para tamu pendatang.

Tribunkaltim.co, Miftah Aulia Anggraini
Mencari Tiram di akar Mangrove yang berada di kawasan Mangrove Kampung Teluk Semanting, Kecamatan Pulau Derawan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, Sabtu (7/3/2020). 

TRIBUNKALTIM.CO, BERAU- Menempuh waktu dua jam dari pusat pemerintahan Kabupaten Berau, Kampung Teluk Semanting memiliki daya pikat tersendiri bagi para tamu pendatang.

Alamnya yang kaya akan Mangrove dengan berbagai ekosistem satwa di dalamnya, membuat setiap manusia yang pernah datang ke sana merasakan sensasi keramahan salah satunya dengan pengalaman berburu Tiram.

Bagi masyarakat di wilayah pesisir, bisa jadi pastinya sudah tidak asing lagi dengan Tiram.

Hewan kelompok kerang-kerangan dengan cangkang berkapur dan relatif pipih itu, seringkali dijadikan salah satu makanan laut dengan berbagai olahan, seperti di pepes, sup maupun digoreng.

Selain itu, masyarakat juga menangkap satwa laut bernama latin Crassostrea sp untuk dijual, seperti yang sering dilakukan nelayan Kampung Teluk Semanting.

Salah Satunya Ada Hutan Mangrove, 10 Tempat Wisata di Bali yang Menawarkan Spot Foto Instagramable

Sementara, di bawah langit pagi itu, para tamu yang datang ke Teluk Semanting, sedang mencoba merasakan sensasi dalam mencari tiram yang hidupnya menempel di pinggiran akar mangrove untuk diambil dagingnya.

Hanya dengan berbekal dayung yang terbuat dari kayu, para tamu dan pemuda kampung tekun mencoba mencongkel tiram dari cangkangnya yang keras dan tajam itu.

Mencari Tiram di akar Mangrove yang berada di kawasan Mangrove Kampung Teluk Semanting, Kecamatan Pulau Derawan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, Sabtu (7/3/2020).
Mencari Tiram di akar Mangrove yang berada di kawasan Mangrove Kampung Teluk Semanting, Kecamatan Pulau Derawan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, Sabtu (7/3/2020). (Tribunkaltim.co, Miftah Aulia Anggraini)

Dayung yang panjang itu diketukan dan diarahkan beberapa kali dari bagian atas akar mangrove yang ditempeli tiram, agar tiram tersebut lepas dari genggaman kuatnya.

Untuk menghindari agar tangan dan kakinya tidak tergores, maka disarankan untuk menggunakan sarung tangan Sementara itu, kakinya dilapisi kain tebal ataupun sepatu boot.

Pelaku Usaha UMKM dan Kesenian di Kawasan Wisata Mangrove Tarakan Sepi Pembeli

Pertamina Resmikan Rumah Pembibitan Mangrove Margomulyo, Jadi Tempat Penelitian dan Edukasi

“Awas! Hati-hati kakinya nanti kena garitan tiram mbak,” kata M Fajrul yang membawa para tamu mencari Tiram di Hutan Mangrove, Sabtu (7/3/20).

Tiram memang seringkali ditemukan menempel di akar tumbuhan mangrove, kecuali pada beberapa minggu pertama pada kehidupannya.

Setelah tahap awal hidupnya, tiram akan melekat pada suatu tempat yang aman dan menetap selama hidupnya, dan memiliki kulit luar yang kasar. Tiram ini hidup di perairan payau dan laut.

Lestarikan Lingkungan, Polda Kaltim & Kodam VI Mulawarman Ajak Pelajar Balikpapan Tanam Mangrove

Dari penuturan Fajrul yang merupakan salah satu Pemuda di Teluk Semanting,
mencari tiram mudahnya dilakukan pada pagi hari atau menyusul semakin surutnya air laut.

Sebab pada saat air surut, tiram yang menempel di akar mangrove itu akan lebih mudah untuk tampak. Sehingga tiram lebih mudah diambil tanpa harus menyelam.

"Jadi memang cari tiram ada waktunya, biasanya yang cocok itu waktu musim kemarau. Kalau musim hujan susah, tiram nanti sulit didapat soalnya faktor terbawa air hujan dari daratan mulai menutupi," jelasnya.

Penulis: Miftah Aulia Anggraini
Editor: Mathias Masan Ola
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved