Sejarah Hari Ini
Sejarah 24 Maret Hari Tuberkulosis Dunia, Bermula dari Penemuan Robert Koch soal TBC
Momen sejarah 24 Maret diperingati sebagai Hari Tuberkulosis Dunia atau World Tuberculosis Day.
Penulis: Syaiful Syafar | Editor: Doan Pardede
Usaha untuk mencegah dan mengontrol TBC bergantung pada vaksinasi bayi dan deteksi serta perawatan untuk kasus aktif.
Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization ( WHO ) telah mencapai sejumlah keberhasilan dengan regimen pengobatan yang dimprovisasi, dan sudah terdapat penurunan kecil dalam jumlah kasus.
Sejak tahun 2011, satu-satunya vaksin yang tersedia adalah Bacillus Calmette–Guerin ( BCG ).
Walaupun BCG efektif melawan penyakit yang menyebar pada masa kanak-kanak, masih terdapat perlindungan yang inkonsisten terhadap TBC. Namun, ini adalah vaksin yang paling umum digunakan di dunia, dengan lebih dari 90 persen anak-anak yang mendapat vaksinasi.
Bagaimanapun, imunitas yang ditimbulkan akan berkurang setelah kurang lebih 10 tahun.
Jenis vaksin baru masih sedang dikembangkan.
Mengutip tbindonesia.or.id, setiap tahun ada 845.000 penduduk Indonesia jatuh sakit karena tuberkulosis atau TBC.
Saat ini Indonesia juga menghadapi wabah Virus Corona atau covid-19, yang juga menular melalui droplet.
Kasus TBC tergolong tinggi di Indonesia.
Pada tahun 2014, Indonesia memiliki jumlah kasus yang diprediksikan mencapai lebih dari satu juta penderita. Namun, baru sepertiganya yang berhasil ditemukan dan menjalani pengobatan.
Angka itu menempatkan Indonesia sebagai negara kedua dengan kasus TBC terbanyak di dunia.
• Meniup Terompet Bisa Tertular Penyakit Kanker, TBC, atau HIV? Simak Penjelasan Ilmiah Berikut Ini
• SEJARAH HARI INI 12 Maret, Perdana Minuman Coca-Cola Dijual dalam Botol, Sosok Ini Pencetusnya
• Beredar Pesan Berantai Foto Daging Bergelembung Putih Terinfeksi TBC, Ini Penjelasan Dokter Hewan
• SEJARAH HARI INI 8 Maret: Hari Wanita Internasional atau International Womens Day, Lahir dari Protes
Untuk diketahui, seseorang diduga TBC itu ditandai dengan gejala batuk yang terus-menerus.
Seringkali disertai berkurangnya nafsu makan sehingga berat badan menurun, kadang-kadang sesak nafas, dan berkeringat saat malam hari meski tidak sedang melakukan aktivitas.
Risiko penularan TBC cukup besar pada kelompok orang yang tinggal di tempat tinggal yang tidak memenuhi syarat kesehatan.
Misalnya lingkungan padat dan kumuh, tempat pendidikan dengan asrama, rumah tahanan atau lembaga pemasyarakatan. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/sejarah-24-maret-hari-tuberkulosis-dunia-bermula-dari-penemuan-robert-koch-soal-tbc.jpg)