Perayaan Hari Bumi ke-50 di Tengah Pandemi Covid-19, Ilmuan Pertanyakan Kondisi Bumi Tahun 2070
Perayaan Hari Bumi ke-50 di tengah pandemi covid-19, para ilmuan mempertanyakan kondisi bumi tahun 2070
"Cara berpikir manusia juga akan mengalami perubahan. Dari yang awalnya mempraktikan sistem berpikir absolutisme dengan menganggap bahwa manusia berkuasa secara mutlak atas bumi, berubah menjadi sistem yang lebih mengedepankan kerja sama dengan alam," jelasnya.
Di sisi lain, Elizabeth Kolbert, penulis buku The Sixth Extinction: An Unnatural History, mengatakan bahwa keberlangsungan hidup manusia, sebagai salah satu spesies makhluk hidup tergantung pada berapa banyak karbon yang dilepaskan ke atmosfir dalam 50 tahun ke depan.
"Hal yang juga memprihatinkan hingga saat ini adalah masalah deforestasi. Jika hal ini masih terus berlanjut, akan terjadi kepunahan flora dan fauna massal di sekitar kita. Semoga kita tidak lupa bahwa di satu sisi, hidup manusia juga bergantung akan keberadaan mereka," ungkapnya.
Ia mengatakan bahwa optimismenya terhadap masa depan manusia tidak begitu tinggi jika melihat belum adanya ada perubahan signifikan dalam gaya hidup dan cara pandang manusia terhadap alam yang terjadi saat ini.
“Mungkin nanti spesies kita telah mengembangkan drone yang dapat membantu kegiatan pertanian atau kita juga telah menemukan cara untuk mengatasi kenaikan permukaan laut dan kekeringan di sejumlah wilayah.
Di sisi lain, kemungkinan tanaman yang telah direkayasa secara genetis akan membantu pemerintah untuk mengatasi masalah kelangkaan pangan di sejumlah negara.
Namun jika cara hidup manusia tetap seperti ini, tidak akan ada jaminan kapan kehidupan yang tampak harmonis tersebut akan tetap berlangsung,” tambahnya.
Ia menjelaskan bahwa bagi sebagian orang, kemajuan tersebut mungkin akan menjadi akhir yang membahagiakan, namun menurutnya hal tersebut justru jauh lebih menakutkan.
"Kemajuan teknologi yang tidak disertai dengan perubahan gaya hidup dan cara berpikir akan menjadi bumerang bagi kita. Mungkin kita akan memiliki drone untuk memusnahkan hama, tetapi di sisi lain hal itu juga akan mengubah atmosfer, menyebabkan masalah kekeringan dan mengosongkan seluruh isi samudera.
Setelah sadar, kemungkinan kita akan menemukan spesies kita hidup sendiri bersama drone pengusir hama yang telah kita kembangkan itu,” sindirnya.
Mengutip pernyataan seorang remaja Swedia dalam kampaye lingkungan hidup April 2019, sudah seharusnya manusia melakukan perubahan besar dan menyadari adanya saling keterikatan antara keberlangsungan hidup manusia dengan makhluk hidup lainnya.
“Mungkin seharusnya generasi yang jauh lebih dewasa dan mengerti akan isu lingkungan hidup yang mulai membuat perbedaan. Tetapi karena tidak ada orang lain yang melakukannya, maka kami harus melakukannya.
Kami tidak akan pernah berhenti berjuang untuk planet ini, untuk umat manusia dan spesies makhluk hidup lainnya, untuk masa depan kita, dan masa depan anak cucu kita," kata remaja tersebut. (*)
Baca Juga
Gempa Bumi Guncang Pacitan, BMKG Sebut Dekat Dengan Sumber Gempa Dahsyat Tahun 1937
Detik-detik Gempa di Sukabumi Terekam Kamera, Warga Panik Sambil Teriak Takbir
https://www.nationalgeographic.com/science/2020/03/earth-day-where-will-the-planet-be-in-2070/?cmpid=int_org=ngp::int_mc=website::int_src=ngp::int_cmp=substest::int_add=substestcontrol::int_rid=