Pandemi Corona, Hawking Sudah Peringatkan Kita?
DI tengah sedikit kejenuhan bekerja di rumah (work from home) dalam rangka memenuhi imbauan pemerintah guna memutus rantai penyebaran virus Corona, is
DI tengah sedikit kejenuhan bekerja di rumah (work from home) dalam rangka memenuhi imbauan pemerintah guna memutus rantai penyebaran virus Corona, iseng-iseng saya membuka laman Google menggunakan nama saya sebagai kata kunci.
Ternyata selain ada sejumlah tulisan/artikel saya di dalam sejumlah jurnal ilimah, ada juga artikel saya di kolom “Opini” harian Tribun Kaltim (Minggu, 21 Mei 2017) berjudul “Ternyata Hawking pun Tidak Optimis terhadap Bumi”.
Pada paragrap kedua artikel tersebut terbaca kembali peringatan almarhum Stephen Hawking bahwa manusia akan punah akibat perubahan iklim, serangan asteroid, epidemi penyakit, dan pertumbuhan penduduk, jika tidak menemukan planet baru (untuk tempat hidup) dalam 100 tahun ke depan.
Setelah membaca kembai peringatan tersebut timbul kembali dorongan untuk menulis, dan serta merta saya tinggal dulu draft skripsi mahasiwa saya yang harus saya koreksi. Dua kata terakhir dalam peringatan Hawking tersebut; yakni epidemi penyakit dan pertumbuhan penduduk akan menjadi pembahasan di dalam tulisan ini selanjutnya.
Pertumbuhan Penduduk atau Epidemi Dulu?
Secara teori, keduanya berhubungan dua arah alias berkorelasi. Pertumbuhan dan jumlah penduduk yang besar dapat menjadi pemicu pandemi. Sebaliknya pandemic penyakit dapat mengurangi pertumbuhan dan jumlah penduduk.
Terlepas dari mana sesungguhnya sumber virus Corona yang saat ini mewabah dan masih menjadi polemik; pertumbuhan dan jumlah penduduk yang besar di bumi dapat menjadi sumber atau pemicunya. Pertumbuhan dan jumlah penduduk yang besar dapat menyebabkan terjadinya kekurangan pangan dan kelaparan.
Walau produksi bahan pangan dapat ditingkatkan secara signifikan melalui bantuan teknologi pertanian yang saat ini berkembang pesat, namun saat-saat tertentu dan di belahan bumi tertentu dapat saja terjadi kekurangan bahan pangan dan kelaparan seperti yang pernah terjadi di Afrika beberapa dekade yang lalu.
Hal ini dapat terjadi akibat kondisi alam atau kondisi masyarakat dan negara, misalnya pada masyarakat dan negara miskin/terbelakang. Akibat kelaparan, orang dapat saja makan segala macam yang tidak biasa atau tidak umum dimakan, untuk mempertahankan hidupnya.
Seperti yang diisukan selama ini, bahwa salah satu sumber dan inang dari virus Corona adalah kelelawar liar yang kemudian dikonsumsi oleh manusia. Walau manusia yang mengkonsumsinya bukan karena kelaparan, melainkan orang berpunya iseng, mencari hiburan atau sebagai kesukaan/hobi atau sebagai permainan – challenge?.
Apapun alasannya dapat dipastikan bahwa pangkal penyebabnya adalah manusia alias penduduk bumi yang semakin banyak ini. Jumlahnya semakin banyak, kalaupun tidak menyebabkan kekuranga pangan dan kelaparan, perilakunya juga semakin bermacam-macam, karena ternyata tidak ada dua manusiapun yang sama persis kelakuannya di dunia ini. Itulah kekuasaan Yang Maha Kuasa.
Kekurangan pangan, kelaparan, tidak ada yang dimakan. Walau bibit penyakit berkeliaran di sekeliling manusia, namun penyakit itu tidak akan menyerang manusia jika manusia berperilaku hidup sehat. Lagi pula namanya juga penyakit pada manusia, jadi penduduk manusia ada dulu baru penyakitnya dating.
Tapi celakanya pada zaman modern seperti sekarang, masih banyak orang, khusunya orang “sini” (Indonesia) yang tidak percaya terhadap adanya bibit penyakit yang tidak kelihatan dengan mata “telanjang” sepertihalnya virus, walaupun dia takut mati.
Hal ini dapat dilihat dari berbagai reaksi/respon anggota masyarakat terhadap pandemi Corona saat ini. Ada yang menolak pemakaman jenazah korban Corona yang sudah ditangani sesuai SOP, tapi sebaliknya ada yang membuka bungkus jenazah korban Corona untuk diciumi, dan semacamnya.
Salah satu penyebabnya adalah karena pendidikan rata-rata penduduk Indonesia masih rendah. Sampai 2017 rata-rata lamanya sekolah penduduk Indonesia baru 8,5 tahun (kelas 3 SMP) (Badan Pusat Statistik, 2018).
Penyebab lainnya yang mungkin juga berkaitan dengan pendidikan, namun boleh jadi berdiri sendiri karena merupakan faktor internal di dalam diri manusia sebagai warisan/turunan/hereditas misalanya adalah rendahnya “rasa ingin tahu” orang “sini”.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/ilustrasi-afrika.jpg)