Sabtu, 11 April 2026

SEMUT, Wadah Bagi Komunitas Bahasa Isyarat di Kota Balikpapan

masyarakat lain yang ingin mengasah kemampuannya dalam berbahasa isyarat, tetap dapat melakukannya dengan bergabung bersama komunitas SEMUT

Editor: Samir Paturusi
TRIBUNKALTIM.CO/HO
Komunitas Semangat Muda Tuli (SEMUT) Balikpapan, Kalimantan Timur. 

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN- Secara umum, penggunaan bahasa isyarat masih dianggap sebagai bahasa yang diperuntukan hanya bagi kaum difabel, khususnya teman tuli.

Kendati demikian, masyarakat lain yang ingin mengasah kemampuannya dalam berbahasa isyarat, tetap dapat melakukannya dengan bergabung bersama komunitas Semangat Muda Tuli (SEMUT) Balikpapan, Kalimantan Timur.

Kepada TribunKaltim, Sabtu (16/5/2020), Fajar Assifiyanto, salah satu Juru Bahasa Isyarat (JBI) Balikpapan yang juga tergabung dalam komunitas tersebut, mengatakan bahwa setiap anggota baru di SEMUT akan diajarkan kemampuan dari dasar seperti finger spelling untuk alfabet.

"Sebelumnya, saya sendiri sudah pernah belajar bahasa isyarat secara otodidak di Jakarta. Waktu itu yang saya pelajari adalah Sistem Informasi Bahasa Isyarat (SIBI).

Setelah datang ke sini, ternyata bahasa isyarat yang digunakan itu berbeda dari yang saya pelajari," ungkapnya.

Baca Juga

Bacaan Niat Zakat Fitrah untuk Keluarga, Orang Lain, dan Diri Sendiri, Lengkap Bahasa Arab & Artinya

Ini Doa Buka Puasa Dalam Bahasa Arab & Latin, Lengkap dengan Tata Cara Berbuka Puasa Rasulullah SAW

Berikut ini Doa Minta Jodoh dan Keturunan yang Baik, Lengkap dalam Bahasa Arab dan Indonesia

Adapun bahasa isyarat yang ia maksud adalah Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO), yang menurutnya lebih aplikatif dan mudah dipahami jika dibanding SIBI.

"Basic bahasanya berbeda. Misalnya, isyarat SIBI untuk kata pengangguran adalah isyarat Peng, lalu buah anggur dan diakhiri dengan isyarat -an. Padahal pengangguran tidak ada hubungannya dengan buah-buahan.

Sedangkan BISINDO, cukup dengan isyarat bertopang dagu dan ekspresi murung. SIBI pengaplikasiannya kata per kata, sehingga durasinya lebih panjang, sedangkan BISINDO berdasarkan kegiatan," jelasnya.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa seorang pemula rata-rata membutuhkan waktu sekitar 1 minggu untuk mempelajari finger spelling atau pengejaan dengan menggunakan jari.

Namun untuk keperluan menerjemahkan, khususnya dalam acara formal, dibutuhkan waktu yang lebih lama.

"Karena untuk keperluan penerjemahan secara umum, kita harus memahami perbedaan budaya dalam penggunaan bahasa.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved