Virus Corona
Obat Virus Corona Berbentuk Inhaler Dikembangkan, Bisa Membunuh Covid-19 di Area Pernafasan
sejumlah kabar bahagia mengiringi penelitian yang dilakukan untuk mencari obat virus Corona
TRIBUNKALTIM.CO - Sejumlah ilmuwan kini masih terus berusaha meneliti obat dari virus Corona.
Meski belum ada kepastian kapan obat dari covid-19 ini ditemukan.
Namun sejumlah kabar bahagia mengiringi penelitian yang dilakukan untuk mencari obat virus Corona
Salah satunya soal obat pembasmi virus corona di hidung dalam bentuk inhaler atau obat hirup.
Inhaler ini, menurut penelitian para ilmuwan, bisa membunuh Covid-19 di saluran pernafasan, khususnya ketika virus corona baru masuk hidung.
Cukup canggih memang, inhaler Covid-19 telah dikembangkan oleh para ilmuwan Inggris.
• Amerika dan China Kirim Armada Kapal Perang ke Laut Cina Selatan, Motif Ekonomi Dibaliknya Terkuak
• Beredan Video Syur Mirip Syahrini, Anak Buah Idham Azis Tangkap Pelaku, Hukumannya Tak Main-main
• Bukan Hanya Wilayah Khofifah, Jokowi Minta Jajarannya Fokus ke 5 Provinsi, Apresiasi Daerah Anies
Alat ini diklaim bisa membantu untuk memerangi virus segeras setelah gejala awal muncul.
Melansir The Sun, para ilmuwan ini diketahui dari University of Southhampton, Inggris.
Mereka telah mengirim 120 inhaler ke pasien Covid-19 untuk uji coba.
Ini merupakan teknologi baru untuk meingkatkan sistem kekebalan tubuh menggunakan obat eksperimental.
Teknologi ini memiliki kode SNG001.
Dengan menggunakan protein yang bisa diproduksi tubuh setiap kali terkena inveski virus, bernama Interferon Beta.
Dilansir dari laman The Sun, alat ini sudah digunakan dalam pengobatan multiple sclerosis.
Sebelumnya telah menunjukkan hasil yang positif dalam mengurangi gejala virus corona.
Alat tersebut diuji coba di Hong Kong yang mengombinasikan dengan obat lain.
Cara kerja alat ini pun langsung mengincar paru-paru.
Ketika obat ini dihirup, obat akan lengsung menuju paru-paru dan menekan efek virus.
• Yang Terjadi Pada Tubuh Ratusan Relawan Usai Disuntik Vaksin Virus Corona, Kabar Gembira dari China
Para peneliti berharap alat tersebut dapat mencegah pasien memasuki fase kritis dari paparan Covid-19.
Fase tersebut cenderung muncul pada hari ke sepuluh setelah pertama kali gejala terinfeksi diketahui.
Jika percobaan ini berhasil, perusahaan yang berlokasi diSouthampton Synairgen, berharap bisa memproduksi dalam jumlah besar.
Rencananya, jika berhasil, mereka meluncurkannya pada akhir tahun ini yang dapat melawan pandemi.
Sementara itu, para peneliti ini akan segera menyelesaikan uji coba rumah sakit dengan pasien berjumlah 100 orang dalam masa percobaan.
Hasilnya akan diterbitkan pada Juli mendatang.
Para peneliti ini juga berpendapat, tes baru ini merupakan kunci untuk menentukan langkah perawatan yang efisien.
Mengutip The Sun dari Daily Mail,"Kami membutuhkan pengobatan Covid-19 yang dapat diberikan kepada pasien pada awal perjalanan penyakit untuk mencegah perkembangan menjadi gejala parah," ujar Pemimpin studi Profesor Nick Francis.
Para pasien terinfeksi virus corona yang parah bisa membuat timbulnya penyakit lain yang lebih serius.
Penyakit tersebut seperti masalah pernapasan dan pneumonia.
Kebanyakan terjadi pada minggu kedua setelah terinfeksi Covid-19.
Kepala Synairgen, Richard Marsden, inhaler ini bisa cegah virus pada minggu kedua ini.
"Kita bisa menghentikan orang dari mengalami minggu kedua yang buruk. Boris Johnson memiliki masalah itu pada minggu kedua ketika dia berada di rumah sakit.
"Itu tampaknya menjadi polanya, sekitar sepuluh hari ketika orang-orang mengalami masalah besar.
"Mereka beralih dari gejala mirip flu menjadi sangat terengah-engah dan mengalami radang paru-paru," ucap Richard.
• Bukan Hanya Wilayah Khofifah, Jokowi Minta Jajarannya Fokus ke 5 Provinsi, Apresiasi Daerah Anies
• Yang Terjadi Pada Tubuh Ratusan Relawan Usai Disuntik Vaksin Virus Corona, Kabar Gembira dari China
• Beredan Video Syur Mirip Syahrini, Anak Buah Idham Azis Tangkap Pelaku, Hukumannya Tak Main-main
Setelah mengembangkan masalah pernapasan dan gejala lainnya, pasien akan diberikan serangkaian pengujian penuh.
penhujian ini akan dilakukan dalam waktu 72 jam.
Para pasien akan menggunakan inhaler satu isapan dalam sehari.
Kemudian akan dicatat perubahan apa yang terjadi di saturasi dan suhu oksigen.
Setelah 14 hari, dokter akan memantau terus para pasien ini.
Hal ini untuk memastikan psien tak kambuh lagi.
Uji coba ini berfokus pada pasien yang berusia 50-65 tahunan.
Para pasien ini sebelumnya sudah teruji klinis di rumah sakit dengan hasil positif terinfeksi Covid-19.
Dalam pengujian, jika berhasil maka perlu dibuatkan lisensi oleh regulator obat.
Hasil baik tentu diharapkan para peneliti agar mempercepat proses.
Ilmuwan Rusia Teliti Kandungan Pada ASI Sebagai Obat Baru Virus Corona
Pandemi virus Corona menyerang hampir seluruh belahan dunia.
Hingga kini belum ada satupun negara yang mengklaim menemukan obat penagkal covid-19.
Belakangan para ilmuwan masih terus melakukan penelitian untuk mencari formula dari obat virus Corona.
Para Ilmuwan Rusia menilai pandemi virus corona (Covid-19) tidak terlalu berpengaruh pada kondisi bayi dan menganggap hal ini disebabkan karena protein yang terkandung dalam Air Susu Ibu (ASI) yang melindungi sistem kekebalan tubuh mereka.
Saat ini, para ilmuwan itu pun tengah mencoba membuat obat baru berdasarkan penelitian tersebut.
Seperti yang disampaikan seorang Peneliti senior di Institute of Gene Biology dari Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia, Igor Goldman dalam wawancaranya dengan portal media News.ru.
"Kami telah melihat sangat sedikit kasus bayi yang terjangkit virus corona di antara jutaan orang yang terinfeksi," kata Goldman.
Ia menjelaskan bahwa ini memberi timnya ide untuk mencoba menguji laktoferin, salah satu jenis protein yang banyak terkandung dalam ASI dan telah dikenal memiliki banyak manfaat, khususnya dalam membentuk sistem kekebalan tubuh pada bayi.
Dikutip dari laman Russia Today, Kamis (28/5/2020), para Ilmuwan meyakini bahwa laktoferin pada dasarnya bekerja sebagai stimulan kekebalan yang sangat dapat meningkatkan kemampuan manusia dalam memerangi virus dan bakteri.
Dampaknya tidak hanya pada kekebalan tubuh bayi saja, namun juga pada orang dewasa, hal ini telah dilihat para Ilmuwan Rusia itu dalam aplikasi medis protein yang diteliti selama beberapa waktu.
Bersama dengan rekan-rekan mereka dari Belarusia, para Ilmuwan ini mengembangkan protein yang dimodifikasi dengan gen yang identik dengan manusia, namun diekstraksi dari susu kambing tahun 2007.
Protein yang disebut neolactoferrin ini dianggap memiliki sifat anti-bakteri, anti-virus dan anti-jamur.
Ini juga menunjukkan kemampuan yang layak untuk menghambat aktivitas virus seperti rotavirus, hepatitis C dan HIV, sebagai bagian dari tes laboratorium.
Para Ilmuwan meyakini bahwa protein itu bahkan bisa membantu memerangi bakteri yang super kebal terhadap antibiotik modern.
"Gagasan untuk menggunakan hasil penelitian ini dalam melawan infeksi virus seperti corona, memiliki dasar ilmiah yang berakar pada studi selama satu dekade terhadap neolaktoferin yang dilakukan bersama dengan Institut Imunologi Rusia," jelas Goldman.
Saat ini, para Ilmuwan pun percaya bahwa protein dapat merangsang imunitas adaptif pada orang yang menderita corona dan mengurangi tingkat gejala yang mereka alami.
Itu juga secara teoritis dapat melindungi mereka yang sehat dari paparan infeksi virus ini dan protein tersebut berpotensi memiliki sistem yang serupa dengan vaksin.
• Idham Azis Marah Besar, Polisi Tak Beri Contoh Baik, Minta Kapolda Lakukan Ini Sebelum Azan Magrib
Hal itu karena laktoferin biasanya akan melakukan pencegahan agar virus tidak menempel pada sel dan bereproduksi.
Kendati demikian, Ahli Imunologi Rusia Vladimir Bolibok mengatakan bahwa masih terlalu dini untuk menilai seberapa efektif obat baru itu dalam memerangi virus corona.
Sejauh ini, para pengembang obat telah mengirimkan beberapa sampel obat baru untuk dilakukan uji coba awal yang memperoleh dukungan dari Badan Medis dan Biologi Federal Rusia, sebuah badan kesehatan publik nasional yang bekerja di bawah koordinasi Kementerian Kesehatan negara itu.
IKUTI >>> Update Virus Corona
(*)
Artikel ini telah tayang di Tribunstyle.com dengan judul KABAR GEMBIRA Soal Obat Corona, Sedang Dikembangkan Inhaler Pembunuh Covid-19 di Hidung, Terbukti!, https://style.tribunnews.com/2020/05/28/kabar-gembira-soal-obat-corona-sedang-dikembangkan-inhaler-pembunuh-covid-19-di-hidung-terbukti?page=all.