Breaking News:

Pemberlakuan Jam Malam di Balikpapan Berdampak Omzet Pelaku Usaha, Ini Saran Pengamat Ekonomi

Pemerintah Kota Balikpapan, Kalimantan Timur telah menerbitkan Surat Edaran Wali Kota Balikpapan Nomor 100/438/Pem tentang Pemberlakuan Jam Malam.

TRIBUNKALTIM.CO/HERIANI
Pengamat Ekonomi Kota Balikpapan, Didik Hadiyatno 

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Pemerintah Kota Balikpapan, Kalimantan Timur telah menerbitkan Surat Edaran Wali Kota Balikpapan Nomor 100/438/Pem tentang Pemberlakuan Jam Malam.

Edaran ini berlaku mulai 7 September 2020 lalu hingga waktu yang tidak ditentukan kemudian.

Aturan yang diberlakukan sebagai upaya pencegahan dan pengendalian covid-19 yang makin hari makin bertambah.

Seluruh kegiatan usaha maupun aktivitas masyarakat Balikpapan yang menimbulkan kerumunan massa wajib tutup paling lambat pukul 22.00 Wita. Seperti cafe, restoran, bahkan jasa praktek kesehatan.

Baca Juga: Jam Malam Mulai Berlaku, Dandim 0905 Balikpapan Ajak Seluruh Warga Terapkan 3M

Baca Juga: Restoran dan Rumah Makan Mulai Terapkan Pemberlakuan Jam Malam di Balikpapan

Meski sudah berjalan, aturan ini menimbulkan banyak pro dan kontra di masyarakat. Utamanya para pelaku usaha. Kehilangan omzet tidak dapat terhindarkan.

Ditanya soal fenomena tersebut, pengamat ekonomi Kota Balikpapan Didik Hadiyatno menyebut, mau tidak mau, aturan ini mesti diberlakukan.

Ia menyebut pemberlakuan jam malam tidak hanya terjadi di Balikpapan, namun hampir di seluruh wilayah Indonesia.

Menurutnya, langkah ini adalah salah satu strategi untuk mengurangi dampak covid-19. Tidak hanya dari segi kesehatan, namun juga sisi ekonominya.

"Sisi ekonomi, tentu kebijakan itu akan berdampak terhadap pelaku usaha pada malam hari. Pendapatan mereka akan mengalami penurunan," ungkapnya, Kamis (10/9/2020).

Apabila tidak ada langkah kongkrit yang diambil, covid-19 tidak diupayakan, dampaknya ke masyarakat akan lebih parah. Apalagi penambahan kasus setiap harinya terus bermunculan.

Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Balikpapan ini melanjutkan, salah satu faktor peningkatan kasus virus corona adalah karena kesadaran masyarakat yang masih kurang. Masih banyak yang tidak menerapkan protokol kesehatan.

Waktu siang saja masih banyak yang tidak pakai masker, tidak jaga jarak. Apalagi jika malam hari. Hal inilah yang memicu adanya kebijakan pemerintah, pembatasan jam malam.

Untuk meminimalisasi penurunan omzet, dirinya menjelaskan, pelaku usaha pada malam hari perlu membuat strategi. Salah satunya dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi.

"Sekarang ini mau tidak mau harus menggunakan media yang berkaitan, seperti Instagram, WA, dan Facebook. Ini adalah media yang tepat, tidak bisa lagi konvensional. Transaksi sekarang juga sudah pakai fintech," tukasnya. (*)

Baca Juga: Pelaku Usaha Protes Jam Malam, Walikota Balikpapan: Patuhi Dulu Aturan Itu

Baca Juga: Pembatasan Aktivitas Jam Malam Lantaran Pandemi Covid-19, Begini Tanggapan PHRI Samarinda

Penulis: Heriani AM
Editor: Samir Paturusi
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved