Rabu, 22 April 2026

Prakiraan Cuaca

Prakiraan Cuaca di Samarinda, Fenomena La Nina Sebabkan Curah Hujan Tinggi

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika ( BMKG ) Kota Samarinda Provinsi Kalimantan Timur, memprediksi fenomena La Nina.

Penulis: Mohammad Fairoussaniy | Editor: Budi Susilo
TRIBUNKALTIM.CO/NEVRIANTO HP
CUACA HUJAN - Mendung pekat menggelayut di langit Jalan Dahlia Kota Samarinda Provinsi Kalimantan Timur. TRIBUNKALTIM.CO/NEVRIANTO 

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika ( BMKG ) Kota Samarinda Provinsi Kalimantan Timur, memprediksi fenomena La Nina yang terjadi di Samudera Pasifik akan berdampak pada curah hujan di langit kota Tepian hingga akhir tahun 2020.

Tak hanya di Samarinda, fenomena yang datang tiap 2 tahun sekali ini, diprediksi juga menerpa seluruh wilayah di Tanah Air, kecuali Pulau Sumatera. 

Forecaster BMKG Samarinda, Rima Rizky menyebut, iklim di Indonesia sendiri dipengaruhi oleh fenomena El Nino Southern Oscillation (ENSO).

ENSO ialah fenomena global interaksi antara laut dan atmosfer. Tandanya, anomali dan suhu permukaan laut di ekuator pasifik tengah.

Baca Juga: Pasar Properti di Balikpapan Bakal Sasar Milenial, Pandemi Corona Berefek Penjualan Menurun

Baca Juga: Prakiraan Cuaca Balikpapan Kamis 15 Oktober 2020, Siang Hujan Petir Angin Barat Daya, Malam Berawan

"Kalau anomalinya positif maka itu disebut El Nino. Tapi kalau negatif disebut La Nina," Jelas Rima saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Kamis (15/10/2020).

Curah hujan di beberapa wilayah yang terdampak fenomena La Nina akan lebih tinggi dari biasanya. Jika di presentasekan sekitar 40 persen. 

Peralihan musim kemarau tahun ini diprediksi tidak terjadi karena pengaruh gelombang rossby dan MJO yang sedang aktif di wilayah ekuator. Langit Mendung, sebelum hujan. (TRIBUNKALTIM.CO/ NEVRIANTO HARDI PRASETYO)
Peralihan musim kemarau tahun ini diprediksi tidak terjadi karena pengaruh gelombang rossby dan MJO yang sedang aktif di wilayah ekuator. Langit Mendung, sebelum hujan. 

Fenomena La Nina ini sendiri sudah terlihat pada bulan Agustus lalu, dimana indeks anomali suhunya berada di angka minus 0,6 persen.

Normalnya fenomena La Nina itu terjadi jika indeks anomali suhunya berada di angka minus 0,5 persen.

Dua bulan lalu (di bulan Agustus) indeks berada di angka minus 0,6 dan September minus 0,9.

Baca Juga: Menjamin Tidak Munculkan PHK dari Pola Penerapan Merger 3 Bank BUMN Syariah

Baca Juga: Diet Air Putih Selama 5 Tahun, tak Makan di Tengah Malam, Lihat Perubahan Tubuh Pelawak Yadi Sembako

"Sementara itu, indeks anomali suhu pada bulan Oktober berada di angka 0,88," ungkap Rima.

Berdasar prediksi dari BMKG pusat, lanjut Rima, kemungkinan terbesar fenomena La Nina akan mencapai puncaknya pada akhir tahun 2020 mendatang. 

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved