Breaking News:

Berita DPRD Penajam Paser Utara

19 Tahun PPU, Jhon Kenedy Terkenang Saat Berupa Kecamatan, Sebut Jasa 7 Tokoh Masyarakat Ini

Ini tidak terlepas dari keinginan yang kuat dari masyarakat agar Kecamatan Penajam dapat ditingkatkan menjadi kabupaten.

Editor: Achmad Bintoro
HUMAS DPRD PPU
PARIPURNA HUT - Suasana rapat paripurna DPRD Penajam Paser Utara (PPU) dalam rangkaian peringatan HUT ke-19 Kabupaten PPU, Kamis (11/3/2021). 

PENAJAM - Rapat Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-19 Kabupaten PPU tahun 2021 di Gedung Paripurna DPRD, Kamis (11/3/2021).

Dalam sambutannya saat paripurna,Ketua DPRD Jhon Kenedy mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada tokoh masyarakat baik yang terlibat langsung maupun tidak langsung, menginisiasi terbentuknya Kabupaten PPU. Ini tidak terlepas dari keinginan yang kuat dari masyarakat agar Kecamatan Penajam dapat ditingkatkan menjadi kabupaten.

"Terbentuknya Kabupaten PPU tidak terlepas dari keinginan yang kuat dari masyarakat agar Kecamatan Penajam dapat ditingkatkan statusnya menjadi Kota Administratif. Keinginan masyarakat tersebut langsung direspons oleh tokoh masyarakat saat itu hingga lahirnya Tim Tujuh," kenang Jhon.

Lebih lanjut Jhon menjelaskan, tokoh masyarakat yang disebut dengan nama Tim Tujuh tersebut yakni adalah Firmansyah, Marjani, Saparuddin, Kamaluddin Sahar, Lamuri Sibolangi, Harinuddin Lambe, dan Darhuddin.

Menurut Ketua DPRD, melalui perjuangan yang panjang dan tanpa lelah dari para tokoh inisiator dan tokoh pejuang pemekaran terbentuknya Kabupaten PPU maka pada 10 April 2002 DPRD-RI dan pemerintah mengesahkan dan menetapkan UU No 7 tahun 2002 untuk pembentukan Kabupaten PPU.

Undang-undang tersebut menjadi yurisdis formal pembentukan kabupaten baru hasil pemekaran Kabupaten Paser dengan nama Kabupaten PPU. Disebutkan Jhon, dalam rangkaian HUT ke-19 Kabupaten PPU termasuk rapat paripurna , semua pihak merasakan perbedaan yang sangat besar dalam perayaan tahun ini karena pandemi Covid-19 belum berakhir.

"Tahun 2020 lalu, HUT Kabupaten PPU masih dapat kita rasakan secara khidmat dan meriah. Namun semenjak Covid-19 mulai masuk ke Indonesia termasuk Kabupaten PPU pada pertengahan Maret 2020, terjadi perubahan pola perilaku dan kehidupan sosial yang sangat elementer dalam bermasyarakat," ujarnya.

Seluruh aktivitas sosial kemasyarakatan, menurutnya, sangat terbatas sebagai akibat memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Protokol kesehatan dituntut untuk selalu dilaksanakan dalam menjalankan seluruh aktivitas kehidupan sehari-hari.

"Seluruh aspek kehidupan, mulai dari pendidikan, dunia kerja, aspek sosial budaya dan bahkan aktivitas keagamaan mau tidak mau harus diubah untuk mencegah dan memutus mata rantai penyebaaran Covid-19," kata dia.

Di akhir sambutanya, Kenedy mengatakan, peringatan HUT-19 kali ini dilakukan secara sederhana dan terbatas tetapi dengan makna yang tetap sama. “Tetap menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Walaupun pola new normal dalam paripurna ini, tidak mengurangi rasa syukurnya dan khidmat,” tambahnya.(advertorial/m15)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved