Berita Bontang Terkini
Smart City di Bontang Sebatas Jargon, Layanan Administrasi Berbasis Digital Baru 20 Persen
Skenario Smart City di Kota Bontang, Provinsi Kalimantan Timur, dinilai hanya sebatas jargon kota. Terbukti, proses pengurusan administrasi
Penulis: Ismail Usman | Editor: Budi Susilo
TRIBUNKALTIM.CO, BONTANG - Skenario Smart City di Kota Bontang, Provinsi Kalimantan Timur, dinilai hanya sebatas jargon kota. Terbukti, proses pengurusan administrasi kependudukan masih butuh waktu berhari-hari.
Hal itu dikemukakan Anggota DPRD Bontang, Baktiar Wakkang pada Jumat (26/03/2021) di Kota Bontang, Provinsi Kalimantan Timur.
Seharusnya, daerah yang dianggap layak dikatakan kota Smart City memiliki pelayanan administrasi kilat, alias tak butuh waktu lama.
Seperti di Surabaya misalnya. Penerapan smart city dalam layanan pemerintahan dilaksanakan secara total. Jika tidak salah, batas maksimal pengurusan izin hanya membutuhkan 8 menit saja.
Baca juga: Pasangan Walikota dan Waawali Bontang Terpilih, Basri Rase-Najirah Dilantik pada 26 April 2021
Baca juga: Lima Tahun Lagi Bontang Alami Krisis Air Bersih, Alternatif 3 Lokasi Sumber Air Masih Tahap Kajian
Terkecuali untuk sejumlah perizinan lainnya, seperti Izin Mendirikan Bangunan (IMB) tentu butuh waktu lebih karena harus diukur manual di lapangan.
"Kalau di Bontang ini buat urus KTP aja masih berhari-hari," ujar Bakhtiar.
Menurutnya, konsepsi kota cerdas perlu ditinjau ulang. Transisi pemerintahan yang baru perlu menerjemahkan gagasan smart city dalam pelayanan prima.
Walikota yang baru sekiranya telah memiliki pengalaman yang cukup. Masa bakti 5 tahun memegang jabatan sebagai Wawakil Bontang menjadi nilai plus untuk meninjau kembali skema kota cerdas.
Tak hanya itu, penguatan konsep ini perlu ditopang dengan anggaran yang bisa memenuhi fasilitas penunjang yang memadai. Agar program ini bisa berjalan secara total.
Baca juga: Penuhi Syarat Bangun Smart City, Pemkab Paser dan Kementerian Akan Teken Nota Kesepahaman
Baca juga: Kembangkan Smart City, Diskominfo Paser Gelar Pelatihan GNS3 Demi Memajukan Teknologi Daerah
Sebab masih banyak kebutuhan peralatan untuk mendukung kegiatan ini. Misalnya, ada beberapa
titik lokasi yang belum terjangkau internet. Sementara penerapan beberapa layanan administari telah berbasis teknologi.
Dikonfirmasi terpisah, Sekretaris Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Bontang, Ririn Sari Dewi menambahkan, kebutuhan perangkat penujang kota cerdas masih sangat minim.
Penerapan layanan berbasis digital baru menyentuh 20 persen cakupan di lingkungan Pemkot.
Dukungan anggaran untuk program kota cerdas juga terlalu minim.
Dari usulan Rp 4,7 miliar tahun ini. Realisasi anggaran hanya digelontorkan Rp 900 juta.
Walhasil, kebutuhan server untuk menopang aplikasi dan layanan masih terbatas. Tak heran smart city masih jadi jargon saat kampanye saja.
"Belum bisa menjangkau sampai ke pulau-pulau sana," ungkap Ririn.
Bagikan Laptop Buat Guru SMP
Berita sebelumnya. Visi 'Smart City' yang dicanangkan pasangan Walikota dan Wakil Walikota Bontang, Neni Moerniaeni-Basri Rase bukan sebatas wacana.
Keduanya serius menyusun langkah taktis untuk mewujudkan gagasan tersebut. Hasilnya, ragam terobosan di bidang pendidikan yang dijalankan mendapat apresiasi di tingkat nasional.
Walikota Neni Moerniaeni dan pasangannya sadar betul meningkatkan pertumbuhan daerah berawal dari peningkatan sumber daya manusia (SDM). Pendidikan menjadi prioritas di masa kepemimpinan Neni-Basri.
Itu bisa dilihat dari dukungan anggaran yang menyasar sektor pendidikan.
Setiap tahun selalu meningkat kendati defisit anggaran, komitmen terhadap pendidikan tetap prioritas. Pada 2016 alokasi belanja program pendidikan sebesar Rp 84,5 miliar, tahun berikutnya Walikota Neni mengerek menjadi Rp 99 miliar.
Alokasi ini diperuntukkan berbagai macam kegiatan. Fasilitas penunjang juga menjadi fokus pembiayaan daerah.
Untuk pertama kali dalam sejarah Kota Bontang, seluruh murid menikmati fasilitas tas, sepatu dan seragam sekolah.
Program bagi paket ini disalurkan merata, mulai tingkat dasar hingga menengah atas. Sekolah negeri dan swasta mendapatkan fasilitas ini, total 38.727 murid menerima fasilitas penunjang secara cuma-cuma.
Baca juga: Paparkan Implementasi Smart City, Bupati: Masyarakat Terbantu Agar Tetap di Rumah Selama Pandemik
"Ini memang impian saya sejak lama, memberikan paket seragam sekolah kepada seluruh murid di Bontang," ujar Neni.
Sukses dengan program tersebut, Walikota Neni kembali meningkatkan fasilitas bagi pelajar di Bontang.
Tahun ini pemerintah mengalokasikan Rp 3 miliar untuk pengadaan seragam batik motif Kuntul Perak.
Namun, peruntukkan seragam ini sementara hanya bagi pelajar baru.
Tak hanya para pelajar, peran guru juga mendapat perhatian Neni-Basri.
Secara bertahap, para guru menerima fasilitas komputer jinjing.
Baca juga: Isran Noor Singgung Smart City Balikpapan di Hadapan Ketua Menteri Sabah, Begini Respon Walikota
Pada 2017, 213 guru SMP menerima fasilitas laptop. Tahun ini, giliran 600-an guru sekolah dasar (SD) yang menerima laptop.
Rencananya, para guru SMA juga bakal menikmati fasilitas serupa. "Barang sifatnya inventaris, jadi setelah tidak terpakai bisa dikembalikan ke daerah," ujar Neni.
Setelah fasilitas untuk pelajar disalurkan, Pemkot Bontang menciptakan program inovatif. Bimbingan belajar untuk pelajar jelang Ujian Nasional (UN).
Program yang disebut Bimbingan Belajar Bontang (Bintang) ini berangkat dari kesadaran Walikota Neni terhadap warga miskin yang tak mampu mengikuti bimbel di luar jam sekolah, lantaran biaya.
Neni-Basri tak ingin dalih biaya mengalang pelajar untuk mengakses pendidikan. Pemerataan akses pendidikan inilah yang mendorong program Bintang dicetuskan.
Para guru-guru terbaik diminta berpartisipasi pada kegiatan ini. Program ini pun mendapat apresiasi dari orangtua murid.
Ramli (45), misalnya, pria yang sehari-hari berprofesi sebagai nelayan berterima kasih kepada pemerintah atas kebijakan ini.
Tak murah bagi pria yang sebulannya rata-rata mengantongi Rp 2 juta ini. Biaya bimbingan belajar terasa mencekik jika dibiayai mandiri.
Namun, Program Bintang ini membantu dirinya dan ratusan orangtua murid lainnya untuk memberikan tambahan ajar bagi anak-anak mereka.
"Alhamdulilah pak, ini memang yang kami harapkan. Karena kalau di sekolah pasti tidak maksimal. Tapi kalau Bintang ini bisa meringankan kami," ungkap Ramli.
Penulis Ismail Usman | Editor: Budi Susilo
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/baktiar-wakkang-sebut-konsep.jpg)