Rabu, 6 Mei 2026

Teror Mabes Polri

Aksi Serangan Bunuh Diri ZA di Mabes Polri Dinilai Amatir, Eks Teroris: ISIS Libatkan Kaum Wanita

Wanita terduga teroris yang melakukan penyerangan di Mabes Polri dinilai sebagai amatir. Zakiah Aini alias ZA (26) pun akhirnya tewas

Tayang:
Kolase TribunKaltim.co
Aksi Serangan Bunuh Diri ZA di Mabes Polri Dinilai Amatir, Eks Teroris: ISIS Libatkan Kaum Wanita 

TRIBUNKALTIM.CO - Wanita terduga teroris yang melakukan penyerangan di Mabes Polri dinilai sebagai amatir.

Zakiah Aini alias ZA (26) pun akhirnya tumbang dan tewas usai ditembak polisi.

Hal itu diungkapkan Deputi VII Badan Intelijen Negara ( BIN), Wawan Purwanto.

Dirinya mengamati cara terduga teroris Zakiah Aini menyerang Mabes Polri.

Dilansir TribunWow.com, hal itu ia sampaikan dalam tayangan Mata Najwa di kanal YouTube Najwa Shihab, Rabu (31/3/2021).

Diketahui ZA menembakkan airsoft gun kepada petugas yang berjaga di pos polisi Mabes Polri, Rabu (31/3/2021), sekitar pukul 16.30 WIB.

Baca juga: NEWS VIDEO Minta Masyarakat agar Tenang dan Tetap Waspada, Jokowi: Tak Ada Tempat Bagi Terorisme

Baca juga: Suka Aksi Heroik, Anggota Polri Ini Bergabung dengan Kelompok Teroris, Kena Cuci Otak Tentang Jihad

Wanita berusia 26 tahun itu kemudian ditembak mati di tempat.

Wawan menganalisis gerak-gerik serangan ZA yang terekam dalam CCTV layaknya penembak amatir.

"Persoalannya bocah ini atau saya katakan masih adik satu ini tidak berlatih menembak dengan pola formasi tempur," kata Wawan Purwanto.

"Dia masih sama sekali tidak mengerti ilmu medan, ilmu perang, dan lain sebagainya," lanjut dia.

Ia menyebut hal itu dapat dilihatnya melalui rekaman CCTV yang menunjukkan detik-detik serangan ZA.

Wawan menduga bahkan pelaku sengaja tidak mencari perlindungan.

Baca juga: Kapolresta Samarinda Cek Kesiapan Personel, Pastikan Perayaan Paskah Bebas Ancaman Terorisme

Baca juga: Rocky Gerung Sorot Teroris Wanita Ditembak Mati di Mabes Polri, Singgung Opini Skenario Dipaksakan

"Iya, betul. (ZA) tidak merunduk di suatu lokasi yang aman, tidak melakukan tiarap, tidak melakukan di gorong-gorong, atau berdiri di balik suatu perlindungan yang cukup," papar Wawan.

"Jadi justru malah menurut saya membiarkan dirinya ditembak," komentar dia.

Wawan membenarkan ada kemungkinan ZA dengan sengaja tahu dirinya akan tewas atau dapat disebut aksi serangan bunuh diri.

Ia memberi contoh dengan menunjukkan bagaimana ZA mengarahkan senjata kepada petugas yang berjaga.

"Ketika berhadapan dengan petugas yang siap itu, dia menodongkan, tidak melesatkan peluru," kata Wawan.

Hal itu semakin membuktikan pelaku bukan orang yang terlatih, apalagi dibandingkan para petugas yang langsung siaga.

"Jadi ini yang menjadi salah satu indikasi bahwa dia belum berlatih secara militer atau pola-pola serang yang semestinya dilakukan sehingga sama sekali tidak ada korban berjatuhan," kata Wawan.

"Di samping itu memang capacity building dari markas atau objek-objek kita itu memang diperkuat, jadi senjata itu melekat. Sehingga ketika ada alarm seperti ini lantas terkepung dia," jelasnya.

Mantan Teroris: ZA Nekat Sekali Sudah Yakin akan Mati

Eks teroris Sofyan Tsauri menanggapi aksi teror yang dilancarkan ke Mabes Polri di Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Dilansir TribunWow.com, hal itu ia sampaikan dalam tayangan iNews, Rabu (31/3/2021).

Diketahui sebelumnya terjadi baku tembak antara petugas dengan terduga teroris bernama Zakiah Aini alias ZA (25), yang kemudian ditembak mati.

Baca juga: Polisi Tembak Mati Terduga Teroris, Eks Jubir FPI Munarman: Terlalu Murah Nyawa Manusia di Indonesia

Baca juga: Terbongkar di Mata Najwa, Lukman Bomber Gereja Katedral Makassar Dinikahkan Teroris, Didoktrin Istri

Sesuai dengan keterangan polisi, Sofyan menilai ZA adalah terafiliasi dengan kelompok militan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).

Ia menjelaskan ada beberapa indikasi yang menunjukkan keanggotaan ZA dalam kelompok tersebut.

"Dilihat dari cara-cara operasinya, kemudian simbol-simbol negara seperti kantor polisi (yang diserang), kemudian aksi lone wolf-nya itu," ungkap Sofyan Tsauri.

"Kemudian yang ketiga adalah melibatkan kaum wanita," lanjutnya.

Menurut Sofyan, cara-cara seperti itu lazim digunakan kelompok ISIS dalam meneror masyarakat.

"Tiga indikasi tersebut membuktikan bahwa ini adalah kelompok yang sama selama ini memakai media wanita atau anak-anak untuk melaksanakan operasi mereka," jelasnya.

Ia juga menyinggung fakta tentang tempat tinggal ZA di Kelapa Dua Wetan, Ciracas, Jakarta Timur.

Menurut Sofyan, Jakarta Timur kerap menjadi basis aksi teror dan lumayan intensif dipantau.

Ia memberi contoh ada beberapa kasus terorisme yang terjadi di kawasan tersebut, seperti penyerangan pos polisi di Kampung Melayu, Jakarta Timur pada 2017 silam.

"Tetapi dari banyaknya yang beredar, terutama nama dan alamat, kalau enggak salah Jakarta Timur, ya. Jakarta Timur ini memang cukup rawan, cukup dipantau," singgung Sofyan.

Sofyan turut mengomentari senjata yang digunakan ZA untuk menyerang polisi, yakni airsoft gun.

Ia meyakini ZA sudah tahu nasibnya akan tewas saat menyerang Mabes Polri, tetapi pelaku tetap nekat.

"Dari senjata yang saya amati memang ini menggunakan air gun kaliber 4,5 yang menggunakan gas CO2 yang memang juga barang ini mudah didapatkan sebelumnya," ungkap Sofyan.

"Analisa saya perempuan ini sangat nekat. Dia yakin dia akan mati," lanjut dia.

"Ya, kita enggak tahu motivasinya apa. Nanti Mabes Polri mem-profiling pengajiannya ikut siapa, jaringannya ikut siapa, nanti akan ketahuan berapa jauh militansi dan sebagainya," tandasnya.

Sementara itu, aksi terorisme di Indonesia, seakan semakin menjadi ancaman.

Tak kala, korban masyarakat sipil pun kerap dilukai.

Dalam kurun sepekan terakhir, dua kali terjadi aksi teror di Indonesia.

Aksi bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar dan penyerangan di Mabes Polri.

Tiga nyawa melayang atas insiden ini.

Ketiganya adalah pelaku itu sendiri.

Sebenarnya, aksi teroris ini dapat dikategorikan sebagai pemahaman di jalan kesesatan.

Menurut Ali Imron, terpidana seumur hidup, kasus bom bali mengatakan, hanya butuh waktu 2 jam bagi dirinya untuk membuat seseorang terpapar paham radikalisme dan melakukan aksi bunuh diri.

Bahkan, Ali Imron menyatakan, anak muda paling mudah menjadi teroris.

Saat ini, pelaku bom bunuh diri di Makassar, Lukman dan Yogi Safitri Fortuna adalah berasal dari kalangan anak muda yang menjadi Teroris Milenial.

Kemudian, aksi teror di Mabes Polri adalah remaja perempuan, Zakiah Aini.

Ali Imron menyampaikan itu dalam wawancara eksklusif dengan Pemimpin Redaksi Kompas TV, Rosianna Silalahi.

Ali Imron membongkar dasar seseorang menjadi teroris adalah jihad fisabilillah.

“Saya ikut pelatihan militer bertahun-tahun di Afganistan adalah dasar jihad,” ujarnya yang dikutip Tribun Timur melalui YouTube Kompas TV dengan judul Hanya Butuh Waktu 2 Jam Untuk Jadi Teroris, Kamis (1/4/2021).

Wawancara Rosianna Silalahi dengan Ali Imron berlangsung 2017 lalu.

Rosianna Silalahi menyampaikan ada 9 persen orang simpati dengan ISIS.

Ali Imron menyampaikan orang punya pemahaman teroris akan terus melakukan gerakan.

“Istilah radikal, ekstrimisis, dan teroris, kalau teroris itu melakukan aksi radikal,” katanya.

Menurutnya, menghadapi aksi terorisme tidak bisa hanya di elite.

Menurut Ali Imron, kaum Milenial Rentan, Cukup 2 Jam Cuci Otak untuk Jadi Teroris

Butuh kerjasama di semua lapisan masyarakat.

Ali Imron mengatakan, anak remaja paling mudah dipahamkan menjadi terorisme.

“Saya hanya butuh 2 jam hingga mereka bisa bunuh diri, saya sampaikan jihad, keutamaan jihad dan hasil jihad adalah mati syahid,” katanya.

Baca juga: TERKUAK Wasiat Teroris Sebelum Serang Mabes Polri di IG & WA, Kapolri Listyo Sigit: Ada Bendera ISIS

Baca juga: NEWS VIDEO Terkuak Wasiat Teroris Sebelum Serang Mabes Polri di IG & WA

Menurutnya, orang yang ikut dengan ISIS mayoritas punya basic jihad.

“Basic dalam alquraan dan sunnah, kita poles. Kita belokkan,” katanya.

Ali Imron sudah khawatir umat Islam akan ikut ISIS.

Ali Imron mengakui sangat dirugikan setelah melakukan aksi bom Bali 2002.

"Saya merasa dirugikan, karena orang Islam dan luar Islam phobia dengan jihad. Padahal Jihad itu adalah menjaga nyawa manusia," katanya. (*)

Berita Nasional Terkini Lainnya
Berita Seputar Aksi Terorisme di Indonesia
Editor: Christoper Desmawangga
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved