Selasa, 12 Mei 2026

Abrasi Sungai di Samarinda

Penanganan Abrasi Sungai di Samarinda Tergantung Pusat, Proteksi Jembatan Mahkota II Terus Berjalan

Pihak Pemkot Samarinda sendiri juga masih menunggu surat Komisi Keamanan Jembatan dan Terowongan (KKJT) Kementerian Pekerjaan Umum

Tayang:
Penulis: Mohammad Fairoussaniy | Editor: Budi Susilo
HO/PT Nindya Karya
Pengerjaan yang dilakukan pihak PT Nindya Karya (Persero) pasca abrasi disusul longsor yang terjadi pada Minggu (25/4/2021) lalu. Kini pihaknya melakukan penanganan sementara sebelum dilakukan  penanganan skala besar yang dikatakan penanggung jawab proyek dimulai pada awal Juni 2021. 

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Hingga saat ini kepastian dibukanya Jembatan Mahkota II Dua belum diketahui.

Pihak Pemkot Samarinda sendiri juga masih menunggu surat Komisi Keamanan Jembatan dan Terowongan (KKJT) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Berkaitan dengan kondisi konstruksi jembatan pasca pylon jembatan yang kabarnya bergeser, serta imbas dari abrasi disusul longsor di pembangunan IPA Kalhol pada Minggu (25/4/2021) lalu.

Upaya penanganan abrasi di bawah jembatan persisnya tepi Sungai Mahakam juga dilakukan.

Baca Juga: Abrasi Sungai Berdampak ke Jembatan Mahkota Dua Samarinda, KSOP Ingatkan Kapal Jaga Jarak

Dinding yang diperkuat di tepi sungai sebagai langkah jangka panjang masih menanti metode yang tepat dari pusat. 

Rensi sebagai Penanggung Jawab Proyek IPA Kalhol PT Nindya Karya membeberkan kembali bahwa penanganan masih bersifat sementara.

Pihaknya juga saat ini tengah mengusulkan peningkatan status gawat darurat untuk mempercepat kegiatan dan mendapatkan suntikan dana dari pusat.

"Sejauh ini, penanganan masih berjalan, yang kemarin menggunakan metode cerucuk galam. Jalan sudah ada dua ribuan (kayu galam) yang terpasang. Proteksi di lereng juga masih terus berjalan," sebut Rensi, dikonfirmasi awak media, Senin (17/5/2021).

Baca Juga: Abrasi Sungai di Samarinda, Penimbunan Nihil Koordinasi, 150 Meter dari Proyek Harus Tiada Bangunan

Pihaknya juga diminta untuk melakukan penanganan jangka pendek.

Kegiatan pengambilan data struktur tanah dan elevasi sungai juga dipercepat. 

Data-data yang dikumpulkan nantinya menjadi dasar guna menentukan metode penanganan jangka panjang yang akan digunakan. 

Data tanah masih berjalan. Untuk boring (tanah) ada lima titik, sudah selesai empat titik.

"Boringnya di sekitar pylon dan area longsor pas lengkungan longsor. Kalau pengambilan data elevasi sungai sudah selesai, tinggal pelaporan. Ini lagi disusun," tegas Rensi. 

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved